Selasa, 27 Agustus 2013

Home » » Tarekat Sanusiyah, Inspirator Perang Paderi dan Diponegoro

Tarekat Sanusiyah, Inspirator Perang Paderi dan Diponegoro

Persamaan busana  yang serba putih merupakan simbol ideologi yang cukup kental  dan kuat pula dalam kalangan Tarekat Sanusiyyah
Oleh: Juftazani *

Mafaza-Online | FEATURE - Tarekat Sanusiyyah adalah tarekat (Ordo Keagamaan) yang lahir bersamaan dengan berbagai tarekat yang diajarkan di Afrika Utara, seperti Tarekat Tijaniyah, Tarekat Mirghaniyah, tarekat Syaziliyah, dan beberapa tarekat lainnya yang merupakan tarekat modern yang dikenal dalam dunia Islam.(1  Sebenarnya jauh sebelum tarekat Idrisiyyah (sebagai pelanjut tarekat Sanusiyyah di Afrika Utara hilang dari peredaran karena kekalahannya dari tiga kolonialis besar – Italia, Inggris dan perancis di tahun 1933)  masuk secara resmi di tahun 1930 di Indonesia, benih-benih tarekat ini telah ada sebagaimana dilaporkan;  Seorang khafilah yang diutus oleh Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi ke Sulawesi Selatan telah mengembangkan tarekat ini di sana.(2  Maka di Sulawesi Selatan sampai hari ini dapat dilihat jejak-jejak tarekat Sanusiyyah, dimana terdapat sekelompok jamaah keagamaan yang memakai pakaian serba putih.(3

Tetapi banyak pula kalangan sejarawan , terutama kaum Orientalis mengatakan bahwa  “Kaum Paderi” yang menghidupkan perang cukup panjang di Minangkabau (1821-1837) diidentifikasi sebagai pengikut  Wahabi (Wahabisme). Pendapat ini  antara lain keluar dari Harry J.Benda yang diungkapkannya pada sebuah seminar  di “Hebrew University”  Yerussalem tahun 1963. Kalangan  lain seperti W.F.Wertheim juga mengatakan hal itu (4  Begitu pula sejarawan Nasional seperti Taufik Abdullah (5 juga memprediksi terma yang sama. Benarkah  Kaum Paderi yang berpakaian putih-putih (berjubah, berselendang  dan bersorban putih) itu  pengikut kaum Wahabi? Mungkin gerakan pembaruan Wahabi waktu itu (1803 - 1813) begitu besar gaungnya dalam dunia Internasional terutama dalam pandangan  politik Kolonial yang mendominasi Dunia Islam yang dijajah oleh Dunia Barat  yang makin mencengkeram  bangsa-bangsa Muslim yang lemah. Tanpa sepengetahuan  kaum Kolonial, ada gerakan yang lebih signifikan  dalam mempengaruhi ideologi  kaum Muslim di bagian dunia lain yang tak terlacak secara jelas siapa sebenarnya Kaum Paderi itu.(6
 


R.S O’Fahey (7 mengutip seorang pengawas administrasi (administrateur) jajahan Perancis di Afrika Utara yang bernama Louis Rinn, menyatakan bahwa tiga (3) orang haji yang baru pulang ke pulau Sumatera pada tahun 1803 yang kemudian memimpin “Gerakan Kaum Putih” atau “Kaum Paderi”, mereka adalah pengikut Ahmad Ibn Ali Sanusi yang lebih dikenal sebagai tokoh Tarekat Sanusiyyah yang bermarkas di Afrika Utara.”Mereka lebih patut dicurigai”, demikian Louis Rinn. Tarekat ini ditakuti oleh kolonial Italia, Inggeris dan Perancis  di wilayah Afrika Utara yang saat itu sedang memperluas wilayah koloninya di bagian utara benua tersebut. Ini disebabkan karena sepak terjang seorang pejuang Sanusiyyah  yang sangat ditakuti dan disegani lawan dan kawan yang dijuluki sebagai “The Lion Of Desert” bernama Omar Mokhtar. Tokoh besar dan pemberani ini  menemui ajalnya di tiang gantungan  oleh militer Italia di Libya tahun 1930. Namun sebelum syahidnya Omar Mokhtar, ia telah memberi pelajaran yang keras kepada  penguasa Kolonial Italia. Rasa takut tertanam demikian dalam dan  kuat pada tiga kolonialis itu  dan begitu hebatnya perlawanan kaum Sanusiyyah hingga menimbulkan kerugian sangat banyak korban jiwa di pihak kolonial, terkurasnya kas negara-negara tersebut (terutama Italia) dalam menumpas gerakan Sanusiyyah yang sangat legendaris itu.              

Rinn (8  menambahkan, pada paroh pertama abad 19  (tepatnya pada 1820) itu , selain tiga haji yang pulang ke Sumatera Barat patut pula diidentifikasi tiga haji yang pulang ke kerajaan Mataram dan Mangkunegaran di Pulau Jawa. Mereka dicurigai pula sebagai pengikut Sanusiyah. Jika yang terakhir ini diidentifikasi secara lebih rinci dan detail, berarti mereka itu para pejuang yang ada di wilayah Jawa Tengah pada awal abad 19, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Merujuk hal ini tak pelak lagi , bahwa mereka adalah Kiyai Maja dan Sentot Ali Basya dan beberapa temannya yang tergabung dalam pemberontakan besar tanah Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.  Mungkinkah haji-haji yang pulang  ke tanah Jawa itu Kiyai Maja, penasehat spiritual Pangeran Diponegoro serta Sentot  Ali Basya, panglima perang Diponegoro yang cukup liat dalam berbagai peperangan melawan penjajah Belanda dalam Perang Jawa (lebih dikenal kalangan sarjana Barat sebagai “Java Orlog”) mengikuti militansi induk gerakan mereka di Afrika Utara?

Seragam Putih-Putih Sebagai Ciri Khas
                    
  Jika kita saksikan ketiga golongan ni, Kaum Sanusiyyah di Afrika Utara, Kaum Paderi  di Sumatera Barat dan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (9 : pakaian (kostum) yang mereka kenakan tidak berbeda, bahkan persis serupa tanpa ada perbedaan signifikan  di antara ketiga kelompok yang dipisahkan oleh wilayah geografi yang lumayan sangat jauh ini.(10  O’ Fahey (11  mencirikan pakaian jubah, serban dan topi putih serta selendang hijau  dan juga berjenggot  merupakan ciri khas Kaum Tarekat Sanusiyah di Afrika Utara. Taufik Abdullah dalam bukunya yang sama di atas (1987) juga mencirikan  pakaian serba putih dan selendang hijau dan jenggot sebagai ciri-ciri  kaum Paderi Di Sumatera  tahun 1821 - 1837. Perang Diponegoro yang pecah lebih kemudian (1825 – 1830)  dari Perang Paderi memperlihatkan kesamaan kostum (pakaian) dengan apa yang dikenakan oleh Pasukan Pangeran Diponegoro, terutama Sentot Ali Basya, Kiyai Maja dan Diponegoro sendiri dan para pengikunya, yang setiap dalam peperangan selalu memakai pakaian jubah, berpeci dan berserban putih serta berjenggot.         

Kekhasan berpakaian serba putih dan berjenggot makin memperkuat bahwa ketiga kelompok ini merupakan satu kesatuan dalam Tarekat yang sama. 

Sebab jarang kita temui pada gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda di tanah air yang pasukannya berseragam serba putih-putih sebagaimana kita temukan pada pasukan Imam Bonjol (kaum Paderi) dan Diponegoro. Kita lihat perlawanan  bangsa Ambon yang dipimpin oleh Pattimura, juga perlawanan Aceh di tanah Rencong yang dipimpin  oleh Teuku Umar, Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro dan Cut Nyak Dien. (12  Demikian juga perlawanan rakyat Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII, dan daerah lainnya, hampir semua mereka berpakaian adat. Walaupun perlawanan rakyat Aceh disokong  oleh semangat kaum Tarekat Naqsyabandiyah dan Syattariyah dan tarekat lainnya yang dominan dianut masyarakat di Aceh. Tapi mereka tak terlalu dikenal memakai pakaian serba putih, walaupun dalam penelitian penulis, bahwa pakaian serba putih dalam Perang Aceh sangat biasa dan sering dipakai mujahid-mujahid Aceh. Belanda selalu menutupi kenyataan dan fakta ini, sehingga yang terekpos ke luar, bangsa Aceh berperang menentang Belanda lebih banyak memakai kostum (berpakaian) adat. Demikian juga masyarakat Banten yang mengadakan pemberontakan tahun 1888 yang diilhami oleh Tarekat Naqsyabandiah yang dominan di daerah ini. Namun mereka juga tak dikenal  memakai pakaian khas serba putih tersebut, kecuali pada kiyai/ syekh yang memimpin pemberontakan itu secara langsung. Begitu juga perlawanan di daerah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusatenggara dan daerah lainnya, jika ada yang berkostum putih-putih bukan dalam jumlah signifikan sebagaimana kaum Paderi dan Diponegoro.          

Tidak kita temukan pasukan (mujahid) yang berkostum serba putih secara komunal di wilayah lainnya di Indonesia,  atau  di wilayah Asia dan Afrika  kecuali pada pengikut Kaum Tarekat Sanusiyah (13  yang merupakan kelompok Tarekat paling solid melawan kaum Kolonial selama dunia terkembang. Adanya haji-haji  yang pulang ke Asia Tenggara (Sumatera dan Jawa) yang dicurigai oleh Louis Rinn, administrateur  jajahan Perancis di Afrika Utara , diperkuat oleh keponakan Ahmad Ibn Idris yang memimpin Tarekat ini di Mesir. (14
 

Begitu bangga dan Percaya Diri (PD)nya mereka (kaum Paderi/Imam Bonjol, pasukan Diponegoro, sebagian rakyat Aceh) (15 yang berperang dengan berpakaian putih-putih lengkap sebagaimana para pengikut Sanusiyah yang Agung di abad 19 di Afrika Utara. Dari berbagai gerakan pembaruan Islam di seluruh Timur Tengah (Asia Barat) yang diilhami oleh Ibnu Taimiyah (di abad 15, kemudian Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Gerakan Wahabi dan Gerakan Sanusiyyah, hanya Gerakan Sanusiyyah-lah yang melakukan pembaruan pemikiran yang dipadukan dengan gerakan aktifitas di lapangan dengan memakai kostum yang selalu dipakai oleh (mirip) nabi Muhammad dan pengikutnya di Tanah Hijaz di abad ke 7 Masehi.   Mungkinkah Kaum Paderi  dan juga Kaum Diponegoro sebagai kaum Wahabi?           

Kita perlu mengutip pendapat Schrieke seorang Gubernemen Jenderal Belanda untuk wilayah Sumatera di abad 19. Schrieke mengatakan : ”Gerakan Paderi bukanlah gerakan Wahabi, mereka Minangkabau (baca: gerakan keagamaan lokal) dalam segala tindak tanduknya .”  (16         

Taufik Abdullah sendiri secara tak langsung menyangkal  ke-Wahabian kaum Paderi sebagai ia tulis: ”Banyak tindakan radikal Wahabi seperti yang terdapat di tanah Arab yang tidak diikuti oleh golongan Paderi sebagaimana ia (Taufik Abdullah)  kutip  dari Ronkel. Bahkan pada tahun 1830 itu para haji yang pulang ke tanah air (Sumatera dan Jawa) itu mengatakan bahwa: “Faham Wahabi  sudah tidak diterima  lagi oleh kebanyakan  umat Islam di Makkah dan tanah Arab.” Ini mungkin disebabkan  oleh karena kemenangan Kaum Wahabi di tanah Arab lewat Ghalib (Panglima Perangnya) hanya bertahan selama 30 tahun. Setelah itu  pasukan suku Arab Badui dari pedalaman  (padang pasir Nejed) yakni keluarga Sa’ud  menggulingkan kekuasaan Wahabi. Taufik Abdullah mengatakan (mengomentari) tentang kemenangan keluarga Sa’ud  dan kekalahan kaum Wahabi ini: Diperlukan waktu 100 tahun  bagi Wahabi untuk merebut kembali kekuasaan mereka yang terlepas di kota Makkah dan seluruh jazirah Arabia saat itu.”  (17  Namun, dalam politik keluarga Sa’ud, mereka (Raja Sa’ud dan Petinggi Kerajaan) tidak mencampakkan gerakan keagamaan kaum Wahabi keluar negara itu, justru mengadopsinya menjadi ideologi keagamaan penguasa Bani Sa’ud. Setelah kalah pada tahun 1813, pada tahun 1924 keluarga Sa’ud mengikutsertakan kaum Wahabi sebagai menteri penerangan dalam pemerintahannya.  Sehingga kekuasaan kaum Wahabi akhirnya terbatas dalam mengurus masalah-masalah agama saja.          


Dari gambaran di atas terlihat kelemahan pendapat yang mengatakan bahwa Kaum Paderi atau Kaum putih di Sumatera Barat merupakan pengikut Wahabi.

Agaknya pendapat bahwa Kaum putih  di Sumatera Barat (juga kelompok Diponegoro] merupakan pengikut Sanusiyah memberi penguatan  terhadap pendapat Louis Rinn dan Schrieke. Walaupun Schrieke tak menegaskan bahwa mereka Sanusiyyah dalam gerakannya. Sebagai bukti bahwa mereka satu-satunya  konsolidasi antara dua pasukan umat Islam yang berperang di tanah air secara kompak dan signifikan bagi perlawanan kaum agamis nasionalis di tanah air hanyalah antara pasukan Paderi dan Pasukan Diponegoro. Sentot Ali Basya yang dikirim kolonial Belanda untuk diperbantukan memadamkan pemberontakan kaum Paderi di Sumatera Barat, malah menyatukan pasukannya dengan pasukan musuh yang diperintah Belanda melawannya (pasukan Tuanku Imam Bonjol). Belanda memandang pasukan Sentot sebagai pengkhianat Belanda secara mengejutkan. Sebab, dalam sejarah perang Kolonial di Indonesia, belum pernah ada konsolidasi dua pasukan yang diadudomba Belanda dalam jumlah besar sebagaimana antara pasukan Imam Bonjol (Paderi) dan Diponegoro tahun 1835. 

Peristiwa ini cukup memusingkan kolonial Belanda pada saat itu, selain perang Diponegoro dan Paderi merupakan perang yang sulit, ditambah dengan kondisi perbendaharaan  keuangan negeri Belanda saat itu, yang  terkuras habis untuk memadamkan pemberontakan Diponegoro selama lima tahun. Penyatuan (Konsolidasi) antara pasukan Diponegoro dan Imam Bonjol (Kaum Paderi)  di Sumatera Barat merupakan bukti tak terbantahkan  bahwa mereka  berasal dari satu aliran Tarekat yaitu Tarekat Sanusiyah, sebagaimana pernah dicurigai dan dianalisis  oleh Louis Rinn di Afrika Utara.

Perbedaan Ideologi Gerakan Sanusiyyah Dan Wahabi

Perbedaan esensial antara Sanusiyyah dan Wahabi baik filsafat dan pandangan keagamaan dan politik kedua golongan ini kian memperjelas posisi Kaum Paderi dan Diponegoro sebagai pengikut  Sanusiyah. Kaum Tarekat Sanusiyyah  (atau Idrisiyah)  tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sementara kaum Wahabi sebaliknya, mereka menghalalkan  segala cara untuk mencapai tujuan mereka, terutama  tatkala mengadakan penyerangan  ke kota Makkah  dan penyebaran ajaran-ajaran Wahabi sepanjang 1803 - 1813.

Dalam penyerangan itu semua  lawan politik mereka  dan semua yang mereka anggap menentang  dan menghalangi  langkah dan gerakan Wahabi, mereka dianggap kafir dan berhak dibunuh. Tindakan ini mendapat kecaman  sangat keras  dari Ahmad Ibn Idris, pemimpin Gerakan Tarekat Sanusiyyah yang pada saat itu berada di Makkah setelah kemenangan Wahabi.          

Dalam hal yang sama, praktik kaum Wahabi dipraktikkan pula oleh kaum Tua (Kaum Tuo) di Sumatera Barat yang menyebarkan Islam sebelum Kaum Paderi menjalankan  dakwah mereka di Sumatera Barat (Minangkabau). (18 Kaum Tua (pengikut Wahabi) ini membunuhi mereka yang tak menerima  kebenaran Islam termasuk orang-orang  tua yang masih suka mengadu ayam, merokok, berjudi di Minangkabau  waktu itu. Sikap Kaum Tua (kaum Wahabi yang keras dan rigid)  ini mendapat protes keras  dari Kaum Paderi yang dipimpin Syarif Peto (Tuanku Imam Bonjol). Dengan demikian praktek Kaum Wahabi (Kaum Tua) di sumatera Barat, sama-sama keras  dan tak memiliki    tenggangrasa  terhadap lawan politik maupun masyarakat yang mau didakwahi mereka dengan kaum wahabi di tanah Hejaz.
 

Sedangkan Kaum Sanusiyyah, Kaum Paderi dan Pasukan Diponegoro melakukan  sikap keras terhadap orang kafir (yang memerangi mereka), sebagaimana terlihat dari tindak-tanduk Omar Mukhtar terhadap kezaliman dan kekejian praktik penjajahan Itali di bawah jenderal Pietro Badoglio dan Rudolfo Grasiani yang tiada terbayangkan kekejian dan kekejamannya terhadap rakyat muslim di Libya. (19 Begitu pula betapa kerasnya sikap pemberontakan Diponegoro dan tuanku Imam Bonjol yang memimpin perang suci di Minangkabau dan Mangkunegaran (Jawa Tengah).

Sedangkan kaum Sanusi lebih mementingkan ketaatan kepada ajaran al-Quran dan al-Hadits, tidak mementingkan kekuasaan jika kekuasaan itu membawa korban jiwa manusia, serta tidak fanatik mazhab. Sebab mazhab apapun yang muncul dalam Islam, selalu lahir dari dua kitab yaitu Al-Quran dan al-Hadits. (20   Mestinya bukan fanatik mazhab yang lahir dari umat islam, tetapi fanatik terhadap al-Quran dan al-Hadits. Persamaan busana/kostum  yang serba putih merupakan simbol ideologi yang cukup kental  dan kuat pula dalam kalangan Tarekat Sanusiyyah, sehingga dapat dimengerti konsolidasi antara pasukan Diponegoro  yang dipimpin oleh Sentot Ali Basya yang diperbantukan Belanda untuk menumpas  Kaum Paderi, memerlihatkan kesatuan ideologi yang tak dapat dijangkau dengan akal rasional.             

Data-data ini perlu diperbanyak (ditambah) dan perlu pula diadakan penelitian lebih jauh agar tesis ini dapat diterima  kalangan sejarawan nasional maupun internasional. Sehingga gerakan Sanusiyyah yang pernah berjaya di Afrika Utara, ternyata tidak hanya  bergerak di wilayah Afrika Utara dan sebagian Timur Tengah sebagaimana diyakini para sejarawan selama ini.

Sanusiyyah ternyata telah jauh bergerak  dan memperluas  pengaruh dan semangat perjuangan mereka ke seluruh Dunia Islam. Dan ini untuk memberi penegasan bahwa Kaum  Paderi dan Diponegoro bukan pengikut Wahabi, tapi benar-benar pengikut  Sanusiyyah dengan mengemukakan data-data yang telah dikemukakan dalam tulisan di atas. Ternyata Kaum Tarekat Sanusiyyah bukan hanya menggetarkan dunia Kaum Kolonial di Afrika bagian Utara, tapi juga merepotkan serta menggoncangkan  kaum kolonial di Asia Tenggara sebagaimana munculnya Kaum Paderi dan Pangeran Diponegoro  di akhir abad  19 di Hindia Belanda (Indonesia).


Catatan Kaki:
  1. Tarekat Modern di sini dimaksudkan sebagai tarekat yang telah merobah orientasinya dari tarekat klasik yang hanya berorientasikan akhirat semata dan melupakan dunia, kecuali hanya sekadar untuk bertahan hidup. Sedang tarekat modern menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Seperti bagaimana berusaha dan bekerja keras di siang hari (termasuk memikirkan pendidikan formal untuk diri sendiri dan anak-anaknya, mendirikan perusahaan dlsb. Dan ketika malam dipakai untuk beribadah. Dalam kriteria tarekat modern ini, bekerja keras di siang hari juga dikategorikan sebagai ibadah. Perlu diingat tarekat klasik lahir ketika kaum istana di zaman kekhalifahan Umayyah hidup bermewah-mewah dan kalangan sufi menolaknya dengan cara meninggalkan dunia dan fokus pada ibadah yang berorientasi akhirat semata. Tarekat (sufi)  klasik ini seperti tarekat Naqsyabandiyah,Qadiriyah, Syattariyah,   dan banyak lagi yang lahir di jazirah Arabia, Asia tengah, Asia Selatan sampai Asia Tenggara.
  2. Martin Van Bruinessen , The Origin s and Development of Sufi  Order (Tarekat) in Southeast Asia , Studia Islamika, Volume I, No 1 (April-June) 1994) page 19.
  3. Saya mempunyai teman dari daerah ini, dimana orangtuanya penganut tarekat ini di Sulawesi Selatan yang kemudian menetap di Jambi. Ia memakai pakaian putih-putih berjubah dan bersorban ala jamaah Sanusiyyah di seluruh Timur tengah dan Afrika Utara sepanjang abad 19 dan 20. Terlepas apakah peninggalan jamaah tarekat Sanusiyyah ini bergabung dengan tarekat Tijaniyah yang ada di Sulawesi Selatan, karena mereka kehilangan pimpinannya yang berpengaruh.
  4. W.F.Wertheim “Indonesia Society in Transition”  tahun 1969.
  5. Taufik Abdullah, “Islam dan Masyarakat  - Pantulan Sejarah Indonesia”  Terbitan LP3ES 1987.
  6. Siapa yang telah memengaruhi kaum Paderi, sehingga dari situ akan terlihat bahwa kaum Paderi itu apakah gerakan Wahabi atau gerakan Sanusiyyah?
  7. R.S.O’Fahey   “Enigmatic Saint – Ahmad Ibn Idris and The Idrisi Tradition” New York 1987
  8. RS O Fahey, 1987
  9. Dalam perang Aceh juga ada laporan yang menyatakan bahwa para pejuang perang Sabil di Aceh pun sering terlihat berpakaian putih-putih, bersorban, bertopi putih dalam penyerangan terhadap posisi kolonial Belanda di tahun 1873 – 1910.(penulis)
  10.Antara gerakan Sanusiyyah di Libya (Afrika Utara) dan pulau Sumatera dan Jawa, dimana Imam Bonjol dan gerakan Diponegoro berpusat.
  11.RS O’Fahey  - 1987
  12.Pengecualian, untuk daerah Perang Aceh, para pemimpin perang di Tanah Rencong tidak ada yang terinspirasi oleh gerakan Sanusiyyah yang sedang marak di saat berkobarnya Perang Aceh. Dari laporan-laporan yang penulis dapat dari berbagai sumber, bahwa terdapat rakyat Aceh yang berpakaian putih-putih, bersorban, berjenggot dan jika shalat memakai selendang hijau sebagai ciri khas tarekat Sanusiyyah. Bukti-bukti ini meperlihatkan bahwa inspirasi perlawanan tarekat Sanusiyyah baru dapat ditangkap oleh rakyat Aceh yang kebetulan melaksanakan haji di Baitullah di tahun-tahun 1873- 1910.
  13.Ini menjadi cirri khas kaum Paderi dan Diponegoro di Indonesia, yang besar kemungkinan afiliasi dari kaum Sanusiyyah di Libya, dan wilayah lainnya di Afrika Utara.
  14.Laporan keponakan Ahmad Ibn Idris itu ditulis di Mesir dalam sebuah buku yang berjudul :”Al-Muntaqa al-Nafis.” Keponakan Ahmad Ibni Idris ini juga menuliskan ada nya haji-haji yang baru pulang ke Sumatera dan Jawa(Hindia Belanda) yang merupakan pengikut Sanusiyyah.
  15.Penulis juga meprediksi bahwa selain Gerakan Perlawanan Imam Bonjol dan Diponegoro, Gerakan Sanusiyyah juga mengilhami rakyat Aceh dalam Perlawanan menentang Belanda dari tahun 1873 sampai 1910. Ini terbukti dari beberapa kelompok para pejuang Aceh yang memakai pakaian putih-putih sebagaimana halnya gerakan Imam Bonjol dan Diponegoro.
  16.Taufik Abdullah, Opcit LP3ES, 1987
  17.Taufik Abdullah, 1987,
  18.Perlu diingat bahwa petentangan kaum adat dan kaum agama di Sumatera Barat didahului oleh dakwah kaum tua (Pengikut kaum Wahabi) yang memperaktikkan hukum yang sangat keras seperti membunuh kaum adat, yang tidak menjalankan agama secara kaafah, menghukum keras orang yang berjudi, menyabung ayam, merokok dan makan sirih dlsb. Tetapi di kemudian hari, datang kaum muda yang berpakaian putih-putih yang berdakwah secara lebih lembut dan tidak keras dan kaku sebagaimana kaum tua. Kalangan sejarawan sering mencampurkan/menutupi dakwah gerakan kaum Paderi yang sangat keras, memvonis hukum bunuh kepada kaum adat yang tak menjalankan agama secara kaafah. Padahal yang menjalankan praktek semacam itu bukan kaum Paderi, tetapi kaum Tua yang mendahului kedatangan kaum Paderi. 
  19.Dalam menumpas Gerakan al-Sanusi di Libya, Pietro Badoglio dan Rudolfo Grasiani melakukan praktek bumi hangus kampung-kampung rakyat Muslim dengan menyerang (membom) dengan pesawat, mengumpulkan rakyat dalam satu kamp konsentrasi, membunuh tanpa pandang-bulu, orangtua, anak-anak dan perempuan.
  20.Seringkali Syekh (pemimin/Mursyid) tarekat Sanusiyyah seperti Ahmad ibn Idris, Ahmad Ibn Ali Sanusi, menunjukkan bahwa umat Islam sering keliru memegang pesan al-Quran dan Hadits, bahwa yang perlu difanatikkan itu adalah dua kitab ajaran tersebut. Sedangkan faham (mazhab) yang lahir dari pemahaman dua kitab (Al-Quran dan al-Hadits) tidak perlu difanatikkan. Karena sumber dari segala mazhab tersebut adalah Quran dan Hadits. Dalam pandangan Syekh Ahmad Ibn idris dan mursyid berikutnya, semua aliran mazhab umat islam dapat disatukan dan dijadikan pedoman oleh semua umat islam, sebagaimana semua mazhab itu keluar dari al-Quran dan Hadits.Tarekat Sanusiyyah sebagai kasus belli, menganut 49 mazhab. Ke 49 mazhab itu dapat dipraktikkan secara tidak linier ketika seorang murid (penganut) Tarekat Sanusiyyah berada di berbagai daerah yang berbeda-beda iklimnya. Sebagai contoh seorang bermazhab Syafi’i yang berada di  tengah banyak orang yang thawaf, lalu seseorang merasa batal wudhunya. Jika ia konsisten pada mazhab  yang dianutnya (Syafi’i), ketika ia bersinggungan kulit dengan seorang wanita, ia akan memulihkan wudhunya di tengah keramaian yang berdesak-desakan dan wilayah yang minim air. Ini tidak mungkin, agar ibadah hajinya sempurna, ia harus memakai mazhab Hanafi, dimana jika terjadi persinggungan kulit antara laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu.  Kita harus konsisten terhadap dua kitab pedoman agama, yaitu  al-Quran dan Hadits di atas segala mazhab dan berlaku fleksibel (tidak kaku dan rigid). Umat Islam yang berfikiran sempit saja yang selalu direpotkan oleh konsistensi terhadap satu mazhab, tetapi tidak melihat sumber segala mazhab itu adalah al-Quran dan al-Hadits.
_________________________________________
Daftar Pustaka:
1.    Martin Van Bruinessen , The Origin s and Development of Sufi  Order (Tarekat) in     
       Southeast Asia , Studia Isllamika, Volume I, No 1 (April-June) 1994).  
2.    Nicola A.Ziadeh, “SANUSIYAH – A Study Of A Revivalist Movement In Islam”.  E.J.Brill, Leiden 1983.
3.     R.S.O’Fahey   “Enigmatic Saint – Ahmad Ibn Idris and The Idrisi Tradition”.New York 1987
4.    Taufik Abdullah, “Islam dan Masyarakat  - Pantulan Sejarah Indonesia”  Terbitan LP3ES 1987
5.    W.F.Wertheim “Indonesia Society in Transition”  tahun 1969.

* Juftazani,  pemerhati masalah politik keagamaan, juga seorang penyair, novelis dan penulis opini. Novel pertamanya telah selesai yang berjudul “TANAH PERLAWANAN” sebuah novel yang berbicara tentang perang Aceh. Sekarang sedang meneruskan penulisan seri ke 2, “TANAH PERLAWANAN”.  Ia lulusan sarjana muda IAIN (sekarang UIN) Sunan kalijaga Yogyakarta 1988, dan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Banten – Tangerang, Jakarta 2008.Naskah ini direpresentasikan dalam dikusi Kelompok Diskusi Mahasiswa Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan (LSIK) Ciputat, pada 31 Agustus (tempat diskusi LSIK yang baru)  di sekretariat  al-Hakim jalan SEMANGGI II – dekat pemakaman umum UIN – Ciputat. Bagi yang berminat mengikuti diskusi ini bisa menghubungi saudari Fikria, ketua LSIK Ciputat, nomer Hp 0898928225, saudara Duha, Dewan Penasehat LSIK, nomer hp 089637091658 .
Sumber: 

RimaNews.Com
Share this article :

+ komentar + 1 comment

22 Juni 2017 01.27

Subhanallah
Alhamdulillah
Allahuakbar

Terimakasih Danu Sanjaya atas Komentarnya di Tarekat Sanusiyah, Inspirator Perang Paderi dan Diponegoro

Posting Komentar