Jumat, 09 Agustus 2013

Home » » Freeport Siapkan Tambang Bawah Tanah Terbesar Dunia di Papua

Freeport Siapkan Tambang Bawah Tanah Terbesar Dunia di Papua

Selama ini 70 persen dari permukaan, 30 persen dari underground (bawah tanah). Inginnya nanti 100 persen dari underground

Mafaza-Online.Com | Jakarta - PT Freeport Indonesia menyiapkan pembangunan tambang bawah tanah terbesar di dunia. Panjang terowongan tambang bawah tanah itu mencapai 1.000 km. Investasi yang dibutuhkan sebesar US$ 9,8 miliar dalam jangka waktu 2012-2021.

"Sejak tahun 2012-2021 kita berencana investasi US$ 9,8 miliar untuk persiapan tambang di bawah tanah," ujar Presiden Direktur Freeport Indonesia Rozik Sutjipto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (5/7/2013).

Menurut Rozik, pada tahun ini pihaknya sudah melakukan investasi US$ 1 miliar untuk pembangunan terowongan tersebut. "Saat ini sudah dibuat 400 km, tapi ini bentuknya tidak memanjang, tapi melingkar," jelasnya.

Rozik menyatakan, pembangunan tambang bawah tanah ini untuk menambah cadangan emas. Menurutnya, cadangan emas di tambang terbuka Papua akan habis hingga tahun 2016. Selama ini pasokan cadangan emas Freeport berasal dari permukaan.


"Selama ini kita 70 persen dari permukaan, 30 persen dari underground (bawah tanah). Kita inginnya nanti 100 persen dari underground," jelasnya.

Lewat dibangunnya tambang bawah tanah ini, lanjut Rozik, cadangan emas Freeport yang sebanyak 2,5 miliar ton dapat bertambah, sehingga cadangannya baru akan habis hingga tahun 2057, atau beberapa tahun setelah kontrak Freeport yang rencananya diperpanjang habis pada tahun 2041. Kontrak Freeport yang pertama akan habis pada tahun 2021 nanti.

"Cadangan yang nanti kami miliki cukup sampai dengan 2057. Jadi pos Freeport bisa diteruskan kalau diperpanjang 2041," jelasnya.

Untuk itu, Rozik mengharapkan pembahasan perpanjangan kontrak Freeport di Papua bisa diselesaikan secepatnya karena hal ini menyangkut rencana investasi perusahaannya.

"Padahal kontrak kami habis di 2021 pertama. Kami tidak bisa berhenti berinvestasi. Kalau berhenti nanti bisa tidak ada produksi. Dalam waktu 3 bulan bisa menyelesaikan masalah ini karena ini seperti menentukan iya atau tidak," jelas Rozik. (Detik.com)
Share this article :

Poskan Komentar