Rabu, 14 Agustus 2013

Home » » Anjuran Menikah di Bulan Syawal

Anjuran Menikah di Bulan Syawal

Seperti kata pepatah Betawi, Ikan bawal diasinin, bulan Syawal dikawinin

Mafaza-Online.Com | MAFAZAPEDIA -  Tak hanya Betawi, tapi juga di Palembang  menikah pada bulan Syawal telah membudaya. Demikian pula di Jawa, dan beberapa daerah di tanah air, para orangtua menikahkan anaknya di bulan Syawal.  Seperti kata pepatah Betawi, Ikan bawal diasinin, bulan Syawal dikawinin.

Menikah pada bulan ini memang sangat dianjurkan. Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan :

Telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb -dan lafazh milik Zuhair-, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Wakii', telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Ismaa'iil bin Umayyah, dari 'Abdullaah bin 'Urwah, dari 'Urwah, dari 'Aaisyah -radhiyallahu 'anha-, ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam menikahiku pada bulan Syawwaal dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawwaal, maka tidak ada diantara istri-istri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam yang memiliki keberuntungan dibanding diriku." Perawi berkata, "Dahulu 'Aaisyah menyukai menikahkan para wanita pada bulan Syawwaal."

(Shahiih Muslim no. 1425)

Ibnul Mandzur berkata, "Syawal adalah salah satu nama bulan yang sudah ma'ruf, yakni nama bulan setelah bulan Ramadhan, dan merupakan awal dari bulan-bulan haji." Ada juga yang berpendapat, jika dikatakan Tasywiil Labnil Ibil (syawwalnya susu onta), berarti susu onta yang tinggal sedikit atau berkurang. Begitu juga onta yang berada dalam keadaan panas dan kehausan. Dari sini bangsa Arab berkeyakinan, bakal sial apabila melangsungkan akad pernikahan pada bulan ini. Mereka berkata, “Wanita yang hendak dikawini itu akan menolak lelaki yang ingin mengawininya seperti onta betina yang menolak onta jantan jika sudah dibuahi/bunting dan mengangkat ekornya.”

Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membatalkan anggapan sial mereka tersebut dengan menikahi istri tercintanya, 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan ini. Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata,


“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawwal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” 

(HR. Muslim no. 2551, Al-Tirmidzi no. 1013, Al-Nasai no. 3184, Ahmad no. 23137 –dinukil dari Maktabah Syamilah-)

Maka yang menyebabkan orang Arab pada zaman jahiliyah dulu menganggap sial menikah pada bulan syawal adalah keyakinan mereka bahwa wanita akan menolak. Mereka terbayang  penolakan onta betina yang mengangkat ekornya setelah dibuahi/bunting. Jadi, mereka menganggap akan sial bila menikah pada bulan ini. Keyakinan batil ini adalah anggapan yang tak berdasar dan tidak dibenarkan oleh syariat maupun akal akal sehat.

Merasa sial termasuk thiyarah yang telah dilarang oleh Nabi saw melalui sabdanya, Imam Ibnu Katsir berkata, "Berkumpulnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan Syawal menjadi bantahan akan keraguan sebagian orang yang membenci untuk menikah/berkumpul (dengan pasangannya) di antara dua hari raya, takut/khawatir keduanya akan bercerai. Hal ini tidak ada kaitannya." (al-Bidayah wa al-Nihayah: 3/253)

Tujuan 'Aisyah ra menyampaikan hadits di atas, -beliau dinikahi dan digauli oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada bulan Syawal-, sebagai bantahan tradisi bangsa jahiliyah dan keyakinan orang awam pada saat ini yang tidak suka menikah, menikahkan, dan berkumpul pada bulan syawal. Ini merupakan keyakinan batil yang tak berdasar. Bahkan, termasuk warisan jahiliyah. Dimana mereka meramal kesialan menikah pada bulan tersebut karena nama Syawal berasal dari kata al-Isyalah wa al-raf'u (mengangkat : onta betina yang mengangkat ekornya karena tidak mau dikawin). (Lihat Syarh Muslim atas hadits di atas, no. 2551)

Dalam hadits di atas juga terdapat satu anjuran untuk menikah, menikahkan anak wanitanya, dan melakukan malam pertama pada bulan syawal. Alasanya, disamping ada usaha ittiba' pada Nabi saw  yang menikah dan menggauli istri tercintanya pada bulan tersebut, juga sebagai bantahan dan penolakan akan keyakinan batil jahiliyah yang sudah pernah berjalan bertahun-tahun.

Imam Nawawi rahimahullah dalam menjelaskan hadits Aisyah di atas berkata, "pada hadits hadits itu terdapat anjuran menikahkan, menikah (wanita) dan berkumpul/menggauli pada bulan Syawwal dan shahabat-shahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka berdalil dengan hadits ini."

Urwah –salah seorang perawi hadits 'Aisyah di atas-, mengatakan,

"Adalah Aisyah menyukai jika suami mulai menggauli istrinya (melakukan malam pertama) di bulan Syawal." (HR. Muslim)

Membenci untuk menikah, menikahkan, dan malam pertama di bulan syawal karena takut dan khawatir sial/celaka berdasarkan mitos dan keyakinan tertentu termasuk syirik. . .

Sekarang bulan Syawal, maka yang mau menikah bulan ini sangat dianjurkan –jika ingin meniru Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam dan 'Aaisyah radhiyallahu 'anha. Walaupun begitu, jika ingin menikah di bulan yang lain pun tetap tidak masalah. (Eman Mulyatman)

Allaahu a'lam.  
Share this article :

Posting Komentar