Senin, 24 Juni 2013

Home » » Revolusi Sampah

Revolusi Sampah

Agar tak tergilas zaman, umat Islam harus bangkit. Mulailah dari yang kecil seperti, kebersihan. Orang yang biasa bersih badannya, jiwanya pun bersih. Bersih-bersih agar tidak membusuk, tidak jadi sampah revolusi!

Oleh Ir Aunur Rofiq*


Hal-hal yang tampak remeh dan luput dari perhatian namun berdampak tidak kecil adalah: Masalah Kebersihan. Padahal tuntunannya jelas, Ana dzofatu minal iman, kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi tidak lengkap iman seseorang bila dia tidak menjaga kebersihan.

Inilah realita yang terjadi, kalau ada pertemuan-pertemuan umat Islam, kerap menyisakan ceceran sampah. Kejadian ini tak hanya untuk even besar seperti di Gelora Bung Karno, tapi juga di masjid-masjid kampung.  Kenapa tidak ada terlintas kesadaran, buang sampah sembarangan itu dosa.

Pemandangan rutin saat usai shalat Idul fitri, sampah plastik dan koran pun berserakan. Kenapa yang di bawa pulang sajadah saja, kenapa sampahnya ditinggalkan. Lebih bagus, sampah itu masukan saku, lalu buang ke tempatnya. Jadi, semua orang bertanggungjawab atas sampahnya sendiri. Seharusnya panitia menyediakan pasukan pembersih. Panitia harusnya mengarahkan, ke mana sampah dibuang.

Sekarang ini sampah sudah jadi problem besar. Di Jakarta, orang kebingungan buang sampah ada tanah kosong langsung buang. Tak peduli tanah itu milik siapa dan tak peduli apa akibatnya. Ada orang naik mobil mewah, tapi begitu makan rambutan, kulitnya dibuang lewat jendela. Apakah jalanan itu, tempat sampah yang besar? Mobilnya saja yang mewah, tapi sungguh naif, bawa sampahnya sendiri saja tidak sanggup.

Sayangnya untuk masalah kebersihan ini kita harus mencontoh ke negara-negara non muslim seperti  Eropa, Jepang atau Singapura. Di bandara, selesai makan sampahnya dia bersihkan sendiri. Beda dengan di Indonesia, yang terlalu  mengandalkan petugas kebersihan. “Biar saja kotor, bukan milikku, nanti juga ada yang membersihkan!” begitu kira-kira pikiran mereka.

Revolusi Kebersihan

Padahal kalau kita mau mengadakan perubahan, reformasi atau revolusi sekalipun pun, tidak usah jauh-jauh mulai saja dari diri sendiri. Kalau orang sudah terbiasa melakukan tindak kebersihan, nanti prilakunya teratur, pikirannya jernih. Inilah makna hadits Ana dzofatu minal iman, kebersihan sebagian dari iman. Jadi bersih diri dalam arti luas akan berpengaruh ke lingkungan akan berpengaruh ke mental. Pada lanjutannya akan menjadi Etos hidup masyarakat. Contoh Jepang, orangnya bersih prilakunya bersih. Singapura awalnya dengan sanksi tapi akhirnya jadi prilaku.

Mari hidup bersih, kita memulai perbaikan ini dari diri sendiri lalu keluarga. Anda punya anak istri, ajari mereka buang sampah tidak sembarangan. Kepada Kiai dan Ustadz juga harus menggalakkan gerakan bersih ini. Tidak hanya masalah akhirat melulu. Lingkungan hidup kita akan menjadi enak, karena bersih. Tidak ada bau yang menyengat yang membuat kusut pikiran. Orang tidak buang air kencing sembarangan seperti guguk (anjing-red).

Tengok Sejarah Islam, Banten misalnya. Di kerajaan Islam sanitasi menjadi sebuah tata kota yang indah, nyaman dan menyelamatkan. Tak hanya kerajaan, di kampung-kampung Islam, air comberan pun tak sembarangan. Di rumah orang buang air kecil pun ada aturannya.  Sebelum shalat harus berwudlu, makanya air jadi kebutuhan. Pasti cari air bersih, masak comberan buat wudlu. Ini adalah contoh nyata, dari yang kecil, tapi menjadi gerakan yang besar.

Menteri Negara Kelestarian Lingkungan Hidup dan pegiat cinta alam cobalah buat program prilaku bersih, misalnya, tidak meludah sembarangan. Dari yang kecil kalau terus digulirkan akan menjadi peradaban. menjadi pola pikir jadi mentalitas. Dengan sendirinya prilkau kotor, seperti korupsi akan hilang.

Semua kalau memperhatikan kebersihan akan selamat, karena lingkungan akan sehat. Banjir dan penyakit itu karena sampah dan kotor. Umat Islam diajarkan untuk bersih dan suci. Kalau suci sudah pasti bersih, kalau bersih belum tentu suci.

Jagalah Kebersihan! Harus selalu diingatkan dan tak ada salahnya jadi aturan yang lengkap dengan sanksinya. Jangan segan-segan untuk mengingatkan diri Anda sendiri tentang kebersihan. Jadi mulai dari diri sendiri hasilnya lebih baik. Kecuali saya ini Bupati, maka saya bisa memerintahkan, bisa membuat aturan tentang sampah.  Sebagai Muslim Anda tentu masih ingat, kalau belajar fiqih, selalu diawali dengan Bab Thaharah. Kalau Anda ingin naik kelas ke bab berikutnya, amalkan dulu ilmu yang ada, Ilmu Thaharah!  


*Ketua Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI)
Share this article :

Posting Komentar