Minggu, 16 Juni 2013

Home » » Kesaksian Relawan: Di Suriah Bukan Perang Saudara

Kesaksian Relawan: Di Suriah Bukan Perang Saudara

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim. (Shahîh. HR an-Nasâ`i), Bahkan darah seorang muslim lebih mulia daripada Ka’bah yang mulia, (Hasan), dihasankan oleh Syaikh al-Albâni


MafazaOnline | MAGELANG - Perang di Suriah diawali demo kecil-kecilan. Rupanya demo-demo di negara sekitar Suriah ikut memberi semangat kepada muslimin Suriah. Demo itu dilakukan karena penindasan yang luar biasa dari Pemerintah Assad. Awalnya demo kecil-kecilan yang dipimpin oleh seorang pincang. Lalu ada anak kecil yang menulis protes. Pernyataan ini disampaikan Ustadz Mas'Ud Izzul Mujahid Lc Relawan Tim ke-6 HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) untuk Suriah dalam acara, Tabligh Akbar di  Tablig Akbar "Air Mata Suriah”  di masjid An Nur Ruhul Islam, Magelang, Ahad 16 Juni 2013.

“Demo ini menuntut kebebasan beragama, tapi dibalas dengan senjata,” kata Mas’ud Izzul Mujahid, dihadapan jamaah yang memenuhi Masjid An Nur Ruhul Islam Magelang.

Pembunuhan, masih kata Mas’ud, dan diperangi dengan kejam. “Bayangkan,  ada orang tua yang sudah divonis penjara selama 40 tahun kesalahannya karena shalat subuh berjamaah!” ungkapnya.

Muslimin Suriah harus kita bela, jelas Mas’ud, berdasarkan hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (Shahîh. HR an-Nasâ`i), “Bahkan darah seorang muslim lebih mulia daripada Ka’bah yang mulia,” (Hasan), dihasankan oleh Syaikh al-Albâni.

Kehormatan seorang muslim tertumpah dan dia tidak peduli, ancamannya: Allah pasti akan menelantarkan disaat dia membutuhkan pertolongan Allah. “Pada kenyataannya bisa kita lihat, ada anak-anak tokoh muslim yang nakal, mungkin karena ayahnya sang tokoh Islam tadi, tak peduli dengan Islam,” ungkap Mas’ud.

Meski dalam ancaman dan perburuan, Masud mengungkapkan, tekad Relawan tercermin dari ungkapan, Insya Allah selama ada dana yang masuk untuk membantu maka Relawan Muslim akan terus mengantarkan bantuan, “Meski Amerika dan Rusia akan terus menghalangi,” katanya yang disambut takbir jamaah Masjid An Nur Ruhul Islam.

Mas’ud yang menceritakan pengalamannya, pembantaian sudah diluar  batas kemanusiaan. Inilah yang memanggil kaum muslimin untuk berjihad di Suriah. Ada seorang anak kecil, ada orang kaya, dokter Abu Abdillah spesialis bedah tulang. Dokter ini kalau di Indonesia gajinya bisa ratusan juta. Dia diantar oleh 2 mujahid yang pernah berjuang di Chechnya, Somalia dan Afghnaista. Di Baydo, Bani Yasa, “Dalam sehari saja terbunuh 700 orang,” kata Mas’ud mengutip Dr Romy Pimpinan Relawan di Suriah.

Umat Islam satu tubuh. Ada tuntutan untuk membantu, kalau mereka meminta bantuan maka kamu wajib untuk membantunya. Itulah keyakinan umat Islam. Ketika Dr Romy, ditanya oleh Mas’ud, bantuan apa yang Anda inginkan, “Tolong sampaikan kabar kami, bahwa ini bukan perang saudara. Tapi perang permusuhan yang sudah jelas!” tegasnya.

Alasan lain membela muslimin Suriah adalah karena berbicara Suriah adalah berbicara masa depan Islam. Agama Samawi sepakat, sebelum terjadi akhir zaman, akan terjadi perang akhir zaman (Armagedon dalam terminology Barat), itu terjadi di Syam.

Benteng umat Islam dalam perang akhir zaman itu Ghautoh, bersebelahan dengan Makkah yang bernama Damaskus.

Rasulullah menyebutkan Thaifah mansyurah, tersebar dan darimana-mana, mereka bertempur di gerbang-gerbang Baitul Maqdis dan di gerbang Damaskus dan sekitarnya. “Kalau tidak bisa berjuang, maka harta kita menemani mereka. Dengan itu kita akan tergolong sebagai Thaifah Mansurah,” kata Mas’ud Izzul Mujahid.

Dari acara ini terkumpul dana lebih dari Rp 23 juta dan sejumlah perhiasan.

Silakan di Klik;
Share this article :

Poskan Komentar