Selasa, 28 Mei 2013

Home » » Miss World Simbol Eksploitasi Perempuan

Miss World Simbol Eksploitasi Perempuan

Miss World dan kontes semacamnya menyeret dan mengeksploitasi kaum perempuan pada kompetisi jahiliah yang mengumbar aurat, diukur ‘prestasi’-nya dari kemolekan tubuh dan diperlakukan layaknya kapstok pakaian yang dipakai untuk memajang model terbaru sebuah baju agar menarik minat pembeli


MafazaOnline-JAKARTA–Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan penolakannya terhadap ajang kontes kecantikan Miss World 2013 yang dijadwalkan berlangsung 28 September di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor.

“Menolak penyelenggaraan  Miss World karena kontes ini adalah salah satu simbol eksploitasi perempuan dengan dalih pemberdayaan dan penggalian potensi diri. Miss World adalah ikon pornografi dan eksploitasi,” tegas Jubir HTI Ismail Yusanto kepada an-najah.net Rabu, (10/4/2013) Jakarta.

Lanjutnya, sikap Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang menyatakan hendak menjamin tidak akan ada kontes bikini, seakan-akan tidak memahami permasalahan yang sebenarnya dan seolah menganggap pertentangannya dengan syariah hanya pada bikininya.

“Itu bukan sikap yang layak ditunjukkan oleh seorang pemimpin Muslim. Bukankah dasar penyelenggaraannya sudah bertentangan dengan syariat? Yakni menempatkan perempuan seolah kapstok baju,” kritiknya

Miss World dan kontes semacamnya menyeret dan mengeksploitasi kaum perempuan pada kompetisi jahiliah yang mengumbar aurat, diukur ‘prestasi’-nya dari kemolekan tubuh dan diperlakukan layaknya kapstok pakaian yang dipakai untuk memajang model terbaru sebuah baju agar menarik minat pembeli.

Ia menekankan, yang perlu difahami ketika tidak ada bikini bukan berarti tidak ada kepornoan. Para peserta tetap tampil berlenggak lenggok di hadapan laki-laki asing, juga dihadapan kamera yang akan menjual gambar-gambarnya sebagai produk pornografi.

“Bahkan harus diketahui oleh Pak Aher bahwa yang dimaksud tidak pakai bikini, bukan berarti ditiadakan kontes pakaian renang, tetap ada kontes pakaian renang yang one piece,” ujarnya.

Muslimah HTI pun menolak acara maksiat tersebut diselenggarakan, apalagi diselenggarakan di negeri Muslim terbesar ini. Karena bisa menjadi pembenar bahwa umat Islam membenarkan kepornoan merajalela.

Ismail menjelaskan bahwa di dalam Islam perempuan ditempatkan pada posisi mulia, sebagai kehormatan sebuah keluarga bahkan sebuah bangsa. Oleh karena itu, perempuan seharusnya dihormati, bukan dieksploitasi. Tidak ada tempat bagi mereka yang ingin menempatkan perempuan sebagai daya tarik sebuah produk, atau memuaskan nafsunya dengan menonton perempuan berlenggak lenggok memamerkan auratnya dan tidak akan dibiarkan bila ada perempuan yang ingin mempertontonkan auratnya.

Nilai seorang perempuan ditentukan oleh ketakwaan dan sumbangsihnya bagi kebaikan dan perbaikan masyarakat. Karenanya perempuan yang mulia bukanlah yang paling proporsional ukuran fisiknya, tapi yang alim lagi berilmu, juga yang berdedikasi menyumbangkan waktu, ilmu dan hartanya untuk kemaslahatan.

Menurut Ismail, sikap Gubernur Jabar dengan memberi  izin penyelenggaraan Miss World membuktikan bahwa demokrasi memenangkan kepentingan bisnis.

“Dan  telah menyeret seorang pemimpin melupakan panduan agamanya dan menjadikannya sekular.” tandas Ismail. (qathrunnada/an-najah)
Share this article :

Posting Komentar