Kamis, 23 Juni 2022

Home » » Jejak Langkah Ulama Betawi KH Syafii Hadzami

Jejak Langkah Ulama Betawi KH Syafii Hadzami

Jejak Langkah Ulama Betawi KH Syafii Hadzami

Kakeknya sering mengajak Syafii Hadzami kecil mengaji kepada Syaikh Akbar Abdul Fattah, Mursyid Tarekat Idrisiyyah Tasikmalaya, kakeknya meminta doa agar cucunya itu menjadi orang alim dan berguna bagi masyarakat. Syaikh Abdul Fattah pun mendoakan

Mafaza-Online | Berkaitan dengan Hajatan Jakarta ke 495 Tokoh Ulama kita kali ini dari ulama Betawi; Beliau adalah Muallim KH M Syafii Hadzami. Beliau pantas menyandang Muallim dan juga allamah. Gelar itu menunjukkan betapa almarhum menempati posisi yang begitu terhormat dalam hirarki keulamaan.

KH M Syafii Hadzami lahir pada 31 Januari 1931 di Betawi. Syafi`i Hadzami kecil, sering sekali diajak kakeknya mengaji dan membaca zikir di kediaman Syaikh Abdul Fattah (1884-1947), seorang ulama kelahiran Cidahu, Tasikmalaya yang membawa Tarekat  Idrisiyah Sanusiyah ke Indonesia. 


Ketika ia mengikuti zikir beberapa kali mengalami jadzbah/fana. Suatu kondisi hati lebur, menyatu dengan Allah SWT. Hanya Allah saja yang dilihat oleh matahatinya.


Saat itu kakeknya meminta doa kepada Asy-Syaikh Al-Akbar Abdul Fattah agar cucunya itu menjadi orang yang alim dan berguna bagi masyarakat. Syaikh Abdul Fattah pun mendoakan.


Pada kesempatan lain Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah menyatakan, Dia (Syafi’i Hadzami) kelak akan besar di luar, sedangkan anakku (Muhammad Dahlan) akan besar di dalam. Hal ini ternyata terbukti benar. Syafi’i Hadzami menjadi Ulama besar betawi yang mempunyai banyak muridnya di berbagai pelosok Jakarta. 


Sedangkan Muhammad Dahlan setelah terdidik di lingkungan Tarekatt akhirnya menjadi Khalifah Thariqat Al-Idrisiyyah sepeninggal Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah.

Silat dan Shalat

Selain itu, beliau juga mengaji al-Quran, dasar-dasar ilmu nahwu dan shorof kepada Ustadz Sholihin. Dari tahun 1948 sampai dengan tahun 1953 atau selama 5 tahun. Setelah selesai, beliau melanjutkan dengan belajar  kepada KH. Saidan di Kemayoran. Kepadanya, Syafii belajar ilmu tajwid, ilmu nahwu (dengan kitab pegangan berjudul Mulhatul-Irab) dan ilmu fikih (dengan kitab  pegangan berjudul Ats-Tsimar Al-Yaniah yang merupakan sarah dari kitab Ar-Riyadh Al-Badiah).


Selain belajar ilmu-ilmu agama, Syafii juga belajar ilmu  silat  kepadanya. KH. Saidan juga menyuruhnya untuk belajar kepada guru-guru yang  lain, misalnya kepada Guru Yakub Saidi (Kebon Sirih), Guru Khalid (Gondangdia), Guru Abdul Majid (Pekojan), dan lain-lain. Dari KH. Mahmud Romli yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat ini, Syafii menimba ilmu  fikih dan ilmu tasawuf. Kitab fikih yang digunakan dalam belajar adalah Bujairimi, sedangkan kitab tasawufnya adalah Ihya Ulumiddin.


Pada usia 27 tahun KH Syafii Hadzami mulai belajar kepada Habib Ali bin Husein Al-Attas salah satu guru utamanya. Mengenai guru utamanya ini beliau menuturkan: "Guruku ini cukup istimewa. Lain dengan kebanyakan habib, penguasaannya terhadap kitab-kitab besar sangat teruji. Kecuali itu, zikirnya tak pernah putus. Bicaranya jangan ditanya, ia pendiam fanatik."  


Kealiman KH Syafii Hadzami diakui oleh berbagai tokoh-tokoh ulama besar. Banyak ulama menuturkan bahwa ilmu Habib Ali bin Husein Al-Attas dikuras habis oleh KH Syafii Hadzami. 


Pada masa awal-awal pertemuannya dengan Syaikh Muhammad Yasin AlFadani yang mana Syaikh Yasin AlFadani adalah guru para wali dan ulama besar Nusantara. Saat Syaikh Yasin AlFadani berkunjung ke Indonesia banyak ulama berkumpul untuk  meminta ijazah kepada Syekh Yasin. Saat semua ulama besar Indonesia telah diberi ijazah oleh Syekh Yasin AlFadani Hanya KH Syafi'i Hadzami yang belum diberi ijazah. 


Ketika diklarifikasi mengapa Syaikh Yasin AlFadani tidak memberi ijazah kepada KH Syafii Hadzami beliau Syaikh Yasin AlFadani menjawab bahwa KH Syafii Hadzami tidak sepatutnya menjadi murid Syaikh Yasin. Karena keilmuan KH Syafii Hadzami dari pandangan batin Syaikh Yasin AlFadani sama sekali tidak berada dibawah Syaikh Yasin AlFadani.


Sejak Muda KH Syafii Hadzami telah dikenal luas sebagai seorang yang memiliki penguasaan mendalam terhadap berbagai ilmu agama Islam. Yang membedakan KH Syafii Hadzami dengan ulama lainnya yakni beliau belum pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren apalagi belajar di timur tengah. 


Sejak 1935-1976 yakni wafatnya guru utama KH Syafii Hadzami yakni Habib Ali Bungur bin Husein Al-Attas. Artinya, KH Syafii Hadzami selama 41 tahun terus mendatangi guru-gurunya untuk menimba ilmu agama.


Bila pengertian menuntut ilmu adalah membaca sendiri Kitab-kitab agama selama 41 tahun tidak tepat dikatakan lama, karena cukup banyak orang berusia 70 tahun atau lebih masih rajin menggali ilmu dari berbagai kitab-kitab para ulama. Namun mendatangi guru-guru dan ulama untuk belajar secara privat/pribadi dengan membawa kitab dihadapan para ulama selama 41 tahun adalah suatu keistimewaan tersendiri dan anugerah dari Allah SWT.

Bookaholic


Bukti keseriusannya dan demi menunjang tekadnya ini. Jumlah kitab di perpustakaannya sangat banyak. Dari hampir 30 lemari kitabnya, satu di antara hanya berisi kamus-kamus. 


Pada masa-masa puncak kegigihannya dalam menuntut ilmu, dalam sehari, waktu yang dihabiskan untuk menekuni kitab-kitab lebih dari 12 jam,  itu diluar waktu mengaji kepada para ulama yang didatanginya. Disaat-saat itu ia hanya istirahat untuk melakukan sholat fardhu atau makan. 


Terkadang makan pun ia lupa dan waktu istirahat menjadi sangat kurang karena di malam hari ia sering bergadang menelaah berbagai kitab agama. 


Ia sering memakai sandal terbalik, mengancingkan baju tidak pas dan tak menyadari rambutnya telah panjang tidak terurus. Keluarganya sendiri semakin lama semakin khawatir dengan keadaannya. Mereka menganggap apa yang dilakukan KH Syafi'i Hadzami sudah tidak wajar. 


KH Syafi'i Hadzami menyadari bahwa ia telah overdosis dalam menuntut ilmu. Karena itu iapun memohon kepada Allah SWT agar keadaannya dikembalikan seperti semula yakni belajar dengan wajar dan tidak berlebihan. Akhirnya dengan pertolongan Allah SWT ia pun dapat kembali seperti sediakala.


KH Suripno menceritakan karamah muallim KHM Syafii Hadzami. Waktu tinggal di Kepu, Senen, almarhum memelihara banyak burung. Itu burung berisik. “Tapi herannya, kalau muallim lagi ngajar ngaji di rumahnya, burung pada berhenti bunyi. Kagak ada yang bersuara. Ngajinya waktu itu Kitab Rahmatul Ummah,  Mizan Syaroni dan Kitab Muhadzdzab,” kata Kiai Suripno. 


Selain itu Wali besar Mbah Mangli Magelang pun sering tabarrukan mengunjunginya dan sangat menghormatinya.


KH Syafii Hadzami Wafat Pada tanggal 7 Mei 2006, umat Islam di Ibukota Jakarta, khususnya masyarakat Betawi, kehilangan sosok ulama besar yang sampai hari ini sulit dicarikan tandingannya.


Foto-Foto










Silakan Klik:

۞Gerakan Wakaf al Quran۞

Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah











Keterangan foto:

1. Bersama salah satu guru utamanya Habib Ali bin Husein Al-Attas

2. Bersama Syekh Muhammad Yasin AlFadani Makkah

3. Bersama Habib Umar bin Hafidz Yaman

4. Bersama Habib Umar bin Hafidz Yaman

5. Bersama Ustadz Arifin Ilham

6. Bersama KH Noer Ali

7. Bersama Habib Saggaf bin Mahdi BSA

8. Bersama KH Zainuddin MZ

9. Bersama Habib Syekh Al-Jufri

10. Bersama murid beliau Abuya K.H. Saifuddin Amsir


Bagian 1 👇

ABDURRAHMAN AL GHAFIQI TABIIN GUBERNUR ANDALUSIA Komandan yang Muncul dari Pertempuran (1)


Silakan Klik 

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda



Share this article :

Posting Komentar