Senin, 20 Juni 2022

Home » » JADILAH PENJELAJAH Sejarah adalah Perjalanan

JADILAH PENJELAJAH Sejarah adalah Perjalanan

Pantaslah jika Universitas Cambridge telah menyematkan Ibnu Baitutah dengan gelar 'Pemimpin Pelancong Muslim." 

Oleh: Adhes Satria

Mafaza-Online | Membaca sejarah adalah membaca perjalanan. Itulah yang dilakukan para Nabi dan Ulama terdahulu. Mereka  mendaki gunung berbatu, melintasi gurun yang terik, memasuki negeri yang tak dikenal, wilayah yg berbahaya dan menembus badai dan dinginnya malam. 

Ibnu Bathuthah bercerita,  di Utara Damaskus ada sebuah gunung, Qasiyun namanya. Gunung itu disebut sebut sebagai tempat pendakian para Nabi. Di gunung itu pula,  dimakamkan 70 nabi, bahkan 700 nabi hingga 70.000 nabi.  Wallahualam. 


Di antara para nabi, ada yang melakukan perjalanan dan pendakian, untuk menghindari kejaran musuh yang bernafsu membunuhnya. 


Ada yang sedang menjalankan misi dakwah, menyampaikan risalah dan pesan Tuhan kepada kaum penyembah berhala. Ada pula yang sedang menuntut ilmu, hingga hijrah untuk menemui tanah yang dijanjikan Tuhan.


Bisa dibayangkan ketika Nabi  mendaki gunung bernama Jabal Tsur (memiliki ketinggian 1.650 m) untuk menghindari kejaran kafir Quraisy yg hendak membunuhnya. 


Dalam perjalanan itu Rasulullah  ditemani oleh sahabatnya yg setia, Abu Bakar Shiddiq untuk bersembunyi dalam sebuah gua. 


Begitu juga saat Nabi   mendaki Jabal Nur, sebuah gunung dengan ketinggian 642 mdpl hingga beliau mendapat wahyu dari Tuhan Nya di Goa Hiro. 


Juga ingatlah ketika Misi Hijrah Rasulullah  melakukan perjalanan hijrah pertama dari kota Makkah menuju Habasyah (Ethiopia) untuk mendapatkan suaka atau perlindungan dari seorang Raja beragama Kristen. 


Beberapa sahabat pun melangkahi jarak dari Mekkah ke Habasyah sekitar 4.485, 7 km. Sebuah perjalanan yg sangat jauh.  


Atau ketika Nabi   hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan jarak sekitar 450,4 km. Dan masih banyak perjalanan Nabi lainnya.  Bahkan ketika masih kecil Nabi   sudah diajak pamannya Abu Thalib utk berniaga ke Syam (Syiria).  


Juga ingatlah kisah Nabi Musa as yg menghindari kejaran tentara Fir'aun, dari Mesir ke negeri Madyan, Yordania, hingga ia bertemu Nabi Syu'aib. Dengan berjalan kaki Musa as harus melintasi padang pasir yang tandus dan gunung berbatu.  


Atau ketika Musa as mendaki Gunung Sinai setinggi 2.285 meter di atas permukaan laut (mdpl), hingga mendapatkan wahyu. Lalu kembali ke Mesir utk menyampaikan pesan Tuhan, mengingatkan Firaun.


Juga ingatlah ketika Musa as kembali dikejar Firaun beserta pasukannya yg kuat hingga terjadilah peristiwa yang menggemparkan, lautan  terbelah dan Fira'un pun mati tenggelam. 


Juga ingatlah ketika Musa as mendaki Bukit Thursina atau Bukit Sinai utk menerima 10 perintah Tuhan.


Begitu juga para ulama terdahulu yang menuntut ilmu hingga jazirah Arab. Banyak catatan perjalanan mereka dalam sebuah kitab yang ditulisnya. 


Maka jadilah penjelajah, seperti firman Allah dalam Al Quran: "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung gunung sebagai pasak? " (QS. An-Naba [78] : 6-7). 


Dalam surah yang lain Allah SWT berfirman, "Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan kesudahan orang2 sebelum mereka... (QS.  Al Mumin [40] :82). 


Dengan redaksi yang sama, "Maka berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikan bagaimana kesudahan orang orang yg mendustakan (agama Allah) ". (Qs Ali Imran [03] : 137).


Dalam banyak hadits,  Rasulullah   mendorong kita untuk  safar.  Dari Abu Hurairah ra dan Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah   bersabda, "Bersafarlah, maka kalian akan menjadi sehat."


Dalam hadits yg lain, dari Abu Hurairah, Nabi   berpesan, "Bersafarlah, maka kalian akan merasa kaya."


Ketahuilah para salafus shalih menyukai safar dan rihlah, ada yang menuntut ilmu, berdakwah,  mengajar, juga hobi dan kebiasaan, serta berniaga. 


Imam Syafi'i berkata, Tinggallah di negeri asing demi kemuliaan. Bersafarlah,  karena dalam safar itu ada lima manfaat: mengurai kesusahan dan meraih penghidupan, ilmu,  adab dan berteman dengan orang mulia. 


Jika dikatakan, dalam safar ada kelemahan dan cobaan berat. Menembus sahara dan menyelami tantangan. Maka,  lebih baiklah jika seorang pemuda itu mati daripada hidup hina di antara pemfitnah dan pendengki.


Sebagai catatan, Ibnu Bathuthah telah menjelajah ke banyak negeri seperti Mesir, Syam, Hijaz, Irak,  Persia,Yaman, Bahrain,  Turkistan, sebagian wilayah India,  Cina,  Jawa (Nusantara), Tartar dan Afrika Tengah. 


Lelaki kelahiran Maroko tahun 703 H (1304 M)  itu menguasai bahasa Turki dan Persia, dan telah menghabiskan waktu selama   rihlah atau perjalanannya, yakni 27 tahun. 


Pantaslah jika Universitas Cambridge telah menyematkan Ibnu Baitutah dengan gelar 'Pemimpin Pelancong Muslim." 

MENCATAT PERJALANAN

Kita mengenal petualang dunia spt Marcopolo, Columbus, Vasco Da Gama hingga Ibnu Bathuthah.


Ternyata para penjelajah itu, selain melakukan perjalanan, juga memiliki kemampuan literasi. Mereka mencatat perjalanannya, tentang pengalamannya, wilayah yang dijelajahinya, tempat-tempat bersejarah, orang-orang yang dijumpainya hingga cerita unik lainnya. 


Kalau saja para traveler belajar menulis untuk mencatat setiap perjalanannya agar bermanfaat dan menjadi memoar bagi kita semua, tentu menjadi istimewa. 


Semoga tulisan ini bermanfaat utk memotivasi kita menjelajahi dunia di bumi Allah Yang Maha Luas.  


Semoga setiap perjalanan yang kita tempuh mendapat hikmah dan kebaikan, pengalaman hidup dan pelajaran yang sangat berharga.  


INSTRUKSI Shalat Sunnah Tahajud Berjamaah

Silakan Klik 

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda



Share this article :

Posting Komentar