Jumat, 29 April 2022

Home » » Tabaruk dengan Peninggalan Orang Shalih

Tabaruk dengan Peninggalan Orang Shalih


Tabaruk dengan Peninggalan Orang Shalih 
Mafaza-Online | Tabaruk berasal dari kata tabrik (تبريك) yang bermakna mendoakan datangnya barokah untuk orang lain dan tabaruk (تبرك) yang berarti upaya untuk memperoleh barokah atau yang akrab dikalangan santri adalah “ngalap berkah”

Suatu ketika, Syaikh Saifuddin bin Falih Al-Mansuri diutus oleh Sultan Mansur Al-Qalawun, salah seorang Sultan dari kerajaan Mamluk, Mesir, untuk memberi hadiah kepada Raja Frank. Syaikh Saifuddin ulama yang cerdas, tak heran apabila Raja Frank begitu tertarik. 


Akhirnya Raja Frank menyarankan agar Syaikh Saifuddin tinggal lebih lama lagi di kerajaannya. Namun, Syaikh Saifuddin tetap bersikeras hendak kembali ke Mesir.


Raja Frank tak kehabisan ide, dia membujuk Syaikh Saifuddin dan berkata, “Apabila kau mau tinggal barang sejenak, aku akan mengeluarkan hadiah yang berharga.”


Syaikh Saifuddin terdiam. Raja Frank memerintahkan ruangan untuk dikosongkan. Semua menteri dan pengawal bergegas keluar dari balai ruang Istana, meninggalkan mereka berdua. Raja Frank masuk ke dalam sebuah kamar dan kembali dengan membawa sebuah kotak yang terbuat dari emas. 


Sudah jelas, bahwa hadiah pusaka yang berada di dalam kotak itu merupakan barang yang sangat berharga, sehingga kotak terbuat dari emas yang memiliki harga selangit menjadi wadahnya.


Raja Frank segera membuka kotak emas tersebut, ternyata di dalamnya terdapat sebuah lembaran surat yang tulisannya sudah memudar. 


“Ini adalah surat dari Nabimu yang dikirim kepada kakekku (Kaisar Heraklius). Kami mewarisinya turun temurun dan menyembunyikannya dari rakyat kami. 


Sang Raja mendekatkan kotak itu.


"Ayahku berpesan, selama surat ini kami miliki, maka kekuasaan akan tetap berada di dalam genggaman kami,” jelas sang Raja.


Surat yang berisi sabda Rasulullah kepada Kaisar Heraklius yang notabene dia adalah orang kafir. Tapi, dirawat dan dijaga mendatangkan keberkahan seperti itu. 


Lantas bagaimana dengan peninggalannya berupa Ulama yang mewarisinya, Wali Mursyid?


Tentunya akan mendatangkan kebahagiaan, lebih dari apa yang kita bisa bayangkan.


Secara lahiriyah lembaran kertas memang tak ada artinya, tapi di balik itu ada ungkapan mahabbah dan ketaatan. Bertabaruk yang dilandasi hati yang mahabbah akan menjadi jalan kepada apa yang diinginkan. 


Hal tersebut telah dilakukan dan dialami oleh orang-orang Shalihin dan hasilnya benar-benar dirasakan. 


Lainnya:


Santri Motekar

Silakan Klik:

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda




Share this article :

Posting Komentar