Senin, 14 Maret 2022

Home » » Suami Istri Harus Satu Perahu

Suami Istri Harus Satu Perahu


 Memiliki pemimpin dalam agama itu hukumnya wajib. Itulah yang harus dipegang. Pemimpin yang sesungguhnya adalah Ulama. Sebagaimana para Nabi as adalah pemimpin bagi umat. Nabi Muhammad  pemimpin bagi para Sahabat ra. Imam bukan sebatas dalam shalat tapi seluruh aspek kehidupan, seperti berumah tangga, bermasyarakat, berekonomi


Mafaza-Online | Orang yang mencari pasangan hidup kepada orang yang tak sepaham akan menimbulkan masalah yang tak kunjung usai, baik bagi pria maupun wanita. 


Orang yang ingin mencari jodoh haruslah berada dalam satu 'perahu'. Artinya ia harus memiliki satu guru (sepemahaman) dalam menjalani agama. Sebab  mengarungi laut kehidupan dalam bahtera rumah tanga  itu tidak lepas dari terpaan badai. 


Amuk Badai yang bisa menenggelamkan, hingga perahu gagal mencapai pulau impian.


Sepasang murid yang sudah berada dalam 'perahu' yang sama ketika mengalami permasalahan atau perbedaan pendapat akan ada Guru sebagai hakim yang menengahinya. 


Terkadang hanya sekadar hadir di majelis gurunya seluruh permasalahannya telah selesai.


Begitu keluar dari pintu masjid, dadanya menjadi lapang pikiran menjadi terbuka. Masalah pun bisa diredam. 




Wajib Berjamaah


Memiliki pemimpin dalam agama itu hukumnya wajib. Itulah yang harus dipegang. Pemimpin yang sesungguhnya adalah Ulama. 


Sebagaimana para Nabi As adalah pemimpin bagi umat. Nabi Muhammad  pemimpin bagi para Sahabat Ra. Imam bukan sebatas shalat tapi seluruh aspek kehidupan, seperti berumah tangga, bermasyarakat, berekonomi. 


Dalam beragama bukanlah sebatas mendapatkan ilmu-ilmu terlebih dulu, atau mengambil ilmu dari ustadz A, B, C, dan seterusnya. Ulama Panutan itu harus memiliki kriteria yang layak.


Pertama, Mengetahui hal-hal kefardhuan dalam agama. Ilmu Tauhid (Keimanan), Fiqih (Aturan-aturan Agama) dan Tasawuf (Pembenahan Hati). Itulah Rukun Agama. Kita harus mencari Ulama yang menguasai ketiga disiplin ilmu ini. 


Jadi, kalau ada orang yang mengatakan Tasawuf itu bukan berasal dari ajaran Islam, betapa bodohnya. Ustadz ada yang tidak jelas arahnya, karena tidak memiliki guru yang jelas.


Kedua, Mengenal Allah SWT, (marifat) kepada Allah yang mendalam. Karena Allah-lah yang diibadahi dan menjadi tujuan.


Ketiga, Menguasai metode pembersihan jiwa. Jiwa adalah mutiara dan harus digosok agar berkilau.


Keempat, Memililki silsilah yang tersambung kepada Rasulullah , dan ia memiliki tugas membimbing dari Mursyid sebelumnya.


Kita harus mengikuti Ulama sebagai ikutan, Panutan. Karena masing-masing Ulama bisa berbeda pandangan dan pemikirannya. Misalnya pandangan tentang Isbal (memanjangkan kain melebihi mata kaki), Riba, dll.


Mutiara Cipatujah, 26 Januari 2022


Silakan Klik:

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda



Share this article :

Posting Komentar