Rabu, 02 Maret 2022

Home » » Membentuk Insan yang Ihsan

Membentuk Insan yang Ihsan


 Dalam Ilmu Tasawuf marifat harus disertai dengan kecerdasan lisan dan hati

Mafaza-Online | Jumat merupakan hari istimewa bagi umat akhir zaman. Maka oleh sebab itu, harus dihidupkan dengan hadir di majelis ilmu dan dzikir. 

Dalam kitab Minhājul ’Ābidīn, dijelaskan ada Tujuh pendakian.  Salah satunya Aqabatul Ilmi Pendakian ilmu, sebab manusia dimuliakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang berakal. 

Pada penciptaan Adam as, semua diperintahkan untuk bersujud tak terkecuali Azazil (iblis). Namun iblis menolak, padahal Adam As telah Allah SWT sempurnakan dengan ilmu. 

Puncak Ilmu

Dengan demikian, jika manusia ingin mulia, maka harus dengan ilmu. Puncak ilmu ialah marifat kepada Allah SWT, sedangkan dalam Ilmu Tasawuf makrifat harus disertai dengan kecerdasan lisan dan hati

Rasulullah ﷺ 15 abad yang lalu, kedatangan tamu tanpa diundang. Tamu tersebut berambut legam, meski asing tidak tampak bekas perjalanan. Dia mendatangi Rasulullah ﷺ  dan menempelkan lututnya dengan lutut Rasulullah ﷺ . 

Tamu itu bertanya tentang Islam dan dijawab oleh Rasul dengan Rukun Islam. Pemuda itu membenarkan. Kemudian bertanya tentang Iman dan dijawab oleh Rasulullah ﷺ dengan rukun Iman. Pemuda itu membenarkan. 

Selanjutnya bertanya tentang Ihsan dan dijawab dengan benar. Ternyata Pria asing itu sedang mengajarkan Rukun Agama kepada Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat ra.

Ihsan adalah membenarkan dengan keyakinan Allah melihat kita. Tidak harus dilihat oleh mata namun disaksikan dengan hati dengan penuh keyakinan. Hingga hatinya bersinar karena sangat yakin. Apabila cahaya keimanan / keyakinan, maka engkau akan melihat akhirat lebih dekat. 

Insan yang Ihsan hidupnya akan berorientasi kepada akhirat. Sedangkan melihat akhirat lebih dekat itu adalah sesuatu yang mahal. Sihir Harut dan Marut dapat memisahkan dan merusak rumah tangga, namun sihir dunia dapat memisahkan hamba dengan Pencipta. 


Doa dan Muhasabah Maulid Nabi saw Parung Ponteng

Abah Kasan

Cerita Abah Kasan Cibubuhan yang senantiasa berdzikir khofi (hanya terdengar oleh telinga sendiri) hingga Allah SWT memperlihatkan kewaliannya. 

Suatu ketika ada seorang tentara dari Bandung yang menunaikan haji. Ketika di tanah suci ia kehilangan perbekalannya dan berdoa agar diberi rezeki agar bisa pulang. 

Kemudian tentara itu bertemu kakek yang memberi uang kepadanya dan berkata bahwa ia dari Rajapolah Tasik. Ketika ingin berterima kasih, kakek tersebut sudah menghilang. 

Lalu untuk berterima kasih dan mengembalikan uang tersebut kepada kakek yang pernah membantu, ia datang ke Rajapolah. Ia bertanya dengan ojek dan mengatakan bahwa Abah Kasan sudah lama meninggal. 

Itulah contoh wali Allah yang tidak pernah mati dan tetap hidup untuk memberikan informasi petunjuk kepada umat.

Pesan Penting:

1. Melihat akhirat lebih dekat dengan cahaya keyakinan/keimanan.

2. Melihat dunia sebagai kefanaan yang akan ditinggalkan.

3. Pentingnya talqin zikir yaitu menyatukan hati dengan shiddīqīn, sahnya menjadi murid. (membaca Qur’an 1 juz, berdzikir istighfar 100x, Tahlīlul Makhshūs 300x, sholawat Nabi 100x, yā Hayyu yā Qoyyūm 1000x)

INTISARI DZIKRUL MAKHSUS, 13 Januari 2022

Silakan Klik:

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Posting Komentar