Sabtu, 24 Oktober 2020

Home » » AMAL UNGGULAN Dalam Kaca Pandang Tarekat

AMAL UNGGULAN Dalam Kaca Pandang Tarekat

Kajian Tarekat Idrisiyyah | Salman Al Farizy

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada pula yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS Fathir [35] : 32)


Mafaza-Online | Para sahabat Nabi Muhammad adalah orang-orang pilihan. Dalam ibadah, tidak seperti orang kebanyakan yang menunda-nunda atau pilah-pilih. Para Sahabat ra itu, bukannya minta keringanan justru seringnya malah bertanya,  “Apa amalan yang paling utama?”  


Namun, jawaban Nabi   tidak selalu sama, bergantung sosok yang bertanya. Ada yang jawabannya, menahan marah, berpuasa atau berjihad.


Kenapa Sahabat bertanya seperti itu? Karena dari sejarah umat terdahulu yang diceritakan Nabi Muhammad umat-umat terdahulu ibadahnya luarbiasa. Sahabat ra merasa kecil hati, karena sulit untuk mengungguli.


Estafet Risalah


Kalau Sahabat Nabi saja khawatir seperti itu, bagaimana dengan kita umat akhir zaman. Harusnya lebih cemas lagi. Jatah usia manusia akhir zaman lebih singkat dan kesempatan semakin terbatas. Bagaimana mungkin bisa mengungguli umat-umat sebelumnya.


Namun sebagai orang beriman kita meyakini, Allah SWT dengan segala keadilan-Nya telah membuat tatanan kehidupan. Dia menggariskan, kemuliaan dan ketinggian amalan itu bergantung siapa yang mengajarkannya. Jadi, ketika yang membawanya Nabi terakhir maka mengungguli amalan para Nabi sebelumnya. Estafet itu terus berjalan.


Adanya Injil mengungguli Taurat dan Zabur. Begitupun kemunculan Al Quran menyempurnakan kitab-kitab samawi sebelumnya. Ketika ajaran Islam dibawa oleh Khalifah (pelanjut) -nya maka ia mengungguli amalan yang diamalkan oleh para Ulama di masanya. Polanya begitu dari zaman ke zaman.



Silakan Klik:

۞Gerakan Wakaf al Quran۞

Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah








Malam Seribu Bulan


Ingatkah riwayat ketika Nabi Muhammad menceritakan kehebatan Syam'un al Ghazi yang berjuang selama seribu bulan? Perbuatan Wali di zaman Bani Israil itu hanya dibandingkan dengan satu malam utama di bulan Ramadhan. Malam Lailatul Qadr hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad .


Diriwayatkan dalam hadis, kelak Nabi Isa as turun dan melaksanakan shalat bersama umat ini, beliau pun menjadi makmum di belakang Imam Al Mahdi. Karena kepemimpinan saat itu dipegang oleh Imam Al Mahdi. Hal itu menunjukkan kaidah yang asasi dalam kepemimpinan tentang siapa yang sedang ditugaskan dimasanya. 


Apa yang dibawanya memiliki kedudukan yang tertinggi, karena merupakan kehendak Allah SWT. 


Tentang banyaknya keutamaan umat nabi terakhir —yang tidak dimiliki umat-umat sebelumnya—para ulama banyak menuliskannya. Diantaranya Sayid Muhammad bin Alwi al Maliki menulis karya khusus tentang hal ini dengan judul Syarafu Ummati Muhammad . 


Salah satu kisah terkenal adalah keinginan Nabi Musa as untuk menjadi umat Nabi Muhammad , karena keutamaan yang begitu agung. 


Wali Mursyid


Dalam rangkaian sejarah tokoh Mursyid Idrisiyyah, ada beberapa kisah pengalaman spiritual tentang ruhani Wali-wali terdahulu yang berkeinginan menjadi murid Mursyid yang masih hidup mengemban tugas. 


Jika mereka dihidupkan kembali mereka akan berkhidmah meski sebagai penjaga sendal atau tukang sapu. Iu karena mereka melihat besarnya keutamaan berada di bawah bimbingan Wali Mursyid. Hal itu tidak mereka dapatkan dizamannya.


Mursyid Tarekat Idrisiyyah, Syekh Muhammad Fathurahman mengatakan, "Thariqah Mu'tabarah bukan hanya sekadar memiliki ketersambungan silsilah dengan Nabi Muhammad , tapi juga dibawa oleh seorang Sulthan Awliya (Wali Quthub) di zamannya." 


Tarekat Syadziliyyah, Sanusiyyah, Qadiriyyah, dsb menjadi mu'tabarah karena dibawa oleh Wali Mursyid dizamannya. 


Thariqah Mu'tabarah bukanlah semata-mata warisan silsilah kepada pengasasnya. Tapi sanad thariqah yang dibawa secara kesinambungan dari Wali Mursyid kepada Wali Mursyid berikutnya hingga kini. 


Artinya, nilai dakwah yang dibawa oleh Mursyid Hakiki akan sesuai dengan situasi zaman, update. 


Sebaliknya ketika yang membawa bukan seorang Ulama Rabbani, maka akan mengalami degradasi. Alih-alih update kekinian Tarekat semacam ini akan tertinggal. Alias tidak mampu menjawab tantangan zaman.


Begitu pun dengan amalan-amalan seperti: shalawat, istighfar, atau wirid lainnya akan mengungguli. Pernah Syekh Muhammad Al Mahdi, salah seorang Mursyid Tarekat Sanusiyah, ditanya mengapa keutamaan membaca Shalawat Azhimiyyah sekali saja menandingi 33.333 kali keutamaan membaca Dalail al Khairat (kitab kumpulan shalawat tarekat Syadziliyyah karya Syekh Sulaiman al Jazuli). 


"Itu karena keutamaan orang (Syekh) yang membawakannya!" Jawab Syekh Al Mahdi.


Dasarnya, karena shalawat Azhimiyyah dibawa oleh Wali Mursyid kala itu, yakni Syekh Ahmad bin Idris Al Fasi ra.


Silakan Klik

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda






Share this article :

Posting Komentar