Rabu, 19 Agustus 2020

Home » » MUTIARA DZIKRUL MAKHSUS Doa Cinta

MUTIARA DZIKRUL MAKHSUS Doa Cinta

Masjid Al Fattah Tasikmalaya 

اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِيْ يُبَلِّغُنِيْ حُبَّكَ اللّٰهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِيْ وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang dingin,” (HR. Tirmidzi)


MafazaOnline | Dulu doa ini dibaca oleh Nabi Daud As, dan diamalkan oleh Nabi ﷺ. Begitulah estafeta ajaran Islam, syariat tersusun melengkapi. Puasa Nabi Daud As juga ditiru oleh Nabi ﷺ, karena merupakan puasa yang paling utama (sehari puasa sehari berbuka).

Jarang orang meminta 'Cinta kepada Allah'. Cinta (mahabbah) bagian dari proses tahalli (menghiasi) hati. Apabila ada dalam hati cinta kepada Allah maka hatinya menjadi indah. Jika keimanan semakin kuat maka akan lahir kecintaan kepada Allah. Firman Allah SWT menyebutkan,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

"Dan orang-orang yang beriman teramat cinta kepada Allah." (Q.S. Al Baqarah [02] : 165)

Orang yang cinta kepada Allah ingin segera bertemu, kematian adalah saat yang membahagiakan. Implikasi mahabbah adalah merasa senang diperintah dan dilarang. Di balik perintah dan larangan-Nya terdapat Kasih Sayang-Nya. Apabila diajak berjihad mengorbankan harta dan nyawa sekalipun akan merasa senang, karena dilandasi cinta.

Permohonan kedua adalah cinta kepada orang yang mencintai Allah. Sosok atau figur tersebut adalah Nabi Muhammad ﷺ  , para Ulama pewarisnya, Mursyid yang hakiki. Wujudnya di antaranya dengan memperbanyak membaca shalawat. Minimal 100 kali sehari semalam.

Salah satu kelebihan shalawat di dalamnya sudah termasuk doa. Ketika seseorang bershalawat dosa-dosanya diampuni, rezeki yang berkah diterima, keluarga dan hartanya dijaga.

Syekh Abdul Wahab Asy Sya'rani Rhm menyebutkan dalam kitabnya Al Anwar al Qudsiyyah, salah satu adab seorang murid dengan Mursyidnya adalah mahabbah (cinta) kepadanya. 

Apabila belum sampai kepada cinta tersebut —sehingga ia mengedepankan Mursyidnya daripada keinginan (syahwat) dirinya— maka  murid tersebut tidak akan sukses dalam menjalankan thariqahnya. 

Kecintaan kepada Mursyid merupakan pelatihan. Apabila bisa melewati, maka mahabbahnya akan naik kepada tingkatan mahabbah kepada Allah. 

Jadi, barang siapa yang tidak mencintai perantara antara dia dengan Allah SWT (diantaranya sosok Nabi Muhammad ﷺ atau figur Mursyid Rabbani) maka terhitung orang yang munafik. Dan orang munafik itu dicap dalam Al Quran berada di neraka paling bawah.

Para ahli Thariqah sepakat, kriteria cinta kepada Mursyid adalah selalu istiqamah taubat kepada Allah, dan mensucikan aib dalam dirinya. Mahabbah seorang murid harus dibuktikan dengan memperbaiki diri setiap saat. Barang siapa yang tercemar hatinya dengan dosa (tidak mau taubat), maka pengakuannya dusta (kadzib). Allah mencintai orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya.

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi mengisahkan tentang dirinya: Suatu ketika cintaku kepada Guruku Syekh Abu Madyan Ra telah mendarah daging pada jiwaku. Aku tidak lagi mampu memandangnya. Ia berbicara kepadaku dan akupun mendengarnya dengan penuh perhatian dan memahaminya.

Pernah Guruku menguji dengan meninggalkanku di suatu tempat tanpa makanan dan minuman. Ketika teman-temanku membawakan hidangan makanan maka berhentilah kecintaan itu di pinggirnya. 

Guruku melihatku sembari mengatakan dengan bahasa yang bisa didengar, “Dengan izinku, sekarang engkau makanlah sambil menyaksikanku!”

Aku pun tidak lagi berselera makan dan tidak merasa lapar karena dipenuhi dengan cinta, sehingga aku menjadi gemuk dan besar dengan hanya melihat sang Guru. Akhirnya melihat wajah sang Guru menggantikan posisi makanan. Aku bisa merasakan berbagai kelezatan dan tidak merasa lapar dan haus. 

Cintaku tidak pernah bergeser dari depan mataku, baik di saat berdiri maupun duduk, ketika bergerak maupun diam.

Kecintaan tersebut bersifat anugerah (Waridat Ilahiyyah), bukan dengan usaha manusia. 

Kecintaan kepada Mursyid menjadi media kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ . Selanjutnya cinta ini yang akan mengantarkan kecintaan kepada Allah SWT.

Dan permohonan ketiga dari doa cinta di atas adalah amal yang menyampaikan kepada kecintaan kepada Allah. Dzikir, shalawat, istighfar, menolong orang, dan bentuk kebaikan lainnya merupakan wasilah (perantara) kepada Kecintaan kepada Allah.



MOIIA 
Silky Pudding


Barangkali ada yang pernah liat...

Terus lupa siapa yg jual 😁 


💥Yes..I'm here 😃 

⇩⇩⇩

Silakan Klik:


Share this article :

Posting Komentar