Jumat, 18 Oktober 2019

Home » » Sepenting Ini Shalat bagi Umar

Sepenting Ini Shalat bagi Umar

Sadar dari pingsan akibat tikaman orang Majusi yang pertama ditanyakan adalah Apakah dirinya sudah shalat Subuh
 
ilustrasi

Mafaza-online | Umar bin Khattab ra adalah pemimpin yang adil, dan bertakwa kepada Allah Taala. Selain itu, Umar juga selalu berdoa kepada Allah Taala agar diberi kemuliaan mati syahid.

Putri beliau, Hafsah, terheran dan mengatakan, “Bagaimana mungkin  Ayah akan mati syahid, padahal selalu berada di Madinah karena sudah tua?” 

Seperti diketahui, dimasa kekhalifana Umar, Madinah pusat Islam yang aman, jauh dari medan peperangan.

Umar ra pun menjawab, “Caranya terserah Allah.”

Suatu hari, Umar ra berkeliling kota Madinah. Ketika sampai ke sebuah lapak, dilihatnya seorang pengrajin yang sedang sibuk menggarap kerjaannya. Orang itu ternyata adalah seorang Majusi bernama Fairuz An-Nahawandi, atau lebih dikenal dengan Abu Lu’lu’ah.

Umar ra. bertanya, “Apa kerajinanmu?” Abu Lu’lu’ah menjawab, “Aku membuat batu penggiling gandum?” 

Umar ra kembali bertanya, “Aku dengar kamu bisa membuat penggiling gandum yang digerakkan dengan angin?”

Abu Lu’lu’ah menjawab, “Aku akan membuat sesuatu untukmu yang akan diketahui orang di seluruh dunia.” 

Umar ra kaget dengan jawaban itu, dan memahami bahwa orang Majusi di hadapannya sedang menyampaikan sebuah ancaman.
   

Silakan Klik:

Di suatu Subuh di penghujung bulan Zulhijjah tahun 23 Hijriah, seperti biasanya Umar ra mengimami shalat di Masjid Nabawi. 

Ternyata sebelum kedatangan jamaah shalat subuh, Abu Lu’lu’ah telah lebih dulu menyelinap dan bersembunyi di dekat mihrab membawa sebilah pisau yang telah direndam dalam racun selama satu bulan. Dia berniat membunuh Umar ra.

Umar ra memulai shalatnya. Tapi Abu Lu’lu’ah tidak langsung membunuhnya karena khawatir masih ada sahabat yang datang untuk bergabung dalam shalat jamaah. 

Setelah shalat berlangsung beberapa waktu, saatnya Abu Lu’lu’ah menumpahkan dendamnya. Dia pun merangsek kearah Umar ra dan menusuk dan merobek bagian perut dan lainnya. Tikaman itu meninggalkan luka yang dalam dan lebar.

Setelah dirasa cukup luka yang dibuatnya, Abu Lu’lu’ah pun berusaha keluar dari masjid dengan cara melukai para sahabat yang menghalanginya. Sekitar 13 sahabat yang menjadi korban pisaunya, 7 di antaranya meninggal dunia. Ketika tertangkap dan berpikir tidak akan bisa menyelamatkan diri, dia pun bunuh diri dengan menusuk dirinya sendiri.

Umar ra pulang ke rumahnya. Beliau pingsan cukup lama. Putra-putri beliau bersama para sahabat berusaha membangunkannya tapi sia-sia. Hingga ketika matahari hampir terbit, Umar ra. terbangun. Beliau melihat dirinya berlumuran darah cukup banyak. Rasa sakit tak tertahankan menguasai dirinya.

Tapi apa yang ditanyakan beliau kepada orang di sekelilingnya dalam kondisi yang sangat parah itu? Ternyata beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah selesai melaksanakan shalat Subuh?” 

Mereka mengangguk mengiyakan. 

“Apakah aku sudah melaksanakannya?” 

Mereka menjawab, “Tersisa satu rakaat yang belum kau selesaikan.”

Maka Umar ra pun meminta air. Bukan untuk diminumnya, tapi untuk berwudhu. 

Beliau berdiri memulai shalatnya, tapi tak lama kemudian jatuh pingsan lagi. Demikian beberapa kali hingga akhirnya selesailah shalat beliau.

Barulah kemudian beliau bertanya tentang orang yang membunuhnya. Setelah mengetahuinya, beliau berkata, 

“Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kematianku di tangan orang yang belum pernah sekali pun bersujud kepada Allah yang bisa digunakan sebagai hujjah di akhirat nanti.” 

Mohammad Sofwan Abbas, MA | Mukjizat.co

Silakan Klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda


Pada 1994 buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq ini, memperoleh penghargaan King Faisal Prize dalam Kategori Kajian Islam.

Dengan kelengkapan kandungannya, buku ini sangat tepat menjadi salah satu referensi Anda.

Penerbit Al-’Itishom Cahaya Umat 

Beberapa alasan mengapa memilih Fiqih Sunah  Terbitan Al-Itishom


1. Kwalitas terjemah terbaik di kelasnya, berdasarkan pengakuan Dr. Taufiq Hulaimi MA (Pakar fiqih lulusan Al-Azhar)

2. Harga termurah.

3. Kertas ringan.

4. dll.

Penulis: Syaikh Sayyid Sabiq
Harga
Rp.460.000
(Belum termasuk Ongkir/Penagihan) 

Bisa dicicil 3 kali : 
Khusus Jakarta, Tasik, Magelang dan Yogya 

Pesan sekarang juga…
Hubungi:
Andi Purnama
081229088016
Share this article :

Posting Komentar