Senin, 07 Oktober 2019

Home » » Belajar Merdeka dari Ibrahim bin Adham

Belajar Merdeka dari Ibrahim bin Adham

Burung Gagak | Ilustrasi
Belajar dari burung gagak, Ibrahim bin Adham memilih hidup seadanya, tapi bukan menjadi pengemis

Oleh Erdy Nasrul*


Mafaza-Online | Seorang penguasa bernama Abu Ishaq bin Adham hidup pada abad kedelapan masehi. Masyarakat di Balkh (sekitar Afghanistan) mengenalnya sebagai pemimpin yang bijak dan berhati lembut. 

Kemana dia pergi, orang sekitar akan langsung memberikan penghormatan.

Suatu ketika, pria yang dikenal dengan nama lain Ibrahim bin Adham ini terduduk di sebuah tempat. Di sana dia membuka bekal makanannya. Tanpa diduga, seekor burung gagak datang mengambil sedikit makanan tersebut. Lalu terbang menuju bukit.

Orang bijak ini penasaran dengan burung tersebut. Dia membungkus makanannya. Lalu menunggangi dan memacu kudanya berlari mengikuti arah burung tadi. Namun burung itu begitu cepat membelah udara, sehingga tak lagi mengetahui ke mana hewan terbang itu mengarah.

Karena jejak terakhir yang diingatnya ke arah bukit, maka dia memacu kudanya ke sana. Sampai di dataran tinggi bukit tadi, Ibrahim menemukan seseorang dalam kondisi terikat. Burung gagak tadi ada di dekat orang tersebut. Paruhnya yang membawa makanan bergerak mendekati mulut orang yang terikat.

Burung tadi kemudian melepas makanannya. Mulut orang terikat itu terbuka dan menelannya. Hal seperti itu terjadi dalam beberapa hari sejak si pria terikat dan dibuang kawanan perampok. Namun dengan kuasa Allah, dia masih hidup dan tetap mendapatkan rezeki untuk makan. Sungguh luar biasa.



Kisah ini diabadikan seorang alim Syekh Muhammad Bin Abu Bakar Al-ushfuri dalam kitabnya, //Mawaizh Ushfuriyah// yang berarti nasihat burung. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah, setiap makhluk di alam raya ini memiliki rezeki sendiri-sendiri.

Sungguh mustahil Sang Pencipta membiarkan makhluknya hidup tanpa rezeki. Jangankan yang bebas bergerak, makhluk terikat, yang geraknya terbatas, seperti yang ditemui Ibrahim bin Adham pun masih mendapatkan rezeki. Tetap hidup dan mengagungkan asma Allah.

Manusia selalu didorong untuk selalu optimistis menjalani kehidupan. Selalu meyakini bahwa Allah menyayangi ciptaan-Nya yang tersebar di berbagai belahan dunia. 

Di mana pun mereka berada dan apa pun fungsi yang dijalani, tetap akan mendapatkan perhatiannya. Allah memerintahkan mereka untuk menikmati rezeki yang halal dan baik (al-Baqarah: 172).

Halal berarti sesuatu yang boleh dikonsumsi sesuai ketentuan Islam. Yang baik (//thayyib//) adalah segala makanan dan minuman yang layak dikonsumsi. Dengan mengonsumsi makanan semacam tadi, maka manusia akan menyukuri keadaan yang dialaminya.

Berbagi kepemilikan untuk menunjukkan hakikat dirinya sebagai makhluk sosial, yang tak bisa hidup sendirian. Juga memaksimalkan ibadah kepada Sang Pencipta, karena telah dianugerahi segala rezeki dan kenikmatan. Demikianlah Abu Bakar al-Ushfuri menjelaskan hikmah di balik kisah tersebut.

Bagaimana kelanjutannya? Sang pengarang menjelaskan, sejak itu, Ibrahim bin Adham semakin memasrahkan kehidupannya untuk Allah semata. Dia tinggalkan segala kekuasaan dan kenikmatan duniawi yang dimiliki.

Ibrahim banting setir menjadi orang yang hidup ala kadarnya. Jauh dari gemerlap dunia dan kemewahan yang selama ini dinikmati para bangsawan. Pria itu dikabarkan berkelana dari satu negeri ke lainnya.

Yang menarik adalah, meski dia hidup sederhana, tak pernah mengemis uang dan harta orang lain. Dia tetap bekerja. Di antaranya menjadi tukang kebun, membantu petani, atau sekadar berjualan. Semua itu dia lakoni untuk kesederhanaan memenuhi kebutuhan.

Ibrahim dikabarkan mengunjungi sejumlah tempat. Di antaranya adalah Kota Makkah. Setelah itu dia juga mengembara melewati padang pasir hingga sampai ke Yerusalem. 

Sekali lagi, dia hidup seadanya, tapi tetap mandiri. Tidak menjadi peminta-minta. Merdeka. Tak ada makhluk yang mengintervensinya.

*Wartawan Republika
Silakan Klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda


Pada 1994 buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq ini, memperoleh penghargaan King Faisal Prize dalam Kategori Kajian Islam.

Dengan kelengkapan kandungannya, buku ini sangat tepat menjadi salah satu referensi Anda.

Penerbit Al-’Itishom Cahaya Umat 

Beberapa alasan mengapa memilih Fiqih Sunah  Terbitan Al-Itishom

1. Kwalitas terjemah terbaik di kelasnya, berdasarkan pengakuan Dr. Taufiq Hulaimi MA (Pakar fiqih lulusan Al-Azhar)

2. Harga termurah.

3. Kertas ringan.

4. dll.

Penulis: Syaikh Sayyid Sabiq
Harga
Rp.460.000
(Belum termasuk Ongkir/Penagihan) 

Bisa dicicil 3 kali : 
Khusus Jakarta, Tasik, Magelang dan Yogya 

Pesan sekarang juga…
Hubungi: Andi Purnama 
081229088016
Share this article :

Posting Komentar