Senin, 30 September 2019

Home » » Tragedi Buah Apel

Tragedi Buah Apel


Sayyid Abu Shalih Ra di puncak masa mudanya, menghabiskan sebagian besar waktu  di medan jihad. Suatu ketika, beliau melakukan tafakur di pinggiran sungai sekitar tiga hari lamanya. Selesai dari ibadahnya, itu beliau merasa lapar. Apalagi menjalaninya sambil berpuasa. 
Ketika rasa lapar mendesak, di sungai itu ada sebutir apel yang hanyut. Arus sungai membawa apel itu mendekatinya. Seperti menghampiri begitu saja. Beliau turun ke sungai, memungut dan langsung memakannya. Tak perlu waktu lama, habislah apel itu. 

Tiba-tiba terlintas di benaknya, "Darimana asal apel ini?"

Meski apel ini hanyut di sungai, tapi tentu ada pemiliknya. Apalagi ini apel masih segar. "Aduhai celaka, berarti aku telah memakan apel yang bukan milikku," Begitu nuraninya bicara. 

Sayyid Abu Shalih muda segera menyusuri sungai. Dia bertekad mencari tempat asal apel itu, untuk meminta izin dari pemiliknya. Dia terus berjalan, meski sudah lumayan jauh jarak yang ditempuhnya. Hingga langkah kakinya terhenti di sebuah kebun. Dia melihat sebuah pohon apel yang beberapa dahannya terjulur di atas sungai. Buahnya ada yang jatuh ke sungai dan terhanyut.

Dia yakin, inilah pohon apel yang dimaksud. Shalih lalu masuk ke kebun itu dan bertanya pada tukang kebun, siapa pemilik pohon itu. Dari situ dia diberitahu bahwa pemiliknya adalah Syekh 'Abdullah Sum'i Ra. Langsung saja dia mengikuti arah telunjuk orang yang ditanya tadi. 

Setelah bertemu, Abu Shalih langsung menjelaskan peristiwa yang dialaminya. "Saya mohon maaf atas perbuatan saya, memakan apel milik tuan!"

Sosok yang dimintai maaf, menahan kaget dan menyadari bahwa lawan bicaranya kali ini bukan pemuda sembarangan. Dia yakin, pemuda itu adalah pilihan Allah. Syekh Abdullah Sum'i Ra  mengajukan syarat, Kalau mau dimaafkan harus merawat kebun itu dulu plus menjalankan jihad selama 10 tahun. 

Pemuda Abu Shalih, menerima syarat itu tanpa menawar. Hatinya sudah penuh rasa syukur karena permohonan maafnya diterima. 

Hari-harinya diisi dengan bekerja di kebun dan berjihad. Setelah lewat masa 10 tahun, dia kembali menemui Sayyid Abdullah Sum'i Ra untuk minta dimaafkan. Namun, Syekh Abdullah Sum'i memintanya lagi selama dua tahun. Lagi dan lagi, pemuda Abu Shalih, tidak keberatan. 

Singkat cerita, lewatlah masa dua tahun. Seperti kejadian sebelumnya, Syekh meminta satu syarat lagi.

"Wahai Abu Shalih! Aku memiliki seorang putri yang kedua kakinya lumpuh tangannya buntung, dia juga tuli dan buta. Aku ingin kau menikahnya!"

Sama seperti sebelumnya; Lagi lagi, pemuda Abu Shalih, ringan saja menerima syarat itu.   

Walimahan pun segera digelar. Ketika Abu Shalih memasuki kamar untuk menjumpai istrinya, dia heran. Di antara takjubnya dia tersadar melihat, seorang dara cantik jelita, utuh dan normal. Sosok bak bidadari itu tersenyum riang menanti di sudut kamar. 

Alih alih menyapa si Cantik, Pemuda itu, justru berbalik menemui Syekh Abdullah Sum'i. 

Tanpa ditanya Syekh pun langsung menerangkan: 
"Jangan takut atau bingung, dialah Putriku. Semua yang kukatakan tentang Putriku adalah benar.
kakinya lumpuh, karena dia belum pernah sekali pun meninggalkan rumah ini untuk bermaksiat. 
Tangannya buntung, karena dia tidak pernah menggunakannya untuk perbuatan yang dilarang syariat
Matanya buta, karena dia menjaga pandangannya dari orang lain, selain mahram. 
Telinganya Tuli, maksudnya menulikan diri dari perkataan laghwi yang bertentangan dengan syariat!"

Dari penjelasan itu, tersingkaplah tabir yang dijalaninya selama 12 tahun. Dalam pengabdian, tak ada yang sia-sia semuanya menjadi bernilai. 

Dari kedua hamba Allah yang taat itu, lahirlah:   Al Ghauts Al A'zham Syekh Abdul Qadir Al Jilani RA   

Sumber: 


Silakan Klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar