Jumat, 13 September 2019

Home » , » Habibie, Budaya Membaca dan Masa Depan Bangsa

Habibie, Budaya Membaca dan Masa Depan Bangsa

Dengan membaca, bisa mewarnai kehidupan dengan segala kebaikan sehingga bangsa ini semakin maju. Saya meyakini ini adalah harapan Habibie


  • Republika

Habibie, Budaya Membaca dan Masa Depan Bangsa

Mafaza-Online | Saat mendapat tugas mewawancarai tokoh, saya menyempatkan diri untuk melihat perpustakaan pribadinya. Di sana saya melihat berbagai buku yang menjadi rujukan tokoh tersebut. Seperti ketika mewawancarai Yenny Wahid sebagai Tokoh Perubahan Republika di kediamannya.

Hal sama juga saya lakukan ketika mewawancarai Presiden RI ketiga BJ Habibie pada sebuah pagi tahun 2016. Ketika itu saya datang bersama tim Republika. Sampai di kompleks perumahan Patra Kuningan, kami melewati pos pemeriksaan protokoler. Setelah itu menunggu di ruang tamu.

Lalu diarahkan untuk berjalan melewati area kolam ikan menuju ruangan terpisah. Begitu pintu dibuka, terlihatlah buku-buku tertata rapi dalam dua lantai. Luas ruangan itu ratusan meter dengan dominasi nuansa kayu yang elegan.

Satu per satu saya melihat buku-buku koleksi pribadi ayah dari Ilham dan Thareq ini. Ada tentang teknologi, ensiklopedia, terjemahan Al Quran. Juga buku-buku karangan Albert Hourani tentang sejarah dan dinamika keislaman.

Ada juga Tafsir al-Azhar Hamka. Buku yang terakhir ini menjadi rujukan interpretasi Alquran Muslim Indonesia. Penjelasannya runut dan disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Juga sesuai dengan konteks kemodernan dan keindonesiaan yang kaya budaya.

Baru saja saya melihat koleksi pribadi itu, Habibie mengucapkan salam dan memasuki perpustakaan. Lalu mempersilakan kami untuk duduk. “Panggil saya eyang,” kata Habibie memulai pembicaraan tentang perjalanan hidupnya yang ketika itu sudah sampai usia ke-80 tahun.

Silakan Klik:

Ada beberapa kesimpulan saya setelah melihat perpustakaan tersebut. 

Pertama, Habibie adalah sosok yang gemar membaca sejak lama. Dengan begitu wawasannya luas. Pemikirannya sistematis. Kemudian didukung dengan riyadhah batiniyah, sehingga tampil percaya diri saat beretorika. Lawan bicara pun asyik ketika bertukar pikiran dengannya, karena Habibie menerangkan banyak hal tentang keilmuan dan juga pengalaman dari berbagai belahan dunia dan bidang.

Kedua, Perpustakaan itu adalah inspirasi bagi generasi penerus bangsa, bahwa mereka harus banyak membaca. Al Quran mengajarkan manusia untuk membaca dengan nama Tuhan. Apa saja bisa menjadi objek bacaan. Diantaranya buku, gejala alam, dinamika sosial, pengalaman keagamaan, dan segala yang dirasakan organ tubuh. Semua itu menjadi pengetahuan dan tanda akan kebesaran Illahi.

Yang menjadi permasalahan adalah, minat membaca buku masyarakat Indonesia sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian Central Connecticut State University pada 2016 mengenai 'Most Literate Nations in The World", Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari total 61 negara terkait minat membaca. 

Minat membaca masyarakat Indonesia berada pada angka yang miris sekali, yaitu 0,01 persen atau satu berbanding sepuluh ribu.

Orang besar di dunia ini tidak lepas dari membaca. Selain Habibie, ada pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Kepada masyarakat luas dia menyarankan membaca buku Ibnu Khaldun Muqaddimah. Isinya tentang ragam dinamika sosial dan peradaban yang disusun berdasarkan pengalaman dan keilmuan sang alim.

Abraham Harold Maslow juga membaca banyak buku sehingga menemukan figur-figur yang mengaktualisasikan diri. Merekalah yang memperbarui pandangan dunia psikologi bahwa ilmu tersebut juga bermanfaat untuk untuk orang sehat, bukan hanya orang-orang yang mengalami sakit kejiwaan.

Bapak pendiri bangsa ini, Bung Karno juga gemar membaca buku. Bahkan saat diasingkan dia mengumpulkan catatan yang disusun menjadi buku. Penuh dengan pergolakan pemikiran tentang kemerdekaan dan semangat antipenjajahan. Tak cukup tulisan ini jika harus memaparkan para tokoh dunia yang gemar membaca.

Bangsa ini akan maju dengan cepat jika masyarakatnya gemar membaca. Dengan memahami banyak wawasan dan ilmu pengetahuan, mereka mengetahui akhlak mulia. Kepemimpinan akan berjalan untuk mengayomi, bukan mewujudkan ambisi segelintir orang dengan memonopoli segala potensi yang ada di sekelilingnya.

Membaca akan mengarahkan seseorang untuk kembali kepada fitrah sebagai makhluk sosial. Lebih membangun kebersamaan. Mau mendengar kebaikan. Dengan membaca, seseorang akan mendapatkan inspirasi. Hati tergerak untuk melakukan terobosan yang meningkatkan taraf kehidupan menjadi lebih baik.

Silakan Klik

DUA VARIAN RASA Gula Aren dan Kayu Secang

Sebagai langkah awal. Mari mulai menggalakkan membaca dari diri sendiri. Dilanjutkan dengan keluarga dan orang dekat kita. Ajak mereka membaca sastra untuk melembutkan hati dan memperkaya diksi. 

Kupas dinamika politik agar memahami seni kepemimpinan dan jalan terbaik menuju kekuasaan. 

Diskusikan perekonomian sehingga kita sampai pada angka-angka yang menggambarkan keadaan saat ini. Macam daya beli, inflasi, suku bunga, dan banyak lagi.

Dengan banyak membaca, generasi muda, khususnya kaum terpelajar akan tumbuh menjadi insan beradab. Jauh dari budaya tawuran, tutur kata terjaga, terampil, dan menghormati orang lain. Dengan begitu mereka tumbuh menjadi insan yang melebur dalam kebersamaan. 

Dengan membaca, bisa mewarnai kehidupan dengan segala kebaikan sehingga bangsa ini semakin maju.

Saya meyakini ini adalah harapan Habibie, manusia universal yang mendedikasikan hidupnya untuk keindonesiaan dan kemajuan. Sosok gemar membaca dengan ribuan koleksi buku yang tertata rapi dalam perpustakaan pribadi. Allah yarhamuhu.

Silakan Klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar