Kamis, 19 September 2019

Home » » Es dawet Mbah Hari yang Melegenda

Es dawet Mbah Hari yang Melegenda

Masih Bertahan meski sudah lebih dari 50 tahun, Es Dawet Mbah Hari Minuman nDeso dari Pasar Beringharjo, Yogyakarta  
  • Evi Nur Afiah


Es dawet Mbah Hari yang Melegenda 
Mafaza-Online | Minuman tradisional di Yogya tak pernah ada habisnya untuk terus dinikmati. Banyak ragam serta cita rasa yang ditawarkan membuat siapa saja penikmatnya bakal dibuat ketagihan. 

Salah satunya Es Dawet Mbah Hari yang sudah melegendaris di Kota Budaya ini.

Es Dawet Mbah Hari berlokasi di Pasar Beringharjo Yogyakarta, tepatnya di los pertama sebelah utara. Lebih dari setengah abad, Mbah Hari berjualan di tempat ini dan setia menyajikan dawet tradisional bagi pembeli.

"Mbah sudah berjualan di Pasar Beringharjo sejak tahun 1965. Waktu itu Mbah masih muda sekali dan minuman saat itu sedikit, belum banyak dan aneh-aneh seperti saat ini,” kata Mbah Hari di Pasar Beringharjo, Kamis (05/09/2019). 


Silakan Klik:


Apa yang dihidangkan Mbah Hari selama 54 tahun tersebut tak berubah, bahkan rasanya juga tak berbeda seperti zaman dulu sejak ia pertama berjualan. Yang membuat bangga lagi, seluruh menu dan varian dawet Mbah Hari buat sendiri secara tradisional.

Cara pengolahannya pun tidak menggunakan mesin. Dengan dibantu suami, sejak malam hingga dini hari Mbah Hari sudah mempersiapkan segala kebutuhan menu Es Dawet buatannya untuk siap disajikan bagi pembeli.

Es Dawet Mbah Hari berisi cendol warna-warni, cincau, santan dan juruh (gula jawa dan nangka). Dalam menyajikannya, Mbah Hari menggabungkan seluruh varian dan menambahkannya dengan es batu agar minuman legendaris ini tambah segar.

Rasa Es Dawet Mbah Hari manis dan gurih, dicampur dengan santan kelapa. Rasa manis dari juruh bercampur nangka membuat siapa pun penikmatnya serasa kembali ke zaman dahulu.

Mbah Hari bercerita, ia berjualan es dawet mengikuti jejak ibunya yang saat itu menjajakan minuman tersebut. Merasa tertarik, ia pun ikut berjualan dan terus bertahan hingga sampai saat ini.

“Resep ini turun temurun dan asli dari ibu saya. Saya tidak pernah menambahi apa, biar rasanya asli seperti apa yang ibu saya buat dahulu,” ujarnya.


Silakan Klik


DUA VARIAN RASA Gula Aren dan Kayu Secang

Mbah Hari mulai berjualan sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Bersama suami, buyut yang telah memiliki cicit ini berangkat dari Bantul menuju Pasar Beringharjo dengan menggunakan sepeda onthel.

Ia sengaja tetap bertahan berjualan di Pasar Beringharjo karena telah memiliki banyak pelanggan. Jangankan pindah, sehari saja Mbah Hari libur berjualan pasti para pembeli sudah menanyakan keesokan harinya dan selalu memintanya untuk tetap berada di Pasar Beringharjo.

"Karena sudah punya pelanggan. Kalau pindah para pelanggan akan kesusahan mencari. Di sini saja karena ibu dari awal sudah di Pasar Bringharjo," tutur Mbah Hari.

Pembeli Es Dawet Mbah Hari tak hanya para pedagang di Pasar Beringharjo. Wisatawan baik domestik maupun manca dibuat penasaran menuman ‘ndeso’ ini bahkan sampai-sampai ketagihan.

Es Dawet Mbah Hari cukup murah, dengan merogoh kocek Rp 5.000 satu mangkuk minuman segar akan disajikan dan siap dinikmati. Walau tempatnya agak masuk ke dalam pasar, namun tempat jualan Es Dawet Mbah Hari tak pernah sepi.

“Saya akan tetap berjualan es dawet ini sampai nanti sudah tidak kuat lagi. Selama masih bisa saya akan terus membuatkan es dawet kepada  pembeli,” ujarnya. 


Silakan Klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Posting Komentar