Jumat, 16 Agustus 2019

Home » » Optimis dan Husnuzhan Alutsista Manusia Sukses

Optimis dan Husnuzhan Alutsista Manusia Sukses


وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ
إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)

Oleh: Warsino*


Mafaza-Online | Perjalanan ke Kota Malang kali ini kami lakukan dengan jalan darat. Sejak dari rumah, diantar dengan taksi online, naik kereta, dan dilanjutkan dengan taksi online kembali menuju tempat tujuan.

Di antara yang menarik sepanjang obrolan dengan driver taksi online adalah optimisme dan rasa prasangka baik ditengah kondisi ketidakpastian ekonomi saat ini.

"Tugas kita bekerja dan berusaha Pak. Masalah hasil, serahkan kepada Allah. Nggak usah khawatir. Optimis saja. Kalau kita ikhlas, Insya Allah rejeki berkah. Kalau optimis dan berbaik sangka kepada Allah, kita akan tetap tenang dan senang!" tuturnya.

Optimis dan prasangka baik menjadi "alutsista" kehidupan manusia. Apalagi, hidup hanya mengenal dua sisi yang saling mengisi. "Watilkal ayyamu nudaawiluha bainnaas..". Dua sisi yang saling dipergilirkan. Kadang susah, kadang bahagia. Ada saatnya berjaya, namun dilain waktu kita sengsara. Kedua hal ini adalah ujian bagi manusia, lulus tidaknya, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Optimislah yang membuat Rasulullah bertahan dalam dakwah. Ketika penduduk Thaif mencaci maki, melempar dengan batu dan kotoran, hingga malaikat menawarkan untuk menimpakan gunung besar kepada penduduk Thaif tetap kokoh. Dari lisan sucinya terpatri kalimat yang menyejarah. 

"Jangan, semoga lahir dari keturunan mereka yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya." (HR Bukhari).

Optimislah yang membuat Siti Hajar penuh keyakinan, tetap berlari tujuh putaran Shafa dan Marwa.  Hingga menyembullah mata air zam-zam. Air yang tak hanya menyelamatkan bayi Ismail dari kehausan, tapi tumbuhnya peradaban.

Optimislah yang membuat sebagian masyarakat Inggris bertahan dan mencari solusi terbaik, ketika seorang Thomas Robert Maltus (1778) mempublikasikan penelitiannya, bahwa pertumbuhan manusia akan jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan sumber energi dan makanan. 

Dari penelitian itu, masyarakat Inggris terbelah. Sebagian orang menganggap kiamat sudah di depan mata, karena sumber pangan akan habis. 
bahkan ketika tak ada bantuan teman
Sebagian yang lain bersikap optimis, mereka menjadi orang yang kreatif dan inovatif. Sikap yang kedua ini memacu kemajuan dunia pelayaran, teknologi pertanian dan industri.

Hanya orang yang optimislah, mampu menemukan jalan pulang ketika tersesat ditengah pencarian tujuan. 

Hanya orang optimislah, mampu bangkit setelah terjatuh, bahkan ketika tak ada bantuan teman. 

Hanya orang optimislah, mampu timbul kembali dari tenggelam. Keluar dari gelapnya lautan penderitaan yang dalam. 

Hanya orang optimislah, mampu mengubah butiran debu menjadi segunung semangat dalam belantara kehidupan. 

Hanya orang optimislah, tak larut bersama syair-syair cengeng yang dilantunkan para penyanyi yang hanya menurunkan motivasi.

Maka, optimislah...tetap ber-amal. Karena Allah SWT dan Rasulullah serta orang-orang beriman akan menjadi saksi atas semangat dan kerja-kerja kita.

* Motivator FORSA Consulting  
Batu, 24 Juli 2019

Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar