Jumat, 16 Agustus 2019

Home » » OPO TUMON Anomali Politik Dunia

OPO TUMON Anomali Politik Dunia

  • theguardian.com 




Rashida Tlaib dan Ilhan Omar  
Opo tumon adalah istilah bahasa Jawa yang menggambarkan ekspresi keheranan atas suatu peristiwa sosial atau politik

Oleh: Ahmad Dzakirin*

Ahmad Dzakirin 
Mafaza-Online | Sesuatu itu tidak mungkin atau tidak boleh terjadi karena alasan etik atau bertentangan dengan kaidah alam. Karena jika terjadi peristiwa itu, maka akan dianggap lucu, konyol, memalukan dan tidak masuk akal.

ISRAEL - AS
Dalam konteks itu, maka tindakan Donald Trump yang meminta Israel untuk melarang kunjungan anggota Konggres Rashida Tlaib dan Ilhan Omar jatuh dalam kategori di atas. 

Seorang presiden seharusnya mewakili kepentingan negaranya, termasuk warga negaranya. Rashida dan Omar tidak hanya warga negara, namun juga pejabat tinggi Amerika. 

Di tengah polemik dan perbedaan politik, seharusnya menjadi tugas kepala negara untuk melindungi hak kedua anggota Konggres dalam menjalankan tugas politik dan konstitusionalnya. 

Alih-alih, Trump secara memalukan menjalankan perannya sebagai komprador (kaki tangan) Israel karena meminta negara itu melarang kedatangan pejabat tinggi negaranya. Aneh bukan.

Tindakan 17 anggota Konggres, termasuk Ilhan Omar dan Rashida Tlaib yang menentang resolusi tidak mengikat (non binding resolution) atas gerakan BDS (Boycott, Divestment and Sanction) adalah tindakan sah karena praktik pendudukan dan diskriminasi Israel atas rakyat Palestina.

Bagi Israel, rekomendasi Trump via twitnya menjadi sangat penting karena posisi AS yang terhormat secara diplomatik. Beberapa jam setelah itu, Israel secara meyakinkan melarang Rashida dan Omar masuk Israel.
  
  • aljazeera.com




Mohamed bin Salman dan Xi Jinping
China - OKI
Dalam konteks yang sama-sama memalukan, 37 negara Asia dan Afrika berkirim surat ke PBB untuk mendukung kebijakan represif China atas Muslim Uighur di Xinjiang.

Katanya, "Dalam menghadapi ekstrimisme dan terorisme, China melakukan serangkaian tindakan konter terorisme dan deradikalisasi, di antaranya mendirikan pendidikan ketrampilan dan pusat pelatihan."

Lebih dari itu, mereka memuji langkah China dalam memperbaiki praktik dan kualitas HAM di provinsi mayoritas Muslim tersebut.

Surat itu sendiri sebagai balasan surat 22 negara Eropa, Australia dan Jepang kepada Komisi HAM PBB yang mengkritik keras kebijakan pembatasan dan pemenjaraan massal Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Anehnya, dari 37 negara yang mendukung kebijakan represif China lebih dari sepertiganya anggota OKI (Organisasi Konperensi Islam) dan 22 negara yang memprotes kebijakan China atas Muslim Uighur tidak ada satupun berasal dari negara-negara Muslim. 

Jadi, opo tumon?

Syukurlah, Indonesia tampaknya lebih baik dari negara-negara seperti Saudi, Qatar, Pakistan, yang secara tradisional dianggap sebagai negara yang berpihak kepada kepentingan Muslim, karena "berani" abstain di tengah perebutan pengaruh tersebut.

Di tengah ketergantungan yang tinggi atas China, Indonesia masih memiliki derajat independensinya dalam politik luar negeri. 

Tidak berani mengkritik China, namun tidak juga ikut-ikutan menjadi bagian dari konsertasi penindasan dan ketidakadilan.

Dunia sekarang ini berada dalam kondisi anomali, seseorang tidak lagi dapat menyuarakan apa yang menjadi kepentingannya dan seseorang tidak malu untuk menjadi kepanjangan apa yang bukan menjadi kepentingannya. 

Di saat itu pula, "opo tumon" menjadi istilah yang pas untuk menjelaskan gejala sosial yang buruk tadi.

*Pengamat Dunia Islam

Silakan Klik




Share this article :

Posting Komentar