Kamis, 15 November 2018

Home » » Identifikasi Diabetes Ibnu Sina

Identifikasi Diabetes Ibnu Sina



Mafaza-Online | Hari ini, banyak media menulis tetang World Diabetes Day atau Hari Diabetes Sedunia yang jatuh setiap tanggal 14/11. Saat ini Indonesia berada di peringkat ke-7 untuk negara dengan jumlah pasien diabetes terbanyak di dunia. Tak kurang 10 juta orang Indonesia hidup sebagai diabetesi (sebutan untuk penderita diabetes).
Saya sudah teredukasi dan “akrab” dengan penyakit ini sejak kecil. Karena Papi seorang diabetesi. Begitupun dengan beberapa orang kakaknya, kakeknya, neneknya, dan banyak lagi keluarga lainnya. Tak hanya Papi, Lambang juga seorang diabetesi.
Karena penyakit ini degeneratif dalam keluarga, sejak kecil saya sudah menjauhi segala minuman dan kudapan manis. Saya tidak bisa minum teh manis. Bahkan, mengulum permen membuat lidah saya terasa sakit, karena tidak biasa. 


Jauh sebelum pengobatan medis modern berhasil menemukan bermacam obat dan terapi untuk penderita diabetes, bapak kedokteran Muslim Ibnu Sina (980-1037) atau yang di Barat dikenal sebagai Avicena telah mengidentifikasi penyakit ini.
Ia menuliskannya secara rinci dalam kitabnya yang termasyur Al-Qanun Fi al-Tibb (The Canon of Medicine) gejala, ciri-ciri, pencegahan serta pengobatannya. Secara umum ia membagi diabetes menjadi dua sesuai ciri-ciri penderitanya. 
Tak sampai di situ, Ibnu Sina juga berhasil mengindikasikan kaitan obesitas, diabetes dan gangguan ginjal. 
Menariknya lagi, salah satu pencegahan dan pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi jumlah asupan melalui mekanisme puasa. 
Itu semua ditulisnya lebih dari 1.000 tahun lalu, yang sampai sekarang masih relevan diterapkan. Subhanallah…
Asupan yang berlebihan menyebabkan gula dalam darah tak terkendali. Namun kita sering abai. Padahal, Alquran telah dengan jelas mengatur pola makan ini dengan sangat indah, seperti yang tertulis dalam QS Al A’rāf 31: “Makanlah dan minumlah, namun jangan berlebih-lebihan.”
Perintah ini diperjelas lagi dengan “Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya." [HR. Ahmad, Tirmizi, dan Ibnu Majah no. 1939].
Tak hanya itu, Islam juga mengenal konsep makanan thayyib. Yakni makanan yang baik. “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. [QS. Al-Baqarah: 172]
Pada penderita diabetes contoh yang paling mudah adalah gula. Sekalipun gula adalah bahan makanan yang halal, namun tidak thayyib bagi mereka. 
Kalau sekarang pola diet diabetesi diatur dengan istilah jumlah, jenis dan jam, sesungguhnya 14 abad lalu Islam sudah mengabarkannya.

Kb Jeruk, 14 Nov 2018

Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda


Share this article :

Posting Komentar