Kamis, 15 November 2018

Home » » Banjir dan Longsor Cipatujah Tasikmalaya

Banjir dan Longsor Cipatujah Tasikmalaya

Banjir dan Longsor Cipatujah Tasikmalaya

Banjir dan Longsor Cipatujah Tasikmalaya | Foto: Idrisiyyah
Mafaza-Online | Curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Tasikmalaya pada Senin (5/11/2018) kemarin, mengakibatkan jembatan putus pada pagi hari tadi jembatan antara Ciandum dan Ciheras yang merupakan jalan Nasional.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho hujan deras yang mengguyur kawasan itu mengakibatkan meluapnya aliran sungai Cipatujah. Dua orang meninggal dunia dan 50 KK terdampak. Luapan air itu merendam sebanyak 50 KK di tiga kecamatan yakni Kecamatan Cipatujah, Kecamatan Karangnunggal dan Kecamatan Culamega. Tak hanya itu, ruas jalan Cipatujah menuju, Ciheras, Pameungpeuk atau Garut Selatan, lumpuh total.

"Lumpuhnya arus jalan tersebut menyusul putusnya jembatan Pasanggrahan. Menurut laporan masyarakat, jembatan putus akibat arus air yang deras dari hulu sungai Pasanggrahan," tulis Sutopo.

Sutopo mengatakan, Tinggi Muka Air (TMA) sekitar 30 cm hingga 1,8 meter.

Dampaknya bagi Qini Vaname  General Manajer Tampak Udang Qini Vaname Idrisiyyah Ustadz Sidik Aryo Prasojo, SE. saat diwawancarai idrisiyyah.or.id, Kamis (08/11), menyampaikan, "Alhamdulillah tidak ada dampak yang signifikan karena banjir untuk tambak udang, karena air banjir langsung masuk kelaut tanpa ada yang masuk ke wilayah tambak," jelasnya.

Ustadz Sidik sempat khawatir karena ombak laut pada waktu itu menurut perkiraannya sekitar 1 meter. Sebagaimana menurut BNPB diatas, tinggi muka air mencapai 1,8 meter. Memang tidak terlalu besar akan tetapi karena debit air yang besar dari hulu membuat bibir pantai kala itu menjadi naik dari biasanya.

"Sungguh tidak kami duga sebelumnya ombak besar dapat dipecah dengan tumbukan sampah kayu yang berserakan dibibir pantai depan tambak," tuturnya.

Silakan Klik:

Dampak yang timbul akibat ambruknya jembatan penghubung di Cipatujah membuat distribusi dan operasional Tambak menjadi terganggu. Karena untuk operasional sehari-harinya sering membeli ke kota Tasikmalaya seperti belanja macam-macam peralatan, kebutuhan tambak dan kebutuhan karyawan tambak yang sedang sedikit mengalami kendala. Solusinya hanyalah jalan alternatif melalui Garut, walaupun menghabiskan waktu yang lama karena jarak tempuh 3 kali lipat dari jalur biasanya. Inilah satu-satunya solusi agar pengiriman vitamin untuk udang dan material tambak tetap berjalan lancar.

"Alhamdulillah, Sampai sekarang belum terjadi kekurangan pakan udang karena sebelumya telah disediakan stok makanan untuk 15 hari," ungkapnya.

Hikmah dari musibah ini bagi Ustadz Sidik, menyadarkan bahwa manusia hamba yang dha'if, Allah SWT bisa berkehendak apa pun. Dari petuah Guru Mursyid Syekh Akbar Fathurahman dirinya jadi paham, bahwa setiap terjadi musibah pasti Allah SWT memberikan hikmah.

"Kami selalu siap, tangguh dan ulet dalam menghadapi berbagai situasi dan permasalahan," ujarnya.

Sebagai pihak yang diberi amanah untuk mengelola Tambak Qini Vaname, Ustadz Sidik menemukan kembali jalinan komunikasi dengan berbagai pihak. Seperti dengan pihak PLN karena sempat terganggunya aliran listrik kala itu. Begitupula dengan warga sekitar dan petani binaan terjalin kembali komunikasi yang hangat.

"Dengan kejadian ini komunitas petani menjadi hidup kembali karena menanyakan berbagai hal yang harus diatasi akibat musibah banjir," pungkasnya.



Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar