Sabtu, 05 Agustus 2017

Home » » Olahraga Juga untuk Olah Jiwa

Olahraga Juga untuk Olah Jiwa

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ فَقَدْ عَصَى

“Barangsiapa yang tahu cara memanah lalu dia meninggalkannya maka dia bukan golongan kami atau sungguh dia telah bermaksiat.”
(HR. Muslim no. 1919)


  
Panahan Ilustrasi | efbe
Mafaza
-Online |
Olahraga memperkuat dan membentuk imunitas tubuh terhadap penyakit. Seperti kata Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (1292-1350 M) dalam bukunya Zad al-Ma'ad  menekankan pentingnya berolahraga dan efeknya pada tubuh.

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menyetarakan penguatan memori melalui membaca dan berpikir dengan  seni berolahraga yang melatih pendengaran, komunikasi, observasi, dan gerak. Riyadhah juga bagus untuk pengelolaan emosi, seperti senang, sedih, sabar, waspada, kemampuan memaafkan, keberanian, sportif dan jiwa satria.

Ajaran Islam juga secara tak langsung mensyaratkan kesehatan fisik guna  menopang terlaksananya ibadah yang baik, seperti shalat dan haji.

Salim al-Hassani dalam artikelnya “A 1,000 Years Amnesia: Sports in Muslim  Heritage” mengungkapkan, selain sains dan teknologi, banyak yang mengagungkan Eropa sebagai kiblat olahraga. Padahal, tiap kebudayaan  memiliki olahraga khas, termasuk Islam.

Olahraga, seperti kriket dan polo, sering diidentikkan dengan Inggris. Jangan salah, kriket asli India Utara yang sudah ada sejak 700 M. Polo permainan tradisional bangsa Persia dan Afghanistan.

Sejarahnya tak hanya sains, seni, dan teknologi, tapi juga olahraga ikut bersinar saat Islam berjaya pada 600 M hingga 1600 M. Betapa, Islam menghapuskan olahraga destruktif seperti gladiator saat merambah  Eropa.


Olahraga dalam Islam sebenarnya tak hanya sekadar untuk kebugaran, tapi juga untuk olah jiwa

Dalam olahraga, perlombaan lari antara Rasulullah saw dan  Aisyah ra menjadi contoh populer. 

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))
 
  
Rasulullah saw juga menganjurkan orang tua untuk mengajarkan  anaknya berenang, menunggang kuda, dan memanah.


Dikeluarkan oleh Imam An Nasa’i dalam Sunan-nya,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبٍ الْحَرَّانِيُّ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحِيمِ ، قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحِيمِ الزُّهْرِيُّ ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ ، قَالَ : رَأَيْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، وَجَابِرَ بْنَ عُمَيْرٍ الأَنْصَارِيَّيْنِ يَرْمِيَانِ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ ، فَهُوَ لَهُوٌ وَلَعِبٌ ، إِلا أَرْبَعَ : مُلاعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَتَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ ، وَمَشْيُهُ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ ، وَتَعْلِيمُ الرَّجُلِ السَّبَّاحَةَ “

 
"Muhammad bin Wahb Al Harrani mengabarkan kepadaku, dari Muhammad bin Salamah, dari Abu Abdirrahim, ia berkata: Abdurrahim Az Zuhri menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Abi Rabbah, ia berkata: aku melihat Jabir bin Abdillah Al Anshari dan Jabir bin Umairah Al Anshari sedang latihan melempar. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “setiap hal yang tidak ada dzikir kepada Allah adalah lahwun (kesia-siaan) dan permainan belaka, kecuali empat: candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, latihan memanah, dan mengajarkan renang”.
  
Menurut taksiran Malcolm Wright dalam “Who Wrote the First ‘Useful’ Archery Manual?” olahraga memanah bisa jadi merupakan olahraga tertua yang menggunakan alat yang sudah ada sejak zaman batu (20 ribu sebelum Masehi). Variasi bentuk dan material busur serta panah kemudian berkembang dari zaman ke zaman meski bentuk busur tak banyak mengalami perubahan selama ribuan tahun.

Kalau kita perhatikan dari memanah ini berkembang panah api, roket hingga rudal.

Rasulullah memandang kekuatan fisik menjadi salah satu bagian penting seperti pernah disabdakan;

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan" (HR Abu Hurairah)

Rasulullah sendiri merupakan pemanah dan memiliki tiga busur. Memanah pada  zaman Rasulullah menjadi kemahiran yang lazim dimiliki seorang Muslim. Sahabat Sa'ad bin Abi Waqas dikenal sebagai pemanah andal.

Pada zaman Rasulullah juga dikenal olahraga gulat di kalangan pemuda. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid menjadi dua tokoh yang penah disebut beradu gulat.

Ali bin Abi Thalib terkenal karena ketangkasannya menggunakan pedang di medan tempur dengan pedanganya yang terkenal, Dzul Fiqar. Sampai Rasulullah memujinya, tidak ada pedang yang setara dengan Dzul Fiqar dan tidak ada pemuda yang setangkas Ali bin Abi Thalib dalam menggunakan pedang.

  
Hadis Rasulullah Tentang Memanah

 

Bersabda Rasulullah saw; "Adakah kamu tahu bahwa kekuatan itu ada pada memanah?"

Telah dikabarkan oleh Abdullah bin Muhammad Abu Qasim Al-Thaghari, katanya telah menceritakan kepada kami oleh Daud, katanya telah menceritakan kepada kami Mubarak yaitu Abdullah bin Abdul Rahman bin Yazid bin Jabir, katanya telah menceritakan kepada Abu Muslim dari Khalid bin Yazid, katanya: "Aku adalah seorang pemanah." 

 

Maka Uqbah bin Amir lalu dekatku sambil berkata:
 

"Sesungguhnya Allah Taala memasukkan tiga orang ke Syurga disebabkan oleh satu anak panah, yaitu pemilik anak panah itu yang mengharapkan kebaikan daripadanya, pemanah (yang menggunakan anak panah itu) dan pembuat anak panah itu. Memanahlah kamu dan tungganglah kuda, sesungguhnya jika kamu memanah, lebih-lebih aku sukai dari kamu menunggang kuda, tidak sia-sia seseorang yang melatih kuda untuk permainan keluarganya dan melatih memanah dengan busur dan anak panahnya. Siapa pun yang meninggalkan memanah atas kehendaknya sendiri setelah mempelajarinya, sesungguhnya ia telah meninggalkan (semua ganjaran baik) ini atau telah mengingkarinya."

Diriwayatkan dari Rasullullah saw adalah baginda melihat seorang lelaki dari sahabat baginda yang dipanggil dengan gelaran Habib, badannya kurus dan ia pernah menjadi seorang pemanah. Maka bersabda baginda kepadanya, "Apa yang engkau lakukan dengan panahmu dan badanmu?" Dijawab oleh lelaki yang berada di samping Habib, "Dia telah meninggalkan memanah dan kini cenderung kepada beribadat." 

 

Maka sabda Rasulullah saw:
 

"Demi Allah, yang mengutus aku dengan kebenaran, kerjamu sekarang ini (beribadat) tidaklah lebih utama dari kerjamu yang engkau telah tinggalkan itu (memanah). Hai Habib kembalilah memanah!"

Diriwayatkan dari mereka yang dipercayai bahwa Nabi saw telah bersabda:
"Barang siapa yang memanah satu anak panah dalam perang sabilillah, mengenai musuh atau tidak, baginya satu martabat di sisi Tuhannya."

Dari sabda Nabi saw: "Sesungguhnya malaikat tidak akan hadir dalam permainan kamu yang sia-sia kecuali perlumbaan (pacuan) dan permainan senjata. Serta bersabda Nabi saw: "Belajar memanah-lah, maka sesungguhnya di antara dua jarak memanah itu (jarak pemanah dan sasarannya) adalah bandingannya seumpama satu taman dari taman-taman Syurga."

  
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakhail, sesungguhnya ia telah berkata:

"Busur panah yang ada di rumah merupakan pendukung dalam mengerjakan shalat."

Telah bersabda Nabi saw:
"Memanahlah kamu wahai Bani Ismail, sesungguhnya datuk moyangmu ahli memanah".

Bersabda Nabi saw ketika dalam peperangan Uhud:
"Panahlah olehmu wahai Saad (Saad bin Abi Waqas), aku pertaruhkan bapa dan ibuku ditanganmu".

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallahu anhu dia berkata:

مَرَّ النبيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُوْنَ فَقالَ: اِرْمُوا بَنِي إِسْماعِيْلَ فَإنَّ أَباكُمْ كَانَ رَامِياً

“Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melewati sekelompok Bani Aslam yang berlomba memanah. Lalu beliau bersabda, “Memanahlah kalian wahai anak keturunan Ismail, karena sungguh ayah kalian adalah seorang pemanah.”

(HR. Al-Bukhari no. 2899)


Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda di atas mimbar:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ ما اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ، أَلآ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي

“Persiapkanlah semua kekuatan yang kalian miliki. Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” 

(HR. Muslim no. 1917)
 

Artikel lainnya:

Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda


Share this article :

Posting Komentar