Kamis, 17 Agustus 2017

Home » » Bunuh Diri Gerakan Islam

Bunuh Diri Gerakan Islam

Betapa mudahnya lisan mengucap dan tangan menulis komen di sosmed yang menjelekkan gerakan Islam sendiri

Oleh: Ahmad Nafis

  
Mafaza
-Online |
Sebelum membahas judul tulisan ini, Penulis akan sedikit bercerita tentang pengalaman masa mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta di Samarinda, Kalimantan Timur.

Fenomena yang biasa terjadi di kalangan aktivis mahasiswa dan rutin dilakukan adalah pengajian pekanan yang sering di sebut liqo’ atau halaqoh. Kebetulan Penulis satu halaqoh dengan seorang ikhwah yang pemahaman dan idealisnya pernah membuat Penulis takjub.

Waktu berjalan seperti biasanya hingga ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, bukan menjadi seorang super hero tentunya. Perubahan yang dilihat adalah sikap kritisnya yang luar biasa terhadap gerakan-gerakan dakwah yang ada di Indonesia ini. Bahkan bukan hanya itu, beliau sering memplesetkan singkatan-singkatan nama-nama gerakan dakwah. Ujung kisahnya sekitar akhir 2012 beliau memutuskan untuk keluar dari jamaah “halaqoh pekanan” ini dan bahkan sempat memusuhi kami yang tertuang dalam beberapa medsos atau artikel-artikel dunia maya yang ditulisnya.

Baru sekitar Ramadhan yang lalu beliau ingin kembali alias ruju’. Dia meminta tolong untuk mencarikan halaqoh meski harus merintis dari awal. Sempat Penulis tanyakan kenapa kembali kepada jamaah ini.

“Ana lebih yakin dengan jamaah ini, lebih tentram, ana kira jamaah inilah-Insyaallah yang sesuai firman-Nya,” katanya mengutip surat al Baqarah ayat 143

Firman Allah SWT:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS Al-Baqarah [02] : 143)

Waj’alnakum ummataw wasathoo dan Kami jadikan kalian sebagai ummat yang pertengahan- tidak terlalu mempersulit atau mempermudah urusan agama,” kutipan ayat inilah yang dia sodorkan sebagai  jawaban.

Penulis menyadari secara tak langsung, betapa kuatnya seseorang meski telah menjauh dari jamaah yang “membesarkannya” ia akan kembali, insyaallah.

Dari kisah tersebut Penulis belajar banyak hal. Lihat betapa mudahnya lisan berucap tanpa konsekuensi atau tangan kita dengan ringan menulis komentar negatif di dunia maya. Contoh ringannya Penulis dapati secara pribadi adalah seorang muslim yang mempunyai pemahaman Islam secara baik memplesetkan salah satu nama gerakan. Seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera), menjadi Partai Kuampret Sekali. Atau Salafi di plesetkan menjadi Salah Fikir, JT (Jamaah Tabligh) di plesetkan menjadi Jamaah TerGebleg, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) diplesetkan menjadi Hizbut Tikus Indonesia dan lain sebagainya. Astagfirullah!

Dipikir sekadar candaan, tapi lihat dampaknya. Padahal muslim yang terdapat dalam jamaah tersebut bukanlah para malaikat. Ada yang masih labil dan baru belajar, ada yang mantan preman yang bisa saja mengancam kehidupan Anda, atau hal-hal yang tak terbayangkan dalam sebuah jamaah. This is Indonesiaaa…!

Kita tataplah sejenak betapa gerakan nasionalis yang sekular betapa mudahnya mereka mendapat dukungan yang besar yang demikian mudah sedangkan gerakan Islam begitu juga mudah mendapat serangan dari kalangannya sendiri.

Seandainya bermaksud mengkrtisi dan ingin berdebat tentu syariat ini telah mengatur demikian baiknya tata caranya.

Banyak pelajaran yang akan kita dapat dari menjaga lisan dan menahan tangan kita untuk tidak se-enaknya berkomentar. Mungkin dengan alasan-alasan sulitnya kita bersatu menjadikan alasan Allah “belum” memberikan kemenangan terhadap dakwah di bumi nusantara ini.

Wallahu a’lam.



Share this article :

Posting Komentar