Kamis, 08 Juni 2017

Home » » Menyelamatkan Narasi Sejarah

Menyelamatkan Narasi Sejarah

Seumpana aplikasi facebook benar - benar akan ditutup, kita perlu berfikir bagaimana menyelamatkan berbagai tulisan dan coretan kita

Eko Junaedi
@ Salam Ramadhan
  
Mafaza
-Online |
Tahukah Anda, apa siksaan terberat yang dirasakan oleh seorang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kala berada dipenjara? Beliau tidak menganggap perlakuan kasar dari sipir penjara sebagai sesuatu yang menganggunya. Hal terberat yang dirasakan oleh beliau adalah saat sipir penjara menyita semua kertas dan alat tulisnya. Beliau tak lagi bisa menuangkan segala isi pikirannya dan ilmunya. Beruntung ada Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang setia menemaninya didalam penjara. Beliaulah yang mewariskan segala ilmu dari gurunya itu.

Saat mendengar kabar aplikasi facebook akan diblokir, kami berpikir bagaimana caranya menyelamatkan berbagai tulisan dan coretan. Sejak kami menggunakan tablet, semua ide dan buah pikir memang ditulis secara langsung. Karena memang simpel dan praktis. Dimana saja, kapan saja bisa langsung menulis. Ada pemandangan apa, jadi tulisan. Ada berita apa, jadi narasi. Tidak salinan di memo atau word. Beberapa laman memang berbaik hati memuat tulisan dan coretan kami, tapi lebih banyak lagi yang tercecer dan berserakan didunia maya.

Tiba - tiba kami ingat dengan penyesalan Ibnul Jauzi. Didalam muqadimah kitab Saidul Khatir, Ibnul Jauzi menuliskan rasa penyesalannya yang sangat mendalam, karena waktu muda tidak begitu suka menulis. Akibatnya, banyak lintasan pemikiran yang hilang begitu saja. Saat sudah tua, beliau tidak sanggup mengingat - ingat semua lintasan pemikiran yang belum sempat dituliskannya dalam buku. Apa jadinya jika ulama besar sekelas Ibnul Jauzi memiliki hobi menulis sejak muda. Padahal dari kitab Talbis Iblis dan Saidul Khatir saja, kita sungguh mampu merasakan kapasitas keilmuannya yang sangat mumpuni.


Dunia Islam penuh dengan warisan turats dari para ulama

Dunia Islam penuh dengan warisan turats dari para ulama. Banyak yang sampai kepada kita, lebih banyak lagi yang tidak sampai karena naskahnya tidak diketemukan lagi. Kita beruntung saat Imam Az Zuhri mulai menuliskan dan membukukan hadits, setelah sebelumnya lebih banyak diwariskan secara oral. Kita beruntung saat kitab Tafsir Ath Thabari tidak jadi hilang ditelan zaman, karena naskahnya ditemukan. Padahal Imam Ath Thabari disebut - sebut sebagai Syaikh Al Mufassirin, melebihi Imam Ibnu Katsir. Alhamdulillah, budaya tulis menulis yang disemaikan oleh rasulullah saw terus berkembang hingga kini.

Seumpana aplikasi facebook benar - benar akan ditutup, kita perlu berfikir bagaimana menyelamatkan berbagai tulisan dan coretan kita. Itulah warisan kita kepada generasi yang akan datang. Dari segi kualitas, tentu coretan kita tidak ada apa - apanya bila dibandingkan dengan para ulama pendahulu kita. Meski begitu, coretan kita sungguh menjadi saksi sejarah atas situasi dan kondisi zaman yang kita lalui. Kita semua adalah saksi - saksi sejarah. Agar kelak generasi penerus kita tidak menjadi orang - orang yang ahistoris dan memulai proses perjuangan dari titik nol. Wallahu a'lam.


Sebelumnya: 


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar