Kamis, 25 Mei 2017

Home » » Menangkap Pesan dibalik Perilaku

Menangkap Pesan dibalik Perilaku

Cerita 1
Abang (2 tahun) mencubiti adik bayi, setiap adik bayi dipeluk bunda. Apakah abang jahat dan benci pada adik bayi?

Cerita 2
Kakak jadi buang air di celana setelah masuk TK, padahal dulu sudah bisa buang air di toilet. Apakah kakak jadi anak bandel?

Cerita 3
Nona sekarang suka mencuri barang-barang kecil di rumah setelah ibunya meninggal beberapa bulan lalu. Apakah Nona sekarang menjadi kriminal?

Cerita 4
Siswa berusaha mencontek, bahkan kalau perlu mencari bocoran soal. Apakah mereka tidak jujur?

Cerita 5
Boy jarang di rumah. Pergi main dengan teman-teman naik motor, mulai coba merokok pula. Padahal sebentar lagi dia mau ujian. Didiamkan ngelunjak, dikerasi malah kabur. Tambah bandel saja.
  
Bunda Yedi Widiati dan Suami | FB
Saat anak kita menampilkan suatu perilaku yang maladaptif, atau kurang dapat diterima oleh norma, aturan atau kebiasaan, seringkali respon kita adalah berfokus pada perilaku maladaptif. Hukuman, atau minimal hardikan adalah yang paling sering dilakukan. Dan kita menjadi bingung ketika hukuman tersebut tidak berefek atau hanya efektif dalam jangka pendek. Dalam beberapa kasus bahkan menimbulkan masalah lainnya.

Sayangnya banyak perilaku anak tidak selalu linear dengan latar belakangnya. Misalnya, perilaku mencontek tidak selalu 'hanya' berkaitan dengan ketidak-jujuran, tapi boleh jadi bila ditelusuri berakar dari ketidak-percayaan diri.

Pada dasarnya, semua orang, bayi dan balita sekalipun, akan berusaha untuk mengatasi sendiri masalah atau ketidak-nyamanannya dengan cara yang ditemukannya sendiri. Sayangnya cara itu tidak selalu berhasil mengatasi masalahnya.

Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah;
1. Cara penyelesaian yang dilakukan anak, tidak efektif bahkan menimbulkan masalah baru.
Misal; ingin memperoleh perhatian, malah memperoleh hukuman.

2. Orangtua, guru atau orang di sekitarnya salah menafsirkan perilaku yang ditampilkan anak tersebut.
Misal; anak sedih malah dimarahi karena menampilkan sikap membangkang.

Begitulah, ada banyak perilaku dilakukan tidak berkait langsung dengan apa yang ditampilkan. Ada pesan tersembunyi didalamnya.

Mengapa anak/siswa tidak bisa menyampaikan pesan yang kongruen (sesuai) dengan perilakunya?

1. Keterbatasan kemampuan anak untuk berkomunikasi.
Anak balita yang marah karena kehilangan perhatian setelah adiknya lahir, tidak bisa mengatakan dengan lugas dan menuntut hak-nya dari orangtuanya. Cara berpikirnya sederhana, bila sejak adik lahir dia kehilangan perhatian dan kasih sayang, maka penyebabnya yang menjadi sasaran kemarahan. Orangtua yang hanya melihat perilaku anak sebagai kesalahan, boleh jadi mengira kakak tidak sayang adik dan memaksanya untuk sayang. Tidak menangkap pesan yang sebenarnya dari perilaku tsb.

2. Anak mencontoh orangtua atau orang dewasa di sekitarnya.
Ibu yang suka tiba-tiba ngambek tak mau bicara pada bapak dan membuat bapak bingung. Atau bapak yang tiba-tiba marah hanya karena alasan terlambat dibuatkan minum. Semuanya adalah contoh ketidak-kongruenan perilaku. Dan itu yang direkam dalam ingatan anak, dicontoh dan ditampilkan dalam perilaku anak. Anak menggunakan skema yang sama dengan orangtuanya.

3. Melindungi harga diri anak/siswa
Tidak setiap orang mau menunjukkan perasaannya yang sebenarnya terutama bila ia merasa hal itu buruk. Oleh karena itu, bisa saja pesan yang sebenarnya ditutupi oleh perilaku yang lain. Misalnya, anak tak mau terlihat bahwa dia gagal, dan kemudian mencari cara agar harga dirinya tetap terjaga.

Lalu, bagaimana menghadapi situasi ini? (Pertanyaan favorit dalam komen).
Mulai sekarang, ada baiknya kita untuk tidak serta-merta menilai perilaku maladaptif anak/siswa dari tampilan luarnya saja. Dan tergesa bereaksi, baik dengan hardikan atau pun hukuman.

Bertanyalah pada diri sendiri dengan menggunakan rumus 5W+1H.
- (When) Mulai kapan perilaku tersebut muncul?
- (What) Apa kejadian penting yang mengiringi saat perilaku tersebut muncul?
- (Why) Kira-kira mengapa hal itu terjadi?
- (Who) Siapa saja yang terlibat dalam kejadian tersebut?
- (Where) Di mana saja peristiwa itu terjadi?
- (How) Bagaimana kejadiannya?
Dlsb.

Dengan cara tersebut kita bisa memperoleh data lebih banyak. Memberikan peluang untuk menangkap pesan di balik perilaku dengan lebih akurat. Dan akhirnya semoga dapat mengambil tindakan yang lebih tepat dan efektif.

Yeti Widiati 35-240517 FB

Psychologist di Biro Psikologi PARADIGMA
Jurusan Human Development di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung
Tinggal di Pamulang, Jawa Barat, Indonesia
Menikah dengan Budi Darmawan

Share this article :

Posting Komentar