Sabtu, 15 April 2017

Home » » Memahami Makna Dibalik Pesan

Memahami Makna Dibalik Pesan

"Intelektualitas itu bisa goncang karena instabilitas rohani" Almarhum Kiai Hasyim Muzadi
Oleh: Eko Jun
@ Majelis I'tibar

  
 
Mafaza-Online | Terus terang, kami tidak siapa sumber pertama yang membuat meme berikut ini. Statusnya hanya diriwayatkan melalui facebook. Artinya, dari segi sanad barangkali meme ini agak bermasalah, karena tidak jelas siapa para perawinya. Jadi statusnya entah dhaif atau bahkan mursal. Tapi dari segi matan, bisa diterima. Kalimatnya santun, berisi dan sangat khas. Bagi yang pernah mendengarkan mau'izhah hasanah dari almarhum Pak Kiai Hasyim Muzadi, sedikit banyak pasti akrab dengan kalimat - kalimat bijak yang beliau sampaikan.

Ungkapan dari Almarhum Pak Kiai Hasyim Muzadi ini layak kita renungkan dan diambil ibrahnya. Kalimat itu menandakan beberapa prinsip dan perkara yang penting, diantaranya:

Pertama, Pencapaian Hakikat

Jika yang menyampaikan ungkapan itu adalah kaum awam, niscaya muncul celaan dari sana - sini. Karena kalimat itu hanya dianggap sebagai tameng atas ketidakmampuan dan kelemahannya dalam olah pikir, berlogika dan berdebat. Tapi jika kalimat itu disampaikan oleh pihak yang mumpuni keilmuannya, maka itu adalah bentuk kesadaran jiwa dan pencapaian hakikat.

Ini seperti ungkapan Mike Tyson yang pernah berujar "Lebih sulit jadi orang baik ketimbang jadi petinju hebat". Jika yang berberkata adalah orang - orang lemah seperti kita, maka kalimat itu bisa dianggap hanya tameng dan alasan semata karena tidak mau bertarung. Tapi jika yang mengucapkan adalah mereka yang berstatus sebagai juara dunia, maka itu adalah ungkapan jujur yang keluar dari nurani.

Ini seperti ungkapan Jet Lee yang berkata "Aku telah mempelajari banyak seni beladiri. Tapi ternyata, senjata yang paling dahsyat adalah senyuman". Karena dengan senyuman, kita mampu menaklukkan pihak lain tanpa harus berkelahi. Dititik inilah, kita melihat sosok Almarhum Pak Kiai Hasyim Muzadi semakin tawadu dengan ilmu yang dimilikinya. Bukan malah keblinger sebagaimana yang terjadi pada sebagian kalangan.

Kedua, Hati adalah Raja

Yang menjadi raja atas diri kita itu hati atau akal? Menjawabnya tidak mudah, karena perdebatan panjang memang pernah terhampar untuk menentukan siapa yang lebih berkuasa antara hati dan akal. Antara bisikan jiwa dengan logika - logika rasional. Di alam demokrasi yang semakin kebablasan ini, kita semakin mudah memahami bahkan hati itu lebih berkuasa ketimbang akal.

Karena orientasi politik tertentu, pertimbangan akal dan rasionalitas menjadi beku, kapasitas intelektual menjadi hancur dan daya kritis menjadi tumpul. Data dan fakta tak lagi berpengaruh karena diberi label negatif berupa "politisasi kasus dan kampanye hitam". Alhasil, terciptalah massa pemilih yang semakin absurd, berupa massa pragmatis maupun massa yang masa bodoh. Lucunya, mereka diberi label yang sangat indah, yakni basis massa tradisional atau massa loyal.

Ditingkat elit, suasananya lebih runyam lagi. Berita, data, teori dan analisa bukan lagi untuk mencari kebenaran dan menentukan pilihan, tapi digunakan sebagai sarana propaganda dan pembenaran. Ditambah kemampuan yang hebat dalam beretorika, mereka membius kesadaran publik bahwa dirinya berada dipihak yang benar. Ini bukti sederhana, bahwa hati itu lebih hebat pengaruhnya ketimbang akal.

Ketiga, Lihat Yang Bicara

Kaidah standar atas kebenaran adalah "Undzur ma qala walaa tandzur man qaala". Alias, lihat apa isi pembicaraannya dan jangan lihat siapa yang mengatakannya. Meskipun bisa diterima, namun kaidah ini tidak bisa diterapkan secara mutlak. Memang benar, kebenaran bisa datang dari siapa saja, termasuk dari anak kecil, orang bodoh dan musuh sekalipun. Namun memahami siapa yang berbicara juga penting.

Dalam konteks ilmu agama, kita malah diperintahkan untuk mengambil ilmu dari para ulama yang mengamalkan ilmunya. Bukan dari mereka yang hanya bisa berteori. Jika ada kabar dari musuh dan orang fasik, kita harus melakukan proses tabayun (klarifikasi, cek dan ricek) ke banyak pihak. Bisa jadi, itu adalah kabar hoax yang sengaja dihembuskan untuk menipu dan menyesatkan opini. Dan kita sungguh sangat kenyang dengan perkara - perkara seperti ini.

Dalam memahami suatu pesan kebajikan, kita tetap harus melakukan analisa yang kompleks. Misalnya, siapa yang berbicara, disiarkan distasiun tv apa, dimuat dilaman berita apa dll. Pembiasan berita, mutilasi kalimat dan pembelokan maksud sangat mungkin terjadi. Mengapa bisa demikian? Karena sebagaimana kesimpulan Almarhum Pak Kiai Hasyim Muzadi "Intelektualitas itu bisa goncang karena instabilitas rohani". Wallaahu a'lam.
Share this article :

Posting Komentar