Jumat, 27 Mei 2016

Home » » Sebuah Kenangan Dakwah Dari Almarhum Ustadz Ajat Sudrajat

Sebuah Kenangan Dakwah Dari Almarhum Ustadz Ajat Sudrajat

Meskipun harus berkendaraan umum dan tidak jarang dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Pondok Karya ke Masjid Al Hikmah, beliau sangat bersemangat untuk berdakwah memberikan pembinaan pada para remaja di sana
 

Mafaza-Online | Istiqomah dalam dakwah merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua yang masih hidup, demikian kata Ustadz Ahmad Yani dalam sambutannya saat taziyah atas meninggalnya Ustadz Ajat Sudrajat,   Ahad, 22 Mei 2016 di masjid Sabilul Huda, setelah sholat dzuhur berjamaah kemudian dilanjutkan dengan sholat jenazah untuk almarhum Ustadz Ajat Sudrajat.

“Beliau seorang ustadz yang sering mengisi pengajian para remaja di masjid Al Hikmah kawasan Bangka Mampang Jakarta Selatan pada sekitar tahun 1985-an,” kata Ahmad Yani.

Dia menambahkan, meskipun harus berkendaraan umum dan tidak jarang dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Pondok Karya ke Masjid Al Hikmah, beliau sangat bersemangat untuk berdakwah memberikan pembinaan pada para remaja di sana.

Disamping itu, Bang Yani juga mengatakan bahwa almarhum juga giat dan aktif mengisi hari - harinya dengan berkhutbah di beberapa tempat baik masjid perkantoran maupun di lingkungan masyarakat.

Saat menjadi pengurus DPC Partai Keadilan, almarhum juga aktif memberikan taujih dan arahannya untuk para kader. Setiap ada acara atau kegiatan dari partai, almarhum sangat antusias memenuhi undangan tersebut. Almarhum sangat jarang sekali absen dari kegiatan partai, walaupun lokasi acara sangat jauh, kadang dengan berkendaraan sepeda motor atau juga ditempuhnya dengan sepeda.


“Beliau tetap istiqomah di jalan dakwah sejak usia muda sampai akhir hayatnya"

Ibroh dan pelajaran yang bisa diambil dari almarhum adalah bahwa, “Beliau tetap istiqomah di jalan dakwah sejak usia muda sampai akhir hayatnya. Istiqomah dalam dakwah merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua yang masih hidup,” ujar Ustadz Achmad Yani saat menutup sambutan kesan pesannya untuk jenazah Ustadz Ajat Sudrajat.

Sebagai catatan, sebelum wafat, almarhum masih ikut serta dalam kegiatan “Kemah Pandu Keadilan” di Cidahu Sukabumi meskipun tidak sampai selesai karena beliau terpeleset jatuh pada hari pertama acara.

Saat jam menunjukan pukul 19.00 di hari jumat (20/5) terdengar bunyi peluit tanda peserta “Kemah Pandu Keadilan” harus berkumpul di area utama untuk mengikuti acara. Para peserta termasuk almarhum segera turun dari tenda/bivak menuju area utama. Almarhum saat itu, sekalipun secara usia lebih sepuh tetapi semangat mengikuti acara kemah ini sangat sigap. Ketika mendekati jalan beraspal tiba – tiba beliau terpeleset dan jatuh dengan posisi duduk, namun saat itu beliau mampu bangun sendiri seakan tanpa masalah, temannya yakni Ustadz Najib Helmy yang di belakannya sempat bertanya, “Gimana Bang ?” Beliau menjawab “Insyaa Allah gak apa - apa.” Kemudian Beliau bersama – sama berjalan kembali sampai tiba di area lapangan utama.

Setelah selesai acara Jum’at malam (20/5) itu, Ustadz Ajat berjalan menuju ke tenda/bivak regu. Saat menuruni tiga tapak tangga dari atas area kumpul utama ke jalan beraspal, Ustadz Ajat terpeleset lagi dan jatuh dengan posisi terduduk. Dia berusaha berdiri dan melanjutkan berjalan lagi, namun saat itu beliau terus memegangi perut bagian bawah, sambil mengatakan sakit. Kemudian teman - temannya coba membantu memapah dan menyarankan beliau untuk duduk dan kemudian membaringkannya. Teman – temannya menyarankan beliau utuk tidak melanjutkan ikut kegiatan, namun saat itu beberapa sahabatnya melihat dari wajah beliau, masih mensiratkan masih ingin melanjutkan.

“Ini memberi gambaran bagi saya betapa beliau memiliki semangat dan kemauan yang kuat untuk menuntaskan amanah yang ada,” ujar Ketua DPD PKS Jakarta Utara yang satu peserta dengan beliau.

Kemudian selanjutnya direkomendasikan oleh tim medis untuk pulang dan dirujuk ke Rumah Sakit Agung dekat dengan rumahnya. Beberapa panitia kepanduan ikut mengantarnya pulang menuju rumah sakit Agung dekat terminal Manggarai Tebet Jakarta Selatan.

Setelah dari rumah sakit Agung kemudian Ustadz Ajat diantar pulang dan digotong masuk rumah oleh tim kepanduan. Info dari rumah sakit, beliau tidak perlu dirawat dan dikasih obat dari rumah sakit. Saat itu kondisinya masih belum bisa bangun dari posisi berbaring dan kurang mau makan. Namun sang istri yang setia menemani berhasil membujuknya, “Alhamdulillah tadi tiga suap bubur kacang ijo, mau masuk,” ujar istrinya.

Saat itu Ustadz Ajat hanya bisa bergerak miring ke kiri saja, tidak kuat menahan sakit kalau terlentang. Sang istri pun kemudian membujuknya untuk datang ke rumah sakit lagi, namun dijawab beliau, “Besok aja , karena kalau sekarang belum siap baju-bajunya.”

Kemudian sampai pada ahad (22/5) subuh pagi keseokan harinya, beliau dipanggil Allah SWT.

Mari kita doakan semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni segala dosanya dan memasukkan kedalam surga-Nya.
Meskipun harus berkendaraan umum dan tidak jarang dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Pondok Karya ke Masjid Al Hikmah, beliau sangat bersemangat untuk berdakwah memberikan pembinaan pada para remaja di sana
Mafaza-Online | Istiqomah dalam dakwah merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua yang masih hidup, demikian kata Ustadz Ahmad Yani dalam sambutannya saat taziyah atas meninggalnya Ustadz Ajat Sudrajat,   Ahad, 22 Mei 2016 di masjid Sabilul Huda, setelah sholat dzuhur berjamaah kemudian dilanjutkan dengan sholat jenazah untuk almarhum Ustadz Ajat Sudrajat.

“Beliau seorang ustadz yang sering mengisi pengajian para remaja di masjid Al Hikmah kawasan Bangka Mampang Jakarta Selatan pada sekitar tahun 1985-an,” kata Ahmad Yani.

Dia menambahkan, meskipun harus berkendaraan umum dan tidak jarang dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Pondok Karya ke Masjid Al Hikmah, beliau sangat bersemangat untuk berdakwah memberikan pembinaan pada para remaja di sana.

Disamping itu, Bang Yani juga mengatakan bahwa almarhum juga giat dan aktif mengisi hari - harinya dengan berkhutbah di beberapa tempat baik masjid perkantoran maupun di lingkungan masyarakat.

Saat menjadi pengurus DPC Partai Keadilan, almarhum juga aktif memberikan taujih dan arahannya untuk para kader. Setiap ada acara atau kegiatan dari partai, almarhum sangat antusias memenuhi undangan tersebut. Almarhum sangat jarang sekali absen dari kegiatan partai, walaupun lokasi acara sangat jauh, kadang dengan berkendaraan sepeda motor atau juga ditempuhnya dengan sepeda.

“Beliau tetap istiqomah di jalan dakwah sejak usia muda sampai akhir hayatnya.

Ibroh dan pelajaran yang bisa diambil dari almarhum adalah bahwa, “Beliau tetap istiqomah di jalan dakwah sejak usia muda sampai akhir hayatnya. Istiqomah dalam dakwah merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua yang masih hidup,” ujar Ustadz Achmad Yani saat menutup sambutan kesan pesannya untuk jenazah Ustadz Ajat Sudrajat.

Sebagai catatan, sebelum wafat, almarhum masih ikut serta dalam kegiatan “Kemah Pandu Keadilan” di Cidahu Sukabumi meskipun tidak sampai selesai karena beliau terpeleset jatuh pada hari pertama acara.

Saat jam menunjukan pukul 19.00 di hari jumat (20/5) terdengar bunyi peluit tanda peserta “Kemah Pandu Keadilan” harus berkumpul di area utama untuk mengikuti acara. Para peserta termasuk almarhum segera turun dari tenda/bivak menuju area utama. Almarhum saat itu, sekalipun secara usia lebih sepuh tetapi semangat mengikuti acara kemah ini sangat sigap. Ketika mendekati jalan beraspal tiba – tiba beliau terpeleset dan jatuh dengan posisi duduk, namun saat itu beliau mampu bangun sendiri seakan tanpa masalah, temannya yakni Ustadz Najib Helmy yang di belakannya sempat bertanya, “Gimana Bang ?” Beliau menjawab “Insyaa Allah gak apa - apa.” Kemudian Beliau bersama – sama berjalan kembali sampai tiba di area lapangan utama.

Setelah selesai acara Jum’at malam (20/5) itu, Ustadz Ajat berjalan menuju ke tenda/bivak regu. Saat menuruni tiga tapak tangga dari atas area kumpul utama ke jalan beraspal, Ustadz Ajat terpeleset lagi dan jatuh dengan posisi terduduk. Dia berusaha berdiri dan melanjutkan berjalan lagi, namun saat itu beliau terus memegangi perut bagian bawah, sambil mengatakan sakit. Kemudian teman - temannya coba membantu memapah dan menyarankan beliau untuk duduk dan kemudian membaringkannya. Teman – temannya menyarankan beliau utuk tidak melanjutkan ikut kegiatan, namun saat itu beberapa sahabatnya melihat dari wajah beliau, masih mensiratkan masih ingin melanjutkan.

“Ini memberi gambaran bagi saya betapa beliau memiliki semangat dan kemauan yang kuat untuk menuntaskan amanah yang ada,” ujar Ketua DPD PKS Jakarta Utara yang satu peserta dengan beliau.

Kemudian selanjutnya direkomendasikan oleh tim medis untuk pulang dan dirujuk ke Rumah Sakit Agung dekat dengan rumahnya. Beberapa panitia kepanduan ikut mengantarnya pulang menuju rumah sakit Agung dekat terminal Manggarai Tebet Jakarta Selatan.

Setelah dari rumah sakit Agung kemudian Ustadz Ajat diantar pulang dan digotong masuk rumah oleh tim kepanduan. Info dari rumah sakit, beliau tidak perlu dirawat dan dikasih obat dari rumah sakit. Saat itu kondisinya masih belum bisa bangun dari posisi berbaring dan kurang mau makan. Namun sang istri yang setia menemani berhasil membujuknya, “Alhamdulillah tadi tiga suap bubur kacang ijo, mau masuk,” ujar istrinya.

Saat itu Ustadz Ajat hanya bisa bergerak miring ke kiri saja, tidak kuat menahan sakit kalau terlentang. Sang istri pun kemudian membujuknya untuk datang ke rumah sakit lagi, namun dijawab beliau, “Besok aja , karena kalau sekarang belum siap baju-bajunya.”

Kemudian sampai pada ahad (22/5) subuh pagi keseokan harinya, beliau dipanggil Allah SWT.

Mari kita doakan semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni segala dosanya dan memasukkan kedalam surga-Nya.


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
 










Share this article :

Poskan Komentar