Kamis, 07 April 2016

Home » » Ujian Bagi PKS dan Fahri Hamzah

Ujian Bagi PKS dan Fahri Hamzah

Tindakan indisipliner kader yang tidak direspon dengan rasional, sistematis, dan terukur berpotensi merusak kredibilitas Pimpinan Partai di mata kader dan publik luar


   
Fahri Hamzah
Mafaza
-Online |
Dalam pandangan Doktor Sosiologi Politik dan Organisasi dari FISIP UI, Arief Munandar, gonjang-ganjing pemecatan Fahri Hamzah oleh Pimpinan PKS merupakan ujian, baik bagi PKS, maupun Fahri Hamzah sendiri dengan mengatakan, di berbagai kesempatan Pimpinan baru menegaskan keinginan untuk memperkokoh jatidiri sebagai Partai Dakwah dan Partai Kader. 

“Tentunya para kader dan publik eksternal menunggu-nunggu bukti seberapa kredibel pernyataan tersebut," katanya. 

Arief memuji langkah-langkah yang dilakukan oleh Pimpinan baru PKS yang secara intens melakukan briefing kepada para pejabat publiknya yang dipandang sebagai etalase politik PKS di tengah masyarakat luas, termasuk Fahri Hamzah yang menjabat Wakil Ketua DPR-RI. Arief mengatakan, "Adalah sangat masuk akal, bahkan keniscayaan yang ada di setiap organisasi, jika pimpinan baru memilih dan menetapkan arah baru organisasi." 

Ia melanjutkan, "ini jelas pilihan cerdas dan taktis. Pimpinan baru memilih menatap ke depan, lalu menegaskan arah baru yang diambil kepada seluruh elemen partai. Tentu harapannya segenap kader di seluruh lini dan jenjang menaati arahan tersebut." 

Arief melanjutkan, "secara aksiomatis mejadi sangat wajar juga jika kader yang menyimpang dari arah baru yang ditetapkan mendapatkan teguran, peringatan, sanksi, bahkan hingga pemecatan, jika pelanggaran yang dilakukan dinilai berat."

Masih menurut Arief, sehingga tidak perlu dipandang luar biasa jika sejumlah manuver politik Fahri yang oleh sebagian besar kalangan dimaknai menentang kebijakan Pimpinan Partai, seperti konsisten menyuarakan pembubaran KPK padahal Pimpinan PKS menegaskan komitmen pada penguatan lembaga pemberantasan ruswah tersebut, dukungan terhadap gagasan kenaikan tunjangan pejabat negara ketika Pimpinan Partai menolak, dan yang teranyar, dukungan terhadap mantan koleganya di dewan, Setya Novanto, yang tersandung kasus hukum, mendorong Pimpinan PKS melakukan sejumlah langkah pendisiplinan, yang berujung pada pemecatan. Mengapa? 

“Karena tindakan indisipliner kader yang tidak direspon dengan rasional, sistematis, dan terukur berpotensi merusak kredibilitas Pimpinan Partai di mata kader dan publik luar,” urainya.

“Ini semata kasus kader Partai yang mbalelo dan menabrak aturan organisasi. Sesederhana dan semendasar itu”

Yang menarik Arief menegaskan bahwa sebenarnya masalah ini juga merupakan ujian terhadap kredibilitas Fahri Hamzah sebagai politisi. Arief menjelaskan, masyarakat akan segera mendapatkan jawaban, apakah gempita perlawanan yang ditunjukkan Fahri hari-hari belakangan ini benar-benar untuk membela idealisme yang diyakini, atau sebaliknya, sekedar upaya mempertahankan kedudukan sebagai elit partai dan pejabat publik. 

"Sayangnya, respon Fahri yang terkesan keras, seperti menyatakan bahwa permintaan Ketua Majelis Syuro PKS agar dirinya mundur dari jabatan sebagai Wakil Ketua DPR sekedar sikap pribadi yang bersangkutan, menuduh Presiden PKS sebagai dalang pemecatannya, dan pengingkaran yang dilakukan Fahri berulang kali terhadap komitmennya kepada Ketua Majelis Syuro PKS untuk mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR, sulit ditafsirkan sebagai sikap dan perilaku politisi negarawan,” kata Arief.

Arief menutup dengan mengatakan, "pandangan sementara kalangan yang mengatakan, bahkan menyayangkan bahwa Pimpinan PKS memecat Fahri semata karena gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, terlalu sembrono dan kurang cerdas membaca fakta. Faktanya, ini semata kasus kader Partai yang mbalelo dan menabrak aturan organisasi. Sesederhana dan semendasar itu."

Terkait:

Share this article :

Poskan Komentar