Senin, 07 Maret 2016

Home » » BEKAL RUHANI: Agar Layak Menjadi Tamu Allah

BEKAL RUHANI: Agar Layak Menjadi Tamu Allah

Evaluasi Total Makna Istithoah dalam Ibadah haji

Oleh Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag
 
  
Mafaza-Online
| IBROH -
Dikisahkan, usai ritual ibadah haji, Abdullah bin al-Mubarak tertidur dan bermimpi mendengar percakapan dua malaikat.


”Berapa banyak yang menunaikan haji tahun ini?" tanya malaikat yang satu.

”Sekitar 600 ribu,” jawab yang ditanya.

”Berapa yang ibadah hajinya diterima,” tanyanya lagi.

”Tidak satu pun!”

Seketika Abdullah gemetar dan menangis. Semua yang berhaji datang dari jauh. Mengatasi kesulitan besar dan keletihan di sepanjang perjalanan. “Tapi semua usaha mereka sia-sia,” pikirnya dalam mimpi.

Tapi….

“Ada seorang tukang sepatu dari Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq. Dia tidak datang beribadah haji tapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya diampuni-Nya,” kata salah satu dari malaikat melanjutkan percakapannya.

Singkat cerita Abdullah memutuskan pergi ke Damaskus menjumpai orang yang diceritakan malaikat tadi. Setelah menemukan rumah Abdullah menyapanya ketika ia keluar.

"Siapa namamu dan pekerjaanmu?” tanya Abdullah.

”Aku Ali bin Mowaffaq, penjual sepatu,” jawab pria itu masih berdiri di pintu.

Abdullah pun menangis dan jatuh pingsan. Ketika Abdullah siuman, Ali si pedagang sepatu pun menceritakan dirinya. Selama 40 tahun dirinya rindu Baitullah, ingin sekali menunaikan ibadah haji.

Ia menyisihkan 350 dirham hasil berjualan sepatu dan memutuskan akan ke Makkah.”Tapi suatu hari, istriku mencium aroma makanan yang dimasak tetangga sebelah, dan memohon agar ia yang lagi mengandung bisa mencicipi sedikit,” cerita Ali.

Ali pergi ke sebelah, mengetuk pintu kemudian menjelaskan situasinya. Tetangganya itu menangis, katanya sudah tiga hari ini anaknya tidak makan apa-apa. “Dia bilang, hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan aku memotongnya lalu memasak untuk anaknya" Ali menceritakan.

"Ini bukan makanan halal bagimu,” ujar Ali menirukan ucapan tetangganya sambil menatap Abdullah.

Hati Ali pedih mendengar penuturan itu, lalu dia mengambil 350 dirham yang disimpan di kantong, “Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Abdullah sambil menyerahkan uang perjalanan hajinya.

Subhanallah.

“Istithoah“ tak Hanya Urusan Jasmani

Firman Allah SWT: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran: 97).

Musibah demi musibah tak terelakan, pada 2015 ini selain tragedi Mina jilid II, pelaksanaan haji juga diwarnai serangan badai pasir dan jatuhnya crane ditengah thawaf. Padahal situasi normal saja, haji bukan pekerjaan ringan, apalagi saat menghadapi musibah. Tentu akan semakin menguras bekal kesabaran. 

Benar, Ibadah haji adalah ibadah yang full energi. Selain jauh, ritual haji juga berlangsung dalam waktu cukup lama. Karena itu ada syarat istithoah atau mampu untuk menunaikannya.

Celakanya pengertian “Mampu” dalam ibadah haji hanya dipahami dari fisik belaka. Fisik diartikan tubuh sehat dan finansial berlimpah. Sedang sisi psikis terabaikan. Selayaknya bagi calon haji menguatkan ruhaninya sebelum berangkat. Sehingga mereka layak disebut sebagai  tamu Allah SWT.

Faktanya, tiap tahun minat berhaji tak surut. Gelar haji dan mondar-mandir ke tanah suci berbanding terbalik dengan realitas. Tengok dibelahan bumi Indonesia, kemaksiatan merajalela dan kemiskinan terus mendera. Terlihat (secara ruhani), banyak yang masih belum layak menjadi Tamu Allah. Itu terjadi karena mengabaikan manasik batinnya. Ruhaninya ringkih belum istitha’ah (mampu) untuk menopang gelar haji.

Sadarilah, haji bukan hanya perjalanan fisik, sekadar keluar rumah menuju kota suci. Bukan wisata religi apalagi shopping. Lebih dari itu, haji adalah perjalanan agung menuju Allah SWT. Selayaknya orang yang pergi haji harus MAMPU secara batiniah.

Sejalan dengan antusias masyarakat, pemahaman yang benar akan menjadi solusi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Dengan memperhatikan kesiapan batiniah seseorang menjadi tidak layak beribadah haji, jika niatnya sekadar mengejar gelar haji, popularitas, bisnis dan duniawi lainnya.

Maka, pengertian Istitho’ah disini tak hanya sekadar urusan transportasi. Sabila (jalan) artinya mampu dalam arti mental spiritualnya. Jalan ruhani yang akan ia tempuh harus disiapkan terlebih dulu sebelum manasik lainnya. Peziarah mesti menyiapkan dirinya karena akan menjadi tamu Allah SWT. Ibarat ingin bertemu Presiden, tentu harus sesuai jadwal agenda, taat protokoler dan sesuai dress code-nya.

Siap Ruhani, Solusi Problematika Ibadah Haji

Dari sudut pandang tasawuf, jiwa dibersihkan dengan tazkiatun nafs (pembersihan jiwa) yang diawali proses taubat. Dilanjutkan Tashfiyah (menghias) diri dengan sifat terpuji. Ikhlas berangkat ziarah ke tanah suci karena Allah SWT. Melatih kesabaran, karena aktivitas ibadah melibatkan banyak orang dan waktu yang panjang. Merasa faqir, sangat membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. Justru bekal ruhani inilah yang sebenarnya harus disiapkan lebih dulu. Senantiasa menjaga stamina ruhani sehingga hatinya terus tersambung dengan Allah SWT. Mengisi dengan nutrisi zikir, wirid dan amalan yang menyehatkan ruhani. Inilah makna ilaihi, kepada-Nya.

Apabila hati sudah tersambung dengan Allah SWT. Jamaah dapat memilih waktu untuk melontar jumrah. Tidak perlu berdesak-desakan dengan alasan mengejar keutamaan (fadhilah). Jika hati sudah dekat, tidak perlu berebut masuk Raudhah, mencium hajar aswad. Tidak menghabiskan waktunya di tanah suci hanya dengan obrolan laghwi (sia-sia). Dus, tidak sekadar pindah tidur saja.

Ilaihi, kepada Allah SWT saja. Kebaikan pun meningkat, istithoah (mampu) mendekat kepada Allah SWT secara ruhani. Tidak hanya ke rumah-Nya (Baitullah) saja, hanya sekadar selfi di Kabah, minum langsung air zam-zam dari sumurnya atau mencium hajar aswad. Sampai kepada Allah SWT artinya, mendapat kekhusyuan pasca haji.

Rasulullah saw mencontohkan awalnya thawaf mencium hajar aswad, namun ketika orang semakin banyak cukup melambaikan tangan. Sikap emosional (memaksa thawaf di lingkaran terdekat Kabah dan berebut mencium hajar aswad) akan teredam bila paham secara ruhani. Bencana itu terjadi disebabkan tangan manusia sendiri. Misalnya karena tidak disiplin melontar jumrah. Akibat pemahaman sempit ibadah agung ini justru menuai musibah.

Menyiapkan ruhani, inilah solusi utama agar ibadah haji mendatangkan rahmat bukan bencana. Sehingga tercapai predikat haji mabrur yang tanda-tandanya adanya Al Wijlu (getaran bathin), Kasyf (terangkatnya hijab) (Kasyf) dan (Marifatullah) mengenal  lebih dalam Allah SWT.

Semoga kita menjadi bagian dari Haji Mabrur, yang tidak ada balasan lain, kecuali surga yang penuh kenikmatan. Amin.
 
Sumber:
 

Share this article :

Poskan Komentar