Sabtu, 27 Februari 2016

Home » » Energi Cahaya

Energi Cahaya

Selama hati kita tidak dilatih dengan mujahadah, maka cahaya Illahi enggan bersemayam
Oleh Syekh M Fathurahman M.Ag

  
Mafaza-Online.Com | TAFAKUR - Salah satu dari nama Allah SWT “Asmaul Husna” yang berjumlah 99, adalah An-Nur (cahaya). An-Nur artinya cahaya, tapi cahaya Allah SWT itu berbeda dengan cahaya yang kita kenal sehari-hari. Karena cahaya yang kita pahami itu adalah ciptaan (mahluk) Allah SWT.

Cahaya Allah SWT adalah cahaya yang menggerakkan. Cahaya Allah SWT menggiring hamba-hamba-Nya untuk menjalankan ketaatan dan ketaqwaan kepada-Nya. Cahaya itulah yang menggiring qalbu orang beriman.

Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau, “Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”
Allah menggiring memberikan bimbingan kepada orang yang dikehendakinya lii nuurihi, dengan cahaya-Nya.

Firman Allah SWT:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur  dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nuur [24]:35)

Ulama Sufi membagi dua cahaya yang datang dari Allah SWT kepada hamba-Nya:

Pertama, cahaya yang hanya datang sekilas kepada hati. Cahaya itu memang benar datang dan berniat menggerakkan hati untuk sadar. Akibat terpaan cahaya itu, sekejap diri menjadi insyaf atas kesalahan dan kezaliman yang telah diperbuat. Sayang seribu kali sayang, kesadaran itu hanya sementara saja. Akibat tidak mendapat tempat di dalam hatinya, maka cahaya itu memantul kembali kepada sumbernya.

 Contoh untuk menggambarkan bagaimana cahaya itu bisa mental kembali adalah: Praktik ibadah shalat.  Bisa jadi dalam shalat cahaya itu datang dan hati merasa khusyu dalam shalatnya. Tapi, setelah shalat tidak ada perubahan dalam sikapnya tidak ada bekas. Jika ini yang terjadi itulah bukti, bahwa cahaya itu tidak mendapat tempat dihati, hanya singgah sementara kemudian kembali ke asalnya. Cahaya itu memantul karena tidak mendapat tempat, sebab hatinya kotor terjangkit dengan penyakit-penyakit hati.

Firman Allah SWT

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS Albaqarah [02]: 10)

Penyakit hati inilah yang membuat hati itu menjadi keras, sehingga tidak bisa menggerakkan hati untuk kebaikan. Cahaya itu hanya datang sesaat saja untuk kebaikan, tapi tidak berbekas. Hatinya tidak siap untuk menerima cahaya itu. Agar cahaya itu betah dihati, maka hati harus bersih dari kotoran dan kuman-kuman penyakit hati.  

Untuk membersihkannya, tentu hati ini harus melakukan proses Takhalli. Penyakit-penyakit hati harus dibersihkan. Penyakit hati ini harus diusir dari dalam hati. Sebab karat hati itulah yang menghalangi cahaya ilahi untuk masuk ke dalam hati. Cahaya hanya datang sekilas, tidak membuat perubahan signifikan dan kontinyu. Ketika dzikir bisa saja dia menyesali kesalahannya, tapi begitu keluar dari majelis zikir, dia pun kembali melakukan kemaksiatan.  Naudzu billah min dzalik.

Inilah tipe, cahaya yang datang kemudian mental kembali akibat terhalang oleh penyakit hati. Ada ujub, takabur ada hubud dunya, cinta dunia yang berlebihan hingga mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasulnya saw. Selama hati ini masih terjangkit penyakit hati, maka cahaya itu tidak akan bisa masuk ke dalam hatinya. Inilah rumus yang tak terbantahkan.

Solusinya adalah bersihkan hati dengan selalu bermujahadah (sungguh-sungguh), terus berupaya menundukkan hati untuk tunduk kepada aturan Allah SWT. Sebab kalau hati tidak dipaksa tunduk, maka akan menjadi tempat berkembangnya penyakit hati. Bersihkan dulu hati secara istiqomah dengan Shalat, shaum dan zikir agar cahaya itu betah dihati.

Cahaya yang kedua adalah kebalikannya, yakni cahaya yang masuk ke dalam hati. Cahaya ini tidak asal datang, tapi terus meresap ke dalam hati. Ketika cahaya masuk kedalam hati maka akan energy yang menggerakkan. Hatinya akan tergerak kepada nilai-nilai kebaikan dan hanya berpihak kepada kebaikan walaupun harus berkorban.

Mengapa bisa begitu? Tak lain, karena cahaya itu masuk ke dalam ruang hati yang paling dalam. Maka, terjadi perubahan-perubahan besar dalam hati. Cahaya itulah yang menggerakkan hati kepada ketaatan dan kebaikan.
Suara hati menjadi lantang nilai kebaikannya tumbuh dan berkembang. Sehingga dalam kehidupan ini akan terus menyuarakan kebenaran, kebaikan dan menumbuhkan ketaatan. Hal ini bisa terjadi, karena hatinya selalu dibersihkan dari dosa dan penyakit hati.

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah saw bersabda, Apabila cahaya Allah masuk kedalam hati yang hatinya selalu dibersihkan dari noda-noda dosa, kezaliman dan penyakit-penyakit hati. Masuklah cahaya itu ke dalam hati. Maka akan timbul lapang dada dan berjiwa besar.


Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Kematian laksana pintu yang besar dan setiap manusia sedang mengantri di depan pintu itu.”

Lalu para sahabat bertanya, Apakah ada tanda-tandanya Ya Rasulullah?
Rasulullah saw menyampaikan, ada tiga;

Pertama, Orang itu akan Berhati-Hati. Orang itu akan memproteksi diri dari keburukan, kejahatan dan tipuan dunia. Sebab kehidupan dunia ini Allah SWT ciptakan tiada lain, untuk menguji hati manusia. Didalam dunia ini ada kebaikan-keburukan, sukses-gagal, sehat-sakit dan seterusnya. Semua datang dan pergi silih berganti. Itu semua ujian dari Allah SWT.
Bagi orang yang hatinya dikendalikan oleh cahaya Allah SWT, maka dia tidak akan tertipu dengan kehidupan dunia, diberi harta tidak lupa diri, diberi musibah tidak putus asa dan tidak menyalahkan Allah SWT. Selalu menjaga harta, kedudukan, ilmu dan popularitasnya dari dampak negatifnya.

Kedua, Jiwanya Selalu Berharap kepada Akhirat. Dunianya hanya sebatas sarana untuk mencapai akhiratnya. Karena yakin, balasan akhirat lebih baik dan kekal. Cita-cita abadi bahkan melampaui jamannya, karena akhirat menjadi orientasinya. Sehingga dunia ini benar-benar dijadikan alat dan sarana, bukan tujuan. Keimanan dalam genggaman hatinya member kepastian, diakhirat Allah SWT akan memberi balasan yang lebih baik.
Ketiga, Waktu Demi Waktunya Diperhitungkan Sebagai Kesempatan yang tak Boleh Lepas. Waktunya senantiasa digunakan untuk memperbanyak bekal sebelum ajal tiba. Sebab kematian adalah suatu kepastian bagi kehidupan. Kematian adalah fakta dari kehidupan.
Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Kematian laksana pintu yang besar dan setiap manusia sedang mengantri di depan pintu itu.”

Begitulah, setiap manusia akan mati. Orang yang bijak, ketika hatinya digerakkan oleh energy cahaya Allah SWT, maka waktu demi waktunya akan digunakan untuk persiapan menghadapai maut, sebelum kematian itu tiba.  

Ingatlah, manusia ketika ajal tiba akan menangis untuk taubat. Tapi, sayang pintu taubat itu sudah tertutup. Maka bagi kita yang hidup ini, mumpung masih diberi kesempatan, inilah kesempatan baik untuk beramal. Mari kita bersiap menghadapai kematian, sebelum ajal itu tiba.

Itulah tiga wujud konkrit, ketika cahaya itu menggerakan keimanan sehingga menjadi amal. Maka, mudah-mudahan kita mendapat cahaya Allah SWT ini. Semoga kita selalu dalam bimbingan dan hati kita selalu dibersihkan. Sehingga cahaya itu betah di ruang hati yang paling dalam dan menggerakkan jiwa raga kita untuk beramal. Aamiin ya rabbal alamin.   (SAF)      

Artikel Terkait: 



Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Posting Komentar