Kamis, 03 Desember 2015

Home » » Kondisi Sosial-Spritual Umat Islam Sebelum Pembebasan Al-Aqsha oleh Shalahuddin

Kondisi Sosial-Spritual Umat Islam Sebelum Pembebasan Al-Aqsha oleh Shalahuddin

“Telah kau kobarkan kepedihan terhadap nasib Baitul Maqdis, Itulah yang membuat gejolak rindumu padanya kian menjadi. Dialah rumah yang jika engkau bebaskan –dan Allah pasti melakukannya- Niscaya tidak ada satupun pintu Syam yang masih terkunci setelah itu”. (Nasihat Imaduddin Khatib kepada Shalahuddin Al-Ayyubi)

   

Syahdan Yerusalem dalam cengkraman Pasukan Salib, 1174 Masehi.

Wafatnya Nuruddin Zanki membahakkan Bangsa Frank. Semalam suntuk mereka merayakan kematian sang Sultan yang selama hidupnya menyusahkan gerak mereka menjajah wilayah Arab. Di Yerusalem mereka berpesta, tak lupa mereka undang duta-duta raja Syiah Ubaidiyah Mesir untuk memperingati kemenangan besar mereka.

Sayang, Nuruddin sang Ksatria wafat sebelum mengantar mimbarnya ke mihrab Al-Aqsha nan terberkahi. Setelah wafatnya beliau di Damaskus, wilayah umat Islam terbelah cacah, setiap gubernur mengklaim kekuasaan, dan rentang wilayah Muslimin tercabik-cabik perpecahan. Bangsa Frank tak mau kehilangan kesempatan itu, dengan sigap mereka datangi kota-kota penting untuk merobohkannya.

“Ketika Nuruddin Zanki wafat”, tulis para Sejarawan mengabadikan peristiwa, “Para Musuh leluasa membuat onar. Bangsa Frank bertekad merobohkan kedigdayaan kota Damaskus dan merebutnya dari Umat Islam. Penguasa Muslim di sanapun lengah, sehingga setelah kalah dalam pertempuran, Umat Islam Damaskus mesti membayar pajak tinggi untuk Pasukan Salib. Ketika kabar itu sampai ke Shalahuddin, ia menasihati Umat Islam untuk bersabar sejenak dengan membayar pajak, dan mengabarkan kemenangan akan segera datang”.

Secara garis besar, inilah peristiwa yang terjadi pasca wafatnya Nuruddin, yang di situlah Shalahuddin memerankan kepiawaiannya melumpuhkan musuh.

Pasca Nuruddin Zanki wafat, titik-titik kejahatan kembali mewabah, oknum Umat Islam yang dangkal ilmunya kembali mengkonsumsi Khamr, kriminalitas juga bertambah di wilayah Syam. Sebab itulah Shalahuddin –yang saat itu sedang di Mesir- bersikeras menyatukan wilayahnya dan negeri Syam.

Shalahuddin menganggarkan biaya besar untuk program tarbiyah (pendidikan) generasi Umat Islam di Mesir dan Syam, sebagaimana dilakukan pendahulunya untuk mempersiapkan sebaik-baik generasi guna membebaskan Al-Aqsha

Secara umum, serangan bangsa Frank terhadap Umat Islam makin menjadi sebakda wafatnya Nuruddin Zanki, sehingga menyebabkan kerugian finansial besar pada wilayah Syam.

Bangsa Frank menggunakan taktik memecah belah, dengan menghasut penguasa-penguasa Muslim untuk menolong Pasukan Salib dengan imbalan yang sangat besar.

Sebenarnya, kala itu kesedihan mendalam juga dirasakan oleh Shalahuddin, sebab ia kehilangan Nuruddin, salah satu Murabbi terbaiknya yang telah mendidiknya sampai menguasai Mesir. Namun kesedihannya ia benamkan terlebih dahulu, dan bersegera menyambut seruan persatuan.

Dengan cekatan, Shalahuddin meninggikan benderanya untuk menyatukan seluruh wilayah Syam dan Mesir dibawah kepemimpinan yang tunggal. Inilah langkah strategis Shalahuddin untuk membenahi Umat Islam :

Dalam aspek Miiter, Shalahuddin berhasil menggagalkan serangan bangsa Frank yang berniat menyerang Mesir dari Alexandria pada tahun 570 Hijriah. Ibnu Katsir berkata, “Belum ada armada kapal seperti itu sebelumnya”, yakni Shalahuddin menggunakan kapal-kapal kecil dengan taktik ampuh untuk meruntuhkan pertahanan Bangsa Frank. (Al-Bidayah wa Nihayah juz 12 hal. 287)

Dalam aspek politik, Shalahuddin berhasil menggagalkan konspirasi Syiah Ubaidiyah (yang dikenal dengan Fathimiyah) di selatan Mesir. Orang-orang Syiah berusaha memberontak dan berencana membunuh Shalahuddin. Makar ini digagalkan dengan pasukan yang dikirim Shalahuddin pimpinan saudaranya, Abu Bakar Al-Kurdi, sehingga bisa melumpuhkan pemimpin pemberontakan.

Shalahuddin bertekad menyatukan Wilayah Syam dan Mesir di bawah kepemimpinan satu orang saja. Para sejarawan mengabadikan gerakan persatuan yang dipimpin Shalahuddin, “Ia menyatukan yang terserak, dan berbuat baik pada rakyatnya, menebarkan rasa aman pada setiap sudutnya, meninggikan Islam dan menyingkirkan kezaliman, menerbitkan pendidikan Al-Quran dan melindungi semua pemeluk agama” (At-Tarikh Al-Bahir hal. 176)

Shalahuddin secara umum menghadapi perlawanan dari 3 golongan besar; Bangsa Frank yang memang lawan nyata, orang-orang Syiah Rafidhah yang berusaha merongrong kekuasaannya, dan oknum-oknum Umat Islam yang berkhianat pada agamanya. Kesemuanya bersekutu agar Shalahuddin bisa dijatuhkan segera. Namun karena pertolongan Allah, Shalahuddin dapat memadamkan api permusuhan itu dengan sigap.

Shalahuddin Menanamkan Kesadaran untuk Kembali Pada Allah

Salah satu episode terpenting setelah Shalahuddin menggagalkan segala pemberontakan dan menyatukan hati kaum Muslimin, beliau menerbitkan sebuah gerakan besar-besaran bagi seluruh rakyatnya untuk kembali pada Allah SWT, sebab beliau amat yakin pembebasan Al-Aqsha hanya akan terjadi jika jiwa rakyatnya dalam keadaan yang baik pada Tuhan mereka.

“Ada waktu-waktu khusus bagi Shalahuddin bermesra dengan Allah SWT, meminta pertolongan dan keteguhan dari-Nya, dan waktu khusus untuk melihat kondisi keagamaan rakyat dan bangsanya, walaupun beliau sangat sibuk melawan musuh-musuhnya” tulis DR. Jamal Abdul Hadi dalam bukunya ‘Akhta Yajibu an Tushahhih fi Tarikh; At-Thariq ila Baitil Maqdis’.

Untuk merealisasikan tujuannya, Shalahuddin –di tengah persiapan militer yang tangguh- membangun sekolah-sekolah Islam dan membiayai penggunaan Masjid, terutama Madrasah Syafi’iyah di Kairo, dan selama itu pula Shalahuddin banyak memanfaatkan waktunya di Kota ini (Al-Bidayah wa Nihayah juz. 12 hal. 296)

Pada akhirnya, pola kebangkitan yang digulirkan Shalahuddin menjadi tolak ukur yang dipelajari hingga kini oleh para Ulama Muslimin. Sebab dalam kepemimpinannya, Umat Islam kembali bersatu dalam kepemimpinan yang kuat dan shalih, perpaduan indah atara kekokohan akidah, kekuatan militer dan kemakmuran ekonomi menjadikan generasi di era Shalahuddin diyakini sebagai salah satu generasi terbaik Umat Islam sepanjang sejarah.

Maka bukan berlebihan jika “Saya terkagum-kagum dengan pengaruh yang saya lihat dan berita-berita yang saya dengar tentang Nuruddin”, kata Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail Al-Maqdisi seorang Ahli Sejarah besar, “Padahal dia hidup pada kurun-kurun terakhir. Kemudian saya bandingkan dengan raja yang agung pada generasi setelah itu, raja yang selalu mendapat kemenangan, Shalahuddin. Hemat saya, kedua raja itu sebanding dengan Umar bin Al-Khattab dan Umar bin Abdul Aziz pada generasi terdahulu.”

Hari ini kita tak hanya butuh satu orang Shalahuddin Al-Ayyubi. Kita butuh Generasi Shalahuddin! Bismillah.

dakwatuna.com
Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Poskan Komentar