Kamis, 29 Oktober 2015

Home » » Hidayat: NKRI Lahir Melalui Proses Dialogis

Hidayat: NKRI Lahir Melalui Proses Dialogis

Kemerdekaan Indonesia bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Namun, melalui proses dialogis yang melibatkan semua unsur di negeri ini


Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda

Mafaza-Online.Com | CIPUTAT - Dengan semangat Sumpah Pemuda, generasi muda Indonesia harus belajar dari sejarah perjuangan lahirnya negeri ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir melalui proses dialogis yang membuka ruang bagi siapapun untuk terlibat.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Hidayat Nur Wahid ketika berbicara dalam Dialog Kebangsaan "Menyongsong 87 Tahun Sumpah Pemuda dan Pra Muspimnas PMII 2015" di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Selasa (27/10/2015). Turut berbicara dalam kesempatan tersebut, Zainut Tauhid Saadi anggota DPR dari Fraksi PPP. 

Hidayat menuturkan, kemerdekaan Indonesia bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Namun, melalui proses dialogis yang melibatkan semua unsur di negeri ini.

Hidayat mencontohkan, di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), terlibat banyak unsur agama dan etnis. Dari 67 anggota BPUPKI, 2 di antaranya perempuan.

"Di dalam BPUPKI itu saat membahas ideologi, konstitusi, pembukaan Undanng-undang dasar, selalu dialogis, argumentatif, penuh tanggung jawab dan memegang kesepakatan," tuturnya.

Hidayat menambahkan, dari pelajaran sejarah itu dapat ditarik kesimpulan, perjuangan bukan hanya untuk kelompok, tetapi bagi NKRI.


Ada kompromi dan pengorbanan demi kepentingan bersama.

Senada dengan Hidayat, Zainut Tauhid Saadi mengungkapkan, Indonesia adalah negara yang dibangun berdasar kesepakatan. Pancasila adalah salah satu hasil kesepakatan itu.

"Di atasnya, kita bangun indonesia yang kita cita-citakan. Ada instrumen yang mempersatukan kebhinekaan," tuturnya.

Zainut Tauhid mencontohkan, untuk menentukan bahasa nasional saja dibutuhkan kesepakatan. Di Indonesia ada ribuan bahasa daerah.

"Tetapi kita pakai bahasa Melayu yang justru bukan bahasa mayoritas. Kalau mau, harusnya bahasa nasionalnya adalah bahasa Jawa. Tetapi lewat kesepakatan, kita tidak menggunakan yang mayoritas itu," tuturnya. 



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah



Share this article :

Poskan Komentar