Senin, 28 September 2015

Home » » Tugas Kami Melayani Umat

Tugas Kami Melayani Umat

Ustadz Ahmad Faqih, SPdi | FOTO: Eman Mulyatman
Ustadz Ahmad Faqih, SPdi

Ketua Divisi Dakwah Tarekat Al Idrisiyyah


Tugas Kami Melayani Umat 
 

Mafaza-Online.Com | WAWANCARA - Gerak sinergi menjadi keharusan dari organisasi untuk mencapai tujuan. Ibarat main bola, harus ada yang menjadi kiper, bek dan penyerang. Harus ada latihan, strategi, operan dan gocekan sebelum tercipta gol. Begitu pun dakwah, tak bisa dikerjakan sambil lalu. Apalagi seorang diri, harus kerjasama.    

Butir butir kesimpulan itulah yang tertuang dari perbincangan wartawan Mafaza-Online.Com, Eman Mulyatman dengan Ahmad Faqih, Ketua Divisi Dakwah Tarekat Al Idrisiyyah, Kamis (03/09/2015). Dari wawancara langsung di Pusat Al Idrisiyyah, Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat itu terungkap, Divisi Dakwah ini bukan sekadar aksesoris pemanis, tapi keberadaannya justru sangat vital. Ibarat sebuah motor penggerak di mesin mobil.

“Divisi Dakwah dibentuk untuk memback up, gerak dakwah Mursyid kami dan juga melicinkan jalan bagi Divisi lainnya,” kata Ahmad Faqih.

Lebih rinci, pria asli Tasikmalaya kelahiran 10 Juli 1976 ini menjelaskan, secara struktural Divisi Dakwah Tarekat Al Idrisiyyah Tugas Pokok dan Fungsinya (Tupoksi), menyelenggarakan dakwah baik secara internal maupun eksternal.

Secara Internal, membina kalangan jamaah Tarekat Al Idrisiyyah dan membantu program kerja Divisi lainnya. 

Sedangkan secara Eksternal menyerukan Islam kepada seluruh umat manusia.

Adapun secara eksternal programnya ada dua. 


Pertama, melaksanakan dakwah seluas-luasnya, tidak hanya sebatas umat Islam.

Kedua, ikut membantu perjalanan dakwah dari Syaikh Mursyid Tarekat Al Idrisiyyah. Memback up baik dakwah yang belum, sedang maupun telah dilaksanakan oleh Syaikh Mursyid Tarekat Al Idrisiyyah.

Model dakwah seperti ini dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. Sirah Nabi saw menceritakan, selain kepada sahabat yang telah berkomitmen dengan keimanan kepada Allah SWT, Rasulullah saw juga menyeru seluas-luasnya kepada yang belum berkomitmen. Seruan itu dilakukan baik kepada suku-suku maupun kepada umat lain, seperti kepada Yahudi dan Nasrani. Muhammad saw adalah teladan kita  baik sebagai juru dakwah, ekonom, kepala keluarga atau kepala Negara. Semua teladan itu ada pada diri Rasulullah saw. Dialah sebagai sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik). 


“Dalam berdakwah kami  merujuk kesana (Rasulullah saw),” jelas Ahmad Faqih.

Dibawah Divisi Dakwah ini ada unit lain, seperti HIDMAH, Himpunan Dai Muda Al - Idrisiyyah, Penyebaran Dai dan Dakwah Media. Tugas Divisi Dakwah ini membangun relasi dengan lembaga dan tokoh lain. “Lembaga yang bisa diajak kerjasama, tentu dengan prinsip dakwah bil hikmah wal mauidzah al hasanah,” kata Ahmad Faqih.   

Secara struktural, Divisi Dakwah bagian dari Tarekat Al Idrisiyyah. Syaikh Muhammad Fathurahman MAg sebagai Mursyid (Pimpinan), dibawahnya ada perangkat divisi-divisi. Ada divisi Ekonomi, Pendidikan, Peranan Wanita, Kepemudaan dan Kemitraan. Antardivisi bergerak sinergi mencapai tujuan bersama. Divisi dakwah concern pada kerja dakwah baik yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Fathurahman maupun oleh juru dakwah Jamaah Idrisiyyah. 

“Jadi ketika Syaikh atau Divisi lain berdakwah ke suatu tempat, Divisi Dakwah mensupport. Kami membangun jaringan dengan lembaga atau ormas. Sehingga spektrum dakwah meluas. Kami menindaklanjuti agar dakwah tidak terputus,” beber Ahmad Faqih.

Ahmad Faqih menambahkan, divisi dakwah —sebagaimana divisi lainnya— itu second line yang tugas utamanya melayani Mursyid. “Ibaratnya guru kami yang membabat alas, kami terus merapikan dan merawatnya,” jelasnya.

Ibarat pohon yang subur dan terus tumbuh, penyebaran dakwah Al Idrisiyyah menyebar ke cabang-cabang. Setelah dibina Mursyid, maka tugas Divisi Dakwah merawat Jawiyah (cabang) itu. Divisi Dakwah berbagi peran dengan divisi lainnya, karena masing-masing Jawiyah ada divisi juga. Masalah ekonomi di diurus oleh divisi ekonomi di Jawiyah setempat sesuai arahan Pusat.  Jadi masing-masing Jawiyah segaris geraknya dengan Pusat Tarekat Al – Idrisiyyah di Tasikmalaya.       

“Jadi di Al Idrisiyyah ini ada istilahnya mubaligh silang, ada mubaligh dari Pusat Al Idrisiyyah di Tasik yang dikirim ke Jawiyah,” kata Ahmad Faqih.

Sebagaimana dikatakan Ahmad Faqih, cabang-cabang Al – Idrisiyyah ini berinteraksi dengan ormas – ormas setempat.

“Alhamdulillah, dengan beberapa ormas kami terus menjalin silaturahim. Nah dengan konsep yang terus diformulasi oleh Guru kami, Al Idrisiyyah bergaul dan bekerjasama dengan Organisasi Islam lainnya.  Sehingga Tarekat Al Idrisiyyah itu bisa hadir sebagi problem solver di tengah - tengah umat,” jelasnya.

Jadi, tambah Ahmad Faqih, interkasi baik dengan tarekat lain atau mazhab lain itu menjadi selaras, saling melengkapi. Sebagaimana layaknya sebuah permainan bola. Sebelum melangkah Divisi Dakwah memetakan dulu organisasi yang akan disambangi. Harus tahu karakter dan fokus gerak organisasi yang akan didekati.

Jangan lupa, ingat ayah berputra tiga ini, kedepankan persamaan, bukan perbedaannya. Hasilnya, tak hanya kepada sesama Jamaah Tarekat, bahkan Al Idrisiyyah telah menjalin silaturahim dengan Persatuan Islam (Persis) dan Muhammadiyah. Begitu pula dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarekat Al Idrisiyyah sering mengadakan kerjasama baik tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Kota.     

Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang. “Kami menjalin simpul, sehingga terjalinlah sambung rasa,” kata Ahmad Faqih.

Pembaca biasanya kalau mendengar lembaga dakwah, yang terbayang urusan Khatib Jumat saja. Ketika hal ini kami tanyakan kepada Ahmad Faqih dia tergelak.  “Hahaha … Ya tidak! Kalau urusan Shalat Jumat cukup ditangani DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) saja.”

Dalam kaca pandang Ahmad Faqih, ada yang lebih urgent dari sekadar penyelenggaraan Khatib Jumat, yakni bagaimana melayani umat Islam ini sehari-hari. Dengan pola dakwah yang mengakar pada umat, maka Tarekat bisa mendeteksi denyut nadi umat. Tensi darah umat ini terlalu rendah atau ketinggian itu bisa terpantau.  Jawiyah itu adalah uratnya atau kepanjangan tangan dari Pusat. Dengan adanya Jawiyah, Pengurus Pusat bisa menakar dosis yang dibutuhkan umat. Insya Allah.

Cakupan kerja Divisi Dakwah luas, jadi Khatib Jumat itu hanya bagian saja. Dengan pola dakwah yang terintegrasi ini, Al Idrisiyyah bisa fokus melayani kebutuhan umat. Kalau permasalahan itu, karena ekonomi, maka divisi ekonomi yang terjun. “Itulah cara Divisi Dakwah me-maintenance umat,” terangnya.

Sinergi lainnya yang dia kemukakan, Kampus Idrisiyyah juga mengirim mahasiswanya untuk melakukan Kuliah Kerja Lapangan di kota-kota di luar Tasikmalaya. Bahkan pengiriman ini juga sampai ke kota-kota lain yang bukan basis Jawiyah.

Tak berhenti disitu, Tarekat Al Idrisiyyah juga menyiapkan dan mengirim delegasi dakwah. Jadi dakwah dalam berbagai bentuknya sesuai kebutuhan umat diprogram.   “Mubaligh silang itulah yang kami kirim ke Jawiyah,” kata Ahmad Faqih.

Lalu apa kriterianya untuk menjadi anggota Divisi Dakwah Al Idrisiyyah?

Ahmad Faqih menjelaskan, untuk menjadi juru dakwah dilembaganya ada syarat khusus dan umum. Khusus, artinya memenuhi persyaratan sebagai juru dakwah. Sedangkan yang umum itu, menguasai disiplin ilmu tertentu. Tapi, itu tidak menjadi syarat utama. Syaratnya cukup sederhana, punya jiwa dakwah. Jadi profesinya boleh apa saja, tapi ‘hobi’ - nya berdakwah. Bisa dosen, seniman, insinyur atau pebisnis  tapi, harus terstruktur. Koordinasi ini menjadi penting, ibarat main bola, ada yang memberi umpan sebelum tercipta gol. Para dai ini sebelumnya dibekali pelatihan seperti, penguasaan materi dan public speaking.

Sosok Ahmad Faqih, pria yang murah senyum ini adalah Alumni Pesantren Al Idrisiyyah Tasikmalaya. Dia juga kelahiran Tasikmalaya, asli Tasik. Jadi tahu benar dinamika lembaga yang digelutinya. Menurutnya, tipologi umat di kampung dan kota itu berbeda. Pengajian di kampung seperti terjebak rutinitas. Pengajian setiap Jumat Atau Ahad harus ada. Sayangnya setelah mengaji bubar begitu saja. Seperti sekadar menjalani kewajiban. Sedangkan di kota besar, seperti Bandung dan Jakarta ada dinamika  jadi lebih menantang.

Majelis Taklim dengan konsep tarekat yang diformulasikan sesuai perkembangan zaman ternyata punya daya tarik. Jamaah yang hadir merasa tercerahkan. Mereka rajin bertanya, baik yang ada dimateri dakwah maupun persoalan hidupnya.  “Jadi lebih cair dan terbuka tak hanya doktrin,” katanya.

Taklim Idrisiyyah selalu menggabungkan dua bentuk tarbiyah kepada umat, melalui Majelis Taklim dan Majelis Zikir. Keduanya disajikan satu paket. Setelah taklim ada muhasabah dan zikir. “Taklim untuk mencerdaskan akal fikiran, muhasabah untuk membersihkan hati. Zikir untuk memantapkan hati,” terangnya.

Tapi, kenapa di Indonesia dakwah semarak tapi kondisi terus terpuruk? Menjawab ironi tersebut pria yang biasa disapa Ustadz Faqih ini membeberkan, apa yang diseru juru dakwah belum tersampaikan semua. Ada substansi besar yang belum clear, yakni memahami kepemimpinan dalam Islam. Padahal Islam ini agama terbimbing dan terpimpin. “Kata Huda dalam al Quran bisa diartikan petunjuk dan pemimpin,” ungkapnya. 

Seperti Musa kepada Firaun, “Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.” (QS Thaha [20] : 47).

Huda artinya cahaya yang menuntun atau pemimpin. Padahal setiap hari umat Islam membaca surat al Fatihah: Tunjuki kami, beri kami pemimpin yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Tapi, selesai shalat (berjamaah) tidak ada lagi imamnya. “Disisi lain, ulama sebagai pemimpin tidak hadir ditengah-tengah problematika umat,” katanya.

Lebih lanjut Ustadz Faqih menguraikan, makna tarekat itu sebagai manhaj untuk berjalan. Tentu sebagai konsep itu harus dijalankan. Karena dalam beragama harus ada pembimbing. Ketika berjalan berjalan harus ada pemimpinnya. Dulu ada Nabi sebagai pembimbing sekarang ada pewarisnya, yaitu ulama. Al ulama waratsatu al anbiya. Setiap kurun ada pewaris dan warisan itu harus dijaga. 


“Menurut hemat kami itulah yang sebenarnya menjadi konsep kepemimpinan dalam Islam,” tegasnya.
Memang dakwah di era materialistis ini tentu tidak mudah. Namun, Al Qur’an sudah memberikan rambu-rambunya. Menurut Ahmad Faqih, Al Idrisiyyah menyuguhkan tarekat itu manhaj al Quran. Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam surat Jin [72] ayat 16. 


“Dan jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). “
Menurut Ahmad Faqih, Tarekat jangan dimaknai organisasi. Karena itu terlalu kecil, menimbulkan sekat-sekat dan saling klaim kebenaran.  Lebih baik Tarekat dimaknai sebagai perjalanan sesuai kata aslinya, Thoriq (jalan). Dia menilai, konsep inilah yang diterima ormas Islam lainnya. Baginya organisasi didirikan hanya sebagai wadah untuk bergerak. Kalau tidak ada organisasi, bagaimana koordinasinya? Masak main keroyok terus. “Ibarat main bola, harus ada yang mau jadi kiper atau bek, jangan semua maunya jadi penyerang. Nanti malah bisa kebobolan,” jelasnya.

Selain era materialisme juru dakwah juga dihadapkan dengan badai fitnah Perang terorisme. Apalagi Tarekat Al Idrisiyyah ini sehari-hari mengenakan jubah dan surban serta berjanggut. Plus wanitanya bercadar.

Ustadz Faqih menceritakan; ketika belanja ke supermarket bersama istri, sedang asyiknya memilih-milih barang, tiba-tiba ada orang yang menarik cadar istrinya. Yang menarik cadar ternyata perempuan. Aksinya berlanjut dengan memaki-maki penuh kebencian. Ahmad Faqih berusaha menjelaskan, dia justru menanggapinya dengan emosional. “Hindari saja,” kata Satpam yang datang melerai.

Ahmad Faqih menilai kejadian itu sebagai ujian, kalau ujian itu maknanya Allah SWT yang memberi. Jadi tidak boleh lari dari ujian. Justru Tarekat Al Idrisiyyah menampilkan Islam yang sesungguhnya: berjanggut, bersurban dan bercadar. Bukankah Perang Terorisme itu adalah kesalahpahaman?

“Jadi betul, Isu itu sangat memberatkan, disisi lain kami tertantang untuk menyuguhkan Islam yang sesungguhnya. Alhamdulillah feedbacknya positif, ternyata tidak semua yang distigmakan itu betul.  Justru yang berjanggut itu lebih manis dan humoris malah. Ha ha ha ….” katanya diiringi derai tawa.



Share this article :

Poskan Komentar