Minggu, 14 Juni 2015

Home » » Ini Penyebab Satu Kelas di SMAN 15 Surabaya Tidak Naik Kelas

Ini Penyebab Satu Kelas di SMAN 15 Surabaya Tidak Naik Kelas

Beberapa siswa dalam satu kelas di SMAN 15 terjadi kesalahan yang fatal. Bagaimana tidak, hasil rapor siswa kelas X dinyatakan tidak naik kelas

Raport | Ilustrasi
Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
 

Mafaza-Online.Com | SURABAYA - SMAN 15 Surabaya membuat kesalahan fatal. Bagaimana tidak, semua siswa kelas X dinyatakan tidak naik kelas dalam rapor.

Kepala SMAN 15, Khoiril Anwar, membenarkan hal itu. “Sebenarnya baik-baik saja. Hanya memang ada kesalahan waktu mencetak sewaktu mencoret naik atau tidak naik, hanya beberapa saja,” ungkapnya ketika dihubungi Surya, Minggu (14/6/2015).

Ia menegaskan, kesalahan itu sudah dibenarkan. “Yang terjadi sama siswa kelas X 13, merupakan murni kesalahan dari teknisi kami. Kami mengakui kalau memang terjadi kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan. Lain waktu kami akan lebih teliti lagi," ungkapnya.

Khoiril yang juga Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMAN Surabaya, sudah menghubungi wali murid yang mengalami rapor anaknya dinyatakan tidak naik kelas.

“Semua wali murid sudah dihubungi dan sudah kami klarifikasi untuk perbaikan,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan Dinas Pendidikan Surabaya, Sudarminto, menyatakan kalau pihak dari dinas akan mengadakan evaluasi untuk SMAN yang terkait hal itu.

“Kami sudah mendapat laporan dari pihak sekolah, dan memang itu kesalahan di human interest-nya. Jelas hal seperti ini akan kami evaluasi dan melakukan pembinaan agar tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesalahan itu, bisa karena dari teknisinya yang lupa atau tidak menyimpan data yang sudah diisi di rapor online.

“Seharusnya setelah memasukkan data, harus segera disimpan, dan ketika menandatangani rapor itu, seharusnya pihak sekolah juga lebih teliti lagi,” tambahnya.

Terpisah, anggota Komisi B DPRD Surabaya, Baktiono, mendapat pengaduan dari seorang wali murid yang tidak naik kelas.

“Iya saya mendapat pengaduan dari orangtua siswa yang mendapatkan rapor anaknya tidak lulus. Memang kalau orangtua yang mendapatkan pernyataan seperti itu kan diam. Ternyata setelah dikroscek sekelas itu tidak lulus semua,” ungkapnya ketika dihubungi Surya.

Selain itu Baktiono juga berharap kalau harusnya diadakan evaluasi tentang rapor online. Menurutnya tidak semua guru bisa melakukan pengisian rapor online dimana dimana langsung diterapkan dan tidak melalui proses tryout.

“Seharusnya ada percobaan terlebih dahulu. Karena ini menyangkut nasib siswa loh ya. Dan siswa nggak boleh dijadikan bahan percobaan,” terangnya. Ia menambahkan juga perlunya evaluasi untuk rapor online, bagaimana merumuskan agar tidak terjadi kesalahan.

Positif vs Negatif Rapor Online
Rapor online ternyata membawa dampak positif dan negatif. Kepala SMAN 15, Khoiril Anwar menyebutkan kelebihan dari rapor online.

“Memang awal-awalnya agak ribet untuk para guru, tapi setelah berjalan memang sangat membantu. Jadi nilai yang sudah masuk tidak bisa lagi diubah,” terangnya.

Selain itu, ia juga menegaskan kalau rapor online sulit dilakukan untuk para guru yang tidak disiplin. “Sekarangkan zaman digital karena mempermudah untuk meng-entry data. Rapor online ini juga melatih kedisiplinan guru, siswa, dan semua warga sekolah,” tambahnya.

Namun, Baktiono menyebutkan, rapor online dirasa masih kurang efisien. “Dilihat dari pengaduan beberapa siswa aja sudah jelas. Memang kalau untuk penyimpanan data sangat membantu, tetapi harus ada evaluasi yang terus dilakukan agar terus memperbaiki apa yang kurang,” ungkapnya.

SURYA.co.id


Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
Share this article :

Poskan Komentar