Selasa, 16 Juni 2015

Home » » Ini Penjelasan Menag tentang “Hormati Orang Tidak Puasa”

Ini Penjelasan Menag tentang “Hormati Orang Tidak Puasa”

Menanggapi penjelasan sepanjang 12 twit itu, banyak netizen yang setuju dengan Menag. Namun ada pula netizen belum bisa menerima dan masih mempermasalahkan seruan Menag

Menteri Agama Lukman Hakim | Liputan6
Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
 

Mafaza-Online.Com | SOSMED - Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifuddin menyayangkan berita-berita yang muncul di media terkait pernyataannya yang tidak menyetujui penutupan warung saat puasa. Ia merasa twitnya telah diplintir sedemikian rupa.

Berikut ini tanggapan lengkap Menag melalui Twitter resminya @lukmansaifuddin yang telah dirapikan oleh bersamadakwah, khususnya singkatan-singkatannya:

  1.     Berikut ini tanggapan atas twit saya yang telah diubah kalimatnya sedemikian rupa sehingga berubah makna.Twit asli: “Warung-warung tak perlu dipaksa tutup.
  2.     Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa..”
  3.     Twit saya itu muncul sebagai tanggapan atas adanya pandangan yang kehendaki agar warung-warung ditutup saja di bulan puasa.
  4.     Ada 2 hal yang ingin saya sampaikan lewat twit itu. Pertama; tak perlu ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa.
  5.     Bila ada yang sukarela menutup warungnya, tentu kita hormati. Tapi muslim yang baik tak memaksa orang lain menutup sumber mata..
  6.     ..pencahariannya demi tuntutan hormati yang sedang puasa. Saling menghormati adalah ideal. Tapi jangan paksa satu kepada yang lain.
  7.     Kedua; kata ‘juga’ pada “kita harus hormati juga” secara implisit mengandung makna: selain menghormati yang sedang berpuasa,
  8.     kita juga dituntut hormati hak mereka (dalam mendapatkan makanan/minuman) yang tak wajib berpuasa karena bukan muslim.
  9.     Juga menghormati hak muslim/ah yang tak sedang berpuasa karena keadaan (musafir, sakit, perempuan haid, hamil, menyusui).
  10.     Tapi kalau kalimat twit saya itu diubah jadi: “Kita harus hormati yang tak puasa”, tentu maknanya jadi berbeda sama sekali.
  11.     Saya tak tahu penyebab pengubahan kalimat twit saya itu karena ketidaktahuan, ketaksengajaan, atau memang ada motif lain.
  12.     Apapun penyebabnya, saya maklum. Moga ini bisa bikin terang konteks dan maksud dari twit saya yang diplintir itu. Sekian.

Menanggapi penjelasan sepanjang 12 twit itu, banyak netizen yang setuju dengan Menag. Namun ada pula netizen belum bisa menerima dan masih mempermasalahkan seruan Menag.

“Tidak ada yang dirubah, pak @lukmansaifuddin . Dan sewaktu Nyepi, kok bapak tidak buat pernyataan untuk menghormati yang tidak Nyepi pada masyarakat Bali??,” balas akun @Ratu_Ayie.

“Nanti saat Natal, tolong buat pernyataan juga pak @lukmansaifuddin —> “Jgn paksa karyawan muslim utk memakai atribut Natal”” lanjutnya.

“Coba Pak Menteri ketika Hari Nyepi bikin himbauan agar hendaknya Bandara tidak perlu di tutup untuk menghormati yang tidak Nyepo,” tulis akun @masmugho.

“oke sekarang kami tunggu tweet bapak agar non muslim bisa toleran terhadap muslim, contoh natal dan nyepi,” tambah akun @ZhoVanRe.

BERSAMADAKWAH


Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 
Share this article :

Poskan Komentar