Minggu, 24 Mei 2015

Home » » Sepercik Kisah Nyata Teladan Kontemporer: Memuliakan Ibunda...

Sepercik Kisah Nyata Teladan Kontemporer: Memuliakan Ibunda...

Memuliakan ibu adalah memuliakan Allah. Tak ada ibadah terbaik di dunia ini selain berbakti kepada ibu

Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Malam telah larut dan sebentar lagi pagi akan datang. Aku masih larut melihat perkembangan bursa di New York. Dari tadi siang aku malas membuka email karena melihat perkembangan pasar yang semakin memburuk. Kelihatannya hari - hari ke depan tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali bertahan dalam situasi buruk.

Teman mengatakan dalam gurauan kepadaku, bahwa ini saatnya kita surfing di atas gelombang ganas. Lihatlah, tak banyak yang bisa selamat. Tapi, ini tantangan untuk menguji siapa yang qualified melewati putaran waktu.

Ada SMS masuk, ” sudah baca email dari Kedutaan? Anda diundang untuk datang menghadap Raja mereka”.
Saya terkejut. Bersegera saya buka email. Benarlah, email ini datang dari tadi siang. Terbayang upaya hampir setengah tahun untuk mendapatkan clients potensial. Kini peluang terbuka dengan adanya undangan untuk presentasi. Walau kemungkinan berhasil masih sangat jauh namun setidaknya ini titik awal untuk sebuah harapan. Akupun bersegera membuka file presentasi untuk mempertajam materi dan menambah sedikit bahan sesuai hasil riset mutakhir.

Pagi- pagi aku bersama team sudah berada di Airport untuk terbang memenuhi undangan. Dijadwalkan, setiba di Bandara aku akan dijemput oleh asisten kerajaan. Kemudian akan diantar ke tempat istirahat kerajaan sambil menunggu jadwal pertemuan khusus dengan Raja.

Setelah pertemuan dengan Raja, maka keesokan harinya dijadwalkan untuk menghadiri presentasi dengan pejabat terkait.

Penerbangan first class itu sangat nyaman. Di dalam pesawat aku berusaha membaca indikator mutakhir ekonomi dan sosial negara yang akan aku kunjungi itu.

Ketika mendarat , cuaca cukup cerah. Pejabat yang menjemput kami nampak tersenyum ramah membawa kami ke limousine untuk menuju hotel. Sesampai di Hotel Kerajaan, pejabat itu memberikan kesempatan kami untuk istirahat dan dia langsung kembali ke kantornya. Pejabat itu berpesan bahwa besok jadwal pertemuanku dengan Raja. Hanya aku saja tanpa didampingi team. Jam 7 malam jemputan akan sampai di hotel untuk acara makan malam, jam 8, bersama Raja. Aku mengangguk.

Aku bekerja bersama team sampai mendekati subuh untuk memantapkan segala persiapan. Setelah shalat subuh aku memilih untuk istirahat dan tidur. Begitupula dengan team lainnya. Sebelum berangkat tidur, telpon sellularku berdering.

“Pah” suara istriku di seberang.

“ Ya” Aku menangkap ada sesuatu di rumah, karena tidak seperti biasanya istriku menelepon sepagi ini.

“ Papa, tenang aja. “

“ Ya tenang, Ada apa “

“ Bunda, kena serangan jantung ringan.”

“ Sekarang Bunda ada dimana ?"

“ Di rumah sakit. Mama dampingi bunda terus. Kata dokter keadaannya sudah membaik. Papa tenang aja. Adik- adik semua ada di sini kumpul. Bunda di bawah perawatan dokter terbaik. Kita berdoa aja semoga keadaan bunda semakin membaik. “

Terkesan bagiku , istri berusaha menenangkan aku bahwa keadaan bunda baik- baik saja. Tapi, diapun tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran akan keadaan bunda. Seusai menerima telephone itu, batinku mendesakku untuk segera pulang. Tapi bagaimana dengan rencana kunjungan ini. Bagaimana perasaan teamku bila pertemuan ini gagal karena aku harus segera pulang. Apalagi perjuangan mendapatkan klien ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun. Namun hatiku tidak bisa tenang dengan segala pemikiran tentang masa depan usahaku. Aku hanya memikirkan tentang hari ini dimana bunda sedang sakit dan aku harus ada di sampingnya.

“Apakah itu tidak bisa ditunda lusa saja atau besok saja setelah kamu bertemu dengan Raja,” kata salah satu teamku.

Dia dapat memaklumi sikapku namun dia juga meminta kebijakanku soal kelangsungan bisnis kami.

“Ibu saya sakit dan ini tidak sederhana. Aku tidak bisa memaafkan diriku bila aku sampai menunda pulang,“ kataku dengan wajah bingung.

Aku terduduk sambil mengusap kepala. Bayanganku terus kepada bunda.

“Tapi bagaimana dengan rencana kita ?“

“ Maafkan aku…” kataku sambil menatapnya dengan wajah sesal.
Aku berharap teamku dapat memaklumi. Semua anggota team terdiam. Akhirnya salah satu dari mereka berkata “Kamu benar.! Kalau begitu kita putuskan pulang hari ini,“ kata mereka dengan tersenyum seakan berusaha menutupi keadaan posisiku agar tidak merasa bersalah karena keputusanku untuk pulang.

Jam 8 pagi aku menelepon pejabat penghubung kami dengan kerajaan dan menyampaikan alasan kami untuk pulang.

“Yang harus Anda ketahui bahwa tidak pernah satu kalipun Raja kami dibatalkan pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan. Sikap protokoler istana akan sangat keras.“

“Mengapa ?“

“Kamu sudah setuju untuk datang dan kini mendadak kamu batalkan sepihak karena alasan yang tidak masuk akal.”

“Ini soal ibu saya.”

Pejabat itu hanya terdiam dengan wajah terkesan marah.

“Maafkan kami. Semua akomodasi dan tiket yang sudah kerajaan keluarkan akan kami ganti. Ini kesalahan kami dan kami akan membayar kesalahan itu,” kataku

“Reputasi Anda juga akan hancur,” kata pejabat itu dengan nada mengancam.

“Kami sadar akan itu. Sekali lagi maafkan kami.”

Nampak pejabat itu berbicara melalui telepon dengan nada penuh hormat.

“Tadi baru saja pangeran berbicara dengan saya dan ia sangat marah karena pembatalan pertemuan ini,“ kata pejabat itu.

“Apakah aku bisa bicara dengan beliau.”

“Tidak perlu,“ katanya tegas dan kesal.

Aku bersama team berangkat menuju Bandara. Rencananya, aku langsung pulang ke Jakarta. Sementara teamku kembali ke Hong Kong.

Sesampai di Bandara, nampak sekuriti sangat ketat. Supir taksi yang kami tumpangi mengatakan bahwa Raja datang ke Bandara. Kami terpaksa turun agak jauh dari gate keberangkatan.

Ketika aku bersama team melangkah menuju bandara keberangkatan, salah satu pejabat yang mengenal kami segera berlari ke arah kami. Dengan ramah pejabat itu berkata, ”Raja ingin bertemu dengan kamu.”

Aku mengangguk dengan melangkah agak ragu mengikuti pejabat itu ke ruang VVIP.

Ketika melewati koridor bandara seorang petugas mengambil pasportku dengan ramah. Aku terus melangkah dalam perasaan penuh tanya. Ada apa gerangan ini? Ketika pintu ruangan VVIP terbuka, nampak sang Raja didampingi putra mahkota tersenyum ramah ke arahku. Tanpa sungkan dia memelukku sambil mencium pipiku.

“Saya mendengar khabar bahwa ibunda Anda sakit dan Anda harus segera pulang. Benarkah itu?"

“Maafkan saya  yang mulia. Bukan bermaksud tidak menghormati undangan Yang mulia, tapi keadaan ibu memang memerlukan kehadiranku di sampingnya.”

“Pulanglah. Urusan dunia ini tidak penting. Memuliakan ibu adalah memuliakan Allah. Tak ada ibadah terbaik di dunia ini selain berbakti kepada ibu. Sampaikan salam saya kepada ibu anda. Doa saya akan menyertainya,” kata - kata itu meluncur begitu sejuknya.

Aku sampai terharu. Dihadapanku ada seorang Raja yang kaya raya dan dihormati namun tetap lebih menghormati seorang ibu.

“Terimakasih ya Yang Mulia.”

“Saya yang harus berterimakasih kepadamu. Karena lewat peristiwa ini, saya bisa memberikan pelajaran berharga kepada putra saya. Bahwa tak penting berapa peluang bisnis yang akan diraih namun bila saatnya datang untuk memuliakan orang tua, maka itulah yang lebih diutamakan,” kata Raja itu sambil menatap ke arah putra mahkotanya.

Usai pertemuan itu , aku bersama pejabat penghubung kerajaan keluar ruangan VVIP menuju bandara keberangkatan. Pejabat itu berkata, ”Yang Mulia Raja meminta Anda pulang dengan jet pribadinya. Sementara team Anda tetap disini untuk melanjutkan pertemuan dengan pejabat terkait. Raja juga telah memutuskan untuk memilih perusahaan Anda sebagai mitra kami. Selamat.“

Anggota team saya nampak berlinang air mata ketika mendengar kata- kata itu. “Bila kita muliakan ibu maka Allah akan memuliakan kita. Tentu yang sulit menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang. Anda benar dan kami percaya sikap Anda,” kata salah satu anggota team saya sambil memeluk saya.

Ketika sampai di Bandara, aku langsung ke Rumah Sakit. Setiba di Rumah Sakit, istriku sudah menunggu dan membawaku ke ruangan bunda dirawat. Kucium kening bunda dan nampak matanya terbuka, Bunda tersenyum ”Kaukah itu, Nak?“

“ Ya, bunda.”

“Siapa yang bilang bunda sakit. Bunda enggak apa -apa.” Bunda menoleh ke arah istriku , dan berkata, “ Jangan kau ganggu anakku bekerja. Soal begini tak perlulah dikabarkan. Kau pikir mudah untuk kembali dari luar negeri ke sini. Lagi pula disana dia tidak main -main. Dia kerja.“ Bunda mengomeli istriku.

Itulah bunda, dalam keadaan apapun beliau tetap tidak ingin membuat anaknya repot. Andaikan tangannya masih kokoh, langkahnya masih kuat itu akan selalu digunakannya untuk membimbing anak -anaknya melangkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya akan terus terdengar mengantar anaknya tidur bahwa besok akan selalu baik- baik saja, dan bunda akan selalu ada di sampingmu, nak…

Oktober 2012
Dubai.

Repost By:
MUSLIM ENTREPRENUER



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah

Share this article :

Poskan Komentar