Senin, 27 Oktober 2014

Home » » Perbedaan Mursyid dan Ulama Biasa

Perbedaan Mursyid dan Ulama Biasa

Ciri sosok yang mendapatkan hikmah dari Allah adalah ia diberikan kebaikan-kebaikan yang banyak. Ilmunya bertambah berkualitas dan manfaat, mengalir terus hingga alam akhirat


Silakan klik: Buku: Fiqih Demokrasi
 
Mafaza-Online.Com | TAFAKUR - Kita sering mendengar dalam kehidupan masyarakat ada Ulama, cendikiawan muslim, ustadz, muballigh. Latar belakangnya pun beragam sekali, banyak yang berasal dari mantan artis, pelawak, dan selebritis lainnya. Seseorang mudah disebut Kiyai jika mempunyai pondok pesantren, seseorang bisa disebut sebagai ustadz ketika ia mengajar baca tulis Al Quran, disebut Ulama jika bisa berceramah atau punya pengikut. Fenomena ini menjadikan sosok Ulama menjadi begitu banyak di mata masyarakat.

Dengan kondisi tersebut timbullah persoalan, umat menjadi kehilangan figur siapa Ulama sebenarnya yang membawa ajaran Islam yang kaffah. Jika tidak belajar tentang ciri-ciri yang membedakannya maka kita akan salah menyandarkan figur sebagai pembimbing umat kepada jalan Islam yang kaffah.

Perbedaan Mursyid dengan Ulama lain sangat erat hubungannya dengan pembagian ilmu (zahir dan batin).

Pertama, seorang Mursyid menguasai kedua ilmu tersebut (ilmu zhahir adalah fiqih, ilmu batin adalah tasawuf). Sementara Ulama biasa (bukan Mursyid) hanya menguasai ilmu zahir saja.

Kedua, seorang Mursyid akan mendapatkan bimbingan dari ruhani Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara Ulama selainnya tidak mendapatkan bimbingan ruhaniah.

Latar belakang pencarian ilmu seorang Mursyid seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul bukan hanya sebatas tulis baca. Yakni menjalani proses mujahadah (perjuangan) dan riyadhah (pelatihan ruhani). Proses pelatihan ruhani di antaranya membersihkan diri, mencari dan butuh kepada Allah, peduli kepada kebenaran. Disebutkan dalam Al Quran Nabi Musa As selalu datang ke Gunung Thur di Sinai dalam rangka membersihkan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebelum diangkat menjadi Nabi selalu mendekatkan diri dan mencari kebenaran di Gua Hira untuk mendapatkan petunjuk dan bimbingan Allah. Secara otomatis seorang Mursyid yang menempa diri tersebut akan mendapatkan curahan bimbingan ruhani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Perjalanan Syekh Akbar Abdul Fattah (Mursyid) mencari ilmu yang kaffah (zahir dan batin) begitu berat dan panjang. Setelah mempelajari ilmu-ilmu yang zahir (bahasa Arab, Fiqih, Tafsir dan lain-lain) di Garut dan Ciamis, Beliau menempa batinnya. Kemudian muncullah keinginan besar untuk berjumpa dengan sosok seorang Mursyid. Karena selama itu Beliau hanya mempelajari ilmu-ilmu zhahir, dan tidak merasa cukup. Beliau ingin menyerap ilmu-ilmu yang bersifat batin dari seorang Mursyid. Pencarian Beliau berjalan selama 12 tahun.

Beliau memutuskan untuk mencari sosok Mursyid tanpa dibatasi waktu. Beliau berprinsip sebelum bertemu ia akan terus mencarinya. Beliau akhirnya membawa istri dan anak-anaknya supaya tidak ada terbetik keinginan pulang menengok keluarga sebelum mendapatkan sosok Mursyid yang dicarinya.

Dalam bahasa Sunda, semangat Beliau dedegler[1] (menggebu-gebu). Sebelum mendapatkan ilmu dari Guru Mursyid tidak ingin pulang ke rumah. Tujuan perjalanannya adalah Mekah, di mana pada musim haji muslim dari seluruh penjuru dunia datang berkumpul. Sehingga tidak perlu mencari dari satu kota/negara ke kota/negara lain.

Sekitar tahun 1928 perjalanan ke Mekah masih menggunakan kapal laut. Rutenya mesti melewati Singapura. Pada saat transit di Singapura seluruh perbekalan Beliau hilang, sehingga mampirlah di sana dan menetap selama 4 tahun. Beliau tinggal di sana sambil berdakwah sampai diberikan sebuah tanah wakaf yang dibangun masjid.

Saat ini situs masjid di Gelang Serai tempat dakwah Beliau sudah tidak ada. Padahal, menurut penuturan tokoh masyarakat yang sudah lanjut usia di sana menceritakan bahwa dahulu di sana terdapat banyak masjid, ada masjid Jawa, Madura, dan lain-lain. Maksudnya masjid yang imam masjidnya berasal dari Jawa atau Madura. Orang-orang yang transit di Sangapura inilah yang mendirikan masjid-masjid. Penguasa Singapura yang berasal dari non muslim pada akhirnya membatasi jumlah masjid tersebut, termasuk masjid di Gelang Serai, tempat dakwah Syekh Akbar pun menjadi hilang. Saat ini tinggal sekitar 50 masjid (yang diizinkan) di seluruh Singapura.

Selama tinggal di sana, Ibu Siti Zubaedah membantu suaminya usaha menjahit pakaian. Setelah 4 tahun, barulah datang kabar bahwa di Mekah ada seorang Ulama yang bernama Syekh Ahmad Syarif as Sanusi. Maka dengan adanya berita yang pasti tentang adanya seorang Mursyid di Jabal Abu Qubais ini, Syekh Akbar Abdul Fattah mengembalikan istri dan anak-anaknya ke Pulau Jawa. Tujuannya agar proses belajarnya tidak terganggu.

Syekh Akbar Abdul Fattah berangkat ke tanah suci di musim haji bersama beberapa Ulama dari Pulau Jawa. Sesampainya di Mekah, Beliau mencari Guru Mursyid yang dicari-cari selama ini, yakni berada di Jabal Abu Qubais. Mekah, posisinya berada di lembah yang dikelilingi oleh bukit, di antaranya Jabal Abu Qubais.

Kesempatan bertemu dengan Syekh Ahmad Syarif as Sanusi tidak disia-siakannya. Sikap kesungguhan dalam masa pencarian selama 12 tahun dan menimba ilmu serta berkhidmah selama 4 tahun menghasilkan buah kepercayaan Gurunya sehingga melimpahkan kepemimpinan Mursyid kepadanya.

Demikianlah gambaran perjalanan kehidupan seorang Mursyid dalam pengembaraan mencari ilmu dan kebenaran (tidak sebatas mencari ilmu semata). Mencurahkan jiwa raga dan Kepedulian kepada Allah (kebenaran) begitu kuat.

Selain Mursyid (Ulama yang tidak menguasai keahlian ilmu zahir dan batin) tidak memiliki ajaran yang kaffah (totalitas). Seorang Mursyid akan menguasai dan memahami ajaran Islam, kemudian membimbingkannya kepada murid/umat. Karena menguasai kedua ilmu tersebut maka ia akan mendapatkan cahaya bimbingan ruhani Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Disebut juga dengan ilmu laduni, artinya ilmu yang datang dari sisi Allah (bukan hanya dari buku/kitab). Keilmuannya memiliki sambungan kepada Allah melalui Mursyid-mursyid sebelumnya.

Diibaratkan seseorang yang membutuhkan air jernih dan bersih yang bersumber di daerah pegunungan yang tinggi. Meski lokasi sumbernya jauh, dengan menggunakan pipa paralon yang disambung-sambung airnya akan mengucur (mengalir) ke tempatnya. Air akan sampai jika pipanya menyambung. Air jernih (steril) tersebut ibarat ilmu Allah yang datang dari sisi-Nya. Pipa air yang sambung menyambung tadi diibaratkan silsilah (mata rantai) para Mursyid.

Ilmu Allah itu tidak datang begitu saja. Tapi mesti melewati usaha yang sungguh-sungguh, sebagaimana pencarian para Nabi dan Mursyid yang didasari dengan kepedulian kepada ilmu Allah (kebenaran). Sehingga setelah kesungguhan daya upaya tersebut melahirkan bimbingan yang sesungguhnya.

Ilmu yang mendapatkan bimbingan ruhani Rasulullah itu hakikatnya berasal dari Allah. Dan Allah tidak henti-henti memberikan ilmu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sejalan dengan firman Allah:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Yu’til hikmata may yasyaa wamay yu’til hikmata faqod uutiya khoyron katsiiroo. Wamaa yadz-dzakkaru illaa Ulul albaab. Allah akan memberi hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah maka sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidaklah mendapatkan pelajaran kecuali Ulul Albab.[2] (QS Al Baqarah [02] : 269)

Sebelumnya telah disampaikan bahwa para Mursyid itu akan mendapatkan bimbingan ruhani dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, yakni ilmu agama yang kaffah (menyeluruh). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam merupakan pintu meraih bimbingan Allah, karena Beliau   yang telah mendapatkan ajaran agama sesungguhnya dalam wujud Al Quran.

Ilmu hikmah adalah kumpulan ilmu zahir dan batin. Secara zahir ayat Al Quran memang tidak bertambah atau berkurang, tapi dari sisi kedalaman maknanya tidak akan terukur dan berakhir.

Ilmu hikmah yang diterima Mursyid itu senantiasa baru dan tidak ada yang usang. Berbeda dengan ilmu zahir yang memiliki kadaluarsa. Salah satu ciri Ilmu hikmah yang diterima seorang Mursyid, akan membuat pikiran terbuka dan hati akan menyambung kepada Allah. Lain halnya dengan seorang mubaligh yang tidak memiliki ilmu hikmah, ucapannya tidak akan membekas di hati pendengar.

Bagi yang memiliki kemauan (keinginan), ilmu hikmah yang terucap dari lidah seorang Mursyid akan terasa segar dan tidak membosankan, karena ilmu hikmah akan keluar terus menerus tanpa henti. Kata “yu’ti” [يُؤْتِي] (memberikan) dalam bentuk fi’il mudhari’ mengandung kondisi hal wal istiqbal (saat ini dan akan datang). Pengertiannya sejak ayat itu turun, hikmah akan terus mengalir kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya sampai hari kiamat.

Orang yang dikehendaki ini (man yasyaa’) tidak disebutkan kedudukannya sebagai para Nabi, atau Ulama. Namun orang yang diberikan hikmah tersebut (karena pilihan) jumlahnya tidak banyak. Sosok Nabi atau Rasul diturunkan satu untuk kaumnya (tidak banyak). Begitu pula sesudah berlalu masa kenabian, para Mursyid yang menerima hikmah tersebut.

Ciri sosok yang mendapatkan hikmah dari Allah adalah ia diberikan kebaikan-kebaikan yang banyak. Ilmunya bertambah berkualitas dan manfaat, mengalir terus hingga alam akhirat.

Dalil ini menunjukkan bahwa hikmah atau ilmu yang Allah diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya, yang dikategorikan sebagai bimbingan ruhaniah. Pemberian hikmah tidak secara langsung melainkan melalui agen-Nya yang resmi (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam).

Ulama selain Mursyid tidak akan mendapatkan hikmah dan bimbingan ruhani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, pengetahuannya hanya berasal dari kitab/buku yang dipelajarinya.

Penutup
Ilmu itu ibarat cahaya. Meskipun proses mencapainya begitu berat dan panjang, ilmu akan menyinari diri dan orang lain. Bagaikan lampu yang menyinari seluruh orang atau benda yang ada dalam jangkauannya. Makanan dan kotoran yang memiliki warna dan bentuk sama bisa dibedakan. Hal itu tidak dapat dibedakan apabila tidak terlihat (gelap) tanpa cahaya. Demikianlah manfaat ilmu, dapat membedakan mana yang baik dan buruk.

Ilmu yang bersifat batin mesti dicapai melalui kekuatan yang berasal dari batin, berfikir, ada kesungguhan dalam jiwa ingin mendapatkan ilmu (cahaya) sehingga belajarnya disiplin dan konsisten. Jika masa belajar saat ini diabaikan maka kesempatan belajar akan hilang atau berkurang (karena dipakai untuk mencari nafkah).  Yang lebih masalah lagi apabila sudah tidak ada keinginan. Inilah kesempatan terbuka bagi santri untuk menimba ilmu zahir dan batin seluas-luasnya selama di pesantren. Ilmu zahir didapat di sekolah, sedangkan ilmu batin didapat dari majelis bersama Guru Mursyid termasuk berzikir untuk menyambungkan hati kepada Allah melalui wasilah-wasilah-Nya.

Tantangan bagi mereka yang menuntut ilmu adalah hawa nafsu dan kehidupan dunia yang dikendalikan oleh syetan. Bebas tidak mau diatur, semaunya, mengejar kenikmatan sesaat, adalah di antara bentuk karakter nafsu. Hawa nafsu diciptakan chemistry (senyawa) dengan kehidupan dunia, oleh karenanya amat berbahaya jika tidak dibimbing. Jika nafsu dilatih dan dibimbing maka ia tidak terjebak oleh dunia, bahkan menjadikannya sebagai media untuk meraih kebahagiaan yang abadi.

Waspadalah!

Sumber: Kajian Santri (Rabu, Okt 2014)

Lq.

[1] Belum ada padanan yang pas untuk istilah ini. Orang dedegler tidak akan berhenti mencari/mengupayakan sebelum apa yang diinginkannya terpenuhi.

[2] Ulul Albab [أُولُو الْأَلْبَابِ] adalah orang yang pikiran dan hatinya bersambung kepada Allah. Lubb itu bersih, yakni hati dan pikirannya.



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 


Share this article :

Poskan Komentar