Sabtu, 18 Oktober 2014

Home » » Koalisi Indonesia Berkah

Koalisi Indonesia Berkah

Setiap pribadi dan semua kelompok bangsa ini bertanggung jawab mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negeri berkah.

Oleh: Faris Khoirul Anam




Silakan klik: Buku Fikih Jurnalistik
  


Mafaza-Online.Com | KOLOM - Koalisi itu pada prinsipnya adalah kerja sama beberapa unsur politik yang memiliki tujuan sama. Koalisi politik boleh saja bersifat sementara, karena perbedaan kepentingan unsur-unsurnya.

Sementara Indonesia berkah, dalam arti bangsa yang memiliki kebaikan melimpah (al-khair al-katsir) adalah tujuan bersama negara ini sepanjang sejarahnya.   

Oleh karena itu, tujuan menjadi Indonesia berkah itu tidak sementara. Pun, menuju Indonesia berkah tidak hanya menjadi tugas aliansi politik.  Koalisi Indonesia berkah menjadi tugas tiap kelompok orang, bahkan setiap warganegara.

Benang merahnya, karakter koalisi Indonesia berkah itu ada dua: bersifat permanen dan melibatkan semua unsur bangsa Indonesia. Bagaimana caranya? Allah telah mengikrarkan dalam surah al-A’raf ayat 96 yang artinya:

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sesuai janji Allah dalam ayat tersebut, Indonesia akan menjadi negeri berkah dengan syarat jelas: penduduknya beriman dan bertakwa. Lalu, bagaimana kunci dan manivestasi iman—takwa itu?

Mengkaji al Quran mulai awal hingga akhir, kita akan menemukan tipsnya. Kita perhatikan, ternyata ciri orang bertakwa yang pertama kali disebutkan al Quran dalam urutan mushaf, tepatnya dalam al-Baqarah ayat ketiga, adalah “mereka yang beriman kepada yang gaib”.

Tentang pengertian gaib, pakar tafsir abad ke-7 H, Muhammad al-Qurthubi, menjelaskan, gaib itu sesuatu yang tidak terlihat dan tidak ada di hadapanmu (kullu ma ghaba ‘anka). Sementara gaib yang dimaksud dalam ayat tersebut memiliki beberapa makna. Intinya, sebut al-Qurthubi, semua informasi dari Rasulullah saw yang sementara tak terlihat, seperti azab kubur, hari kebangkitan, jembatan (shirath), timbangan perbuatan (mizan), surga, dan neraka, itu semua perkara gaib.

Ujian bagi kita sebagai manusia, hal-hal gaib itu, baik pahala maupun dosa, surga atau neraka, tidak langsung diperlihatkan oleh Allah SWT. Sedang andai semua hal gaib tersebut langsung diperlihatkan oleh Allah SWT di dunia ini, bisa dijamin, seluruh manusia akan berbuat taat, dan tidak akan ada satu pun yang berbuat maksiat!

Nah, menguatkan keyakinan dan kesadaran tentang adanya sesuatu yang gaib inilah kunci ketaatan bangsa ini, hingga dapat menemukan keberkahannya. Orang yang keimanannya pada hal gaib mantap, akan memiliki keyakinan kuat bahwa hidup ini ada tanggung jawabnya, dunia dan akhirat. Itulah ciri orang cerdas spiritual menurut Rasulullah, yaitu, 


“Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan paling baik dalam mempersiapkan kehidupan setelah kematian.” (HR Ibnu Majah dan al-Thabrani)

Orang ingat mati dan senantiasa mempersiapkan kehidupan setelah kematian, pasti akan berusaha melakukan yang baik, dan tidak akan melakukan perbuatan negatif, apalagi merugikan orang lain.

Secara pribadi, dia akan istikamah ibadah dan mengawasi ibadah keluarganya, terutama shalat. Siapa yang melakukan itu, hidupnya akan berkah (lihat: QS Thaha: 132). Karena yakin hidup ini ada tanggung jawabnya, seorang atau kelompok pedagang, wirausahawan, pemegang tender, akan berbisnis dengan jujur, tidak akan melakukan penipuan, dan itulah sebab datangnya keberkahan, seperti diriwayatkan Abu Wail (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah: 3/309).

Pun, seorang pejabat akan berlaku adil, karena dia yakin, bila lalim atau melakukan korupsi, dia akan dimintai pertanggungjawaban, dunia dan akhirat. Dengan begitu, roda pemerintahannya akan berjalan baik dan mendapatkan keberkahan.

Pendek kalam, setiap pribadi dan semua kelompok bangsa ini bertanggung jawab mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negeri berkah. Tingkatkan keimanan pada sesuatu yang gaib, keyakinan bahwa hidup memilki tanggung jawab, lakukan kebaikan dan tinggalkan kemaksiatan.

Pasalnya, jelas ulama, kemaksiatan itu menyebabkan krisis, sedang ketaatan itu menjadi penyebab turunnya berkah (al-ma’ashi sabab al-jadb wa al-tha’ah sabab al-barakah). Itulah tips dan manivestasi iman-takwa menurut al-A’raf ayat 96 itu, yang akan meniscayakan guyuran berkah untuk negara dan bangsa ini. Wallah al-Musta’an.
 

REPUBLIKA


Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
Share this article :

Poskan Komentar