Kamis, 23 Oktober 2014

Home » » KH Cholil Badawi: Jokowi Presiden, Sebaiknya Kita Husnuzhan

KH Cholil Badawi: Jokowi Presiden, Sebaiknya Kita Husnuzhan

Jokowi memang politisi yang bukan berlatar belakang Islam, tapi kan ada Jusuf Kalla



Silakan klik: Buku: Fiqih Demokrasi

  
KH Cholil Badawi | (FOTO: Eman Mulyatman)
Mafaza-Online.Com | WAWANCARA - Diusianya yang 83 tahun KH Cholil Badawi memang tidak muda lagi. Tapi sebagai politisi dia masih terus mengikuti perkembangan, “Ya sehatnya orangtua beginilah,” katanya menjawab tegur sapa Eman Mulyatman yang datang bersilaturahim ke rumahnya di Magelang Jawa Tengah, Senin 13 Oktober 2014.  

Naiknya Zulkifli Hasan, sebagai Ketua MPR pun tak lepas dari pengamatan KH Cholil Badawi. Sosok Zulkifli Hasan menurutnya bisa dibilang sebagai kader Masyumi. Menurutnya, Zulkifli Hasan memang termasuk orang baru di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Seingat Kiai Cholil ketika dia masih di Jakarta, Zulkifli Hasan adalah seorang pengusaha sukses yang simpati terhadap kegiatan umat Islam terutama pada DDII.  

“Ukurannya (Usia) anak saya, dia (Zul) itu!” kata Cholil Badawi mengingat-ingat.

Memang, masih kata Cholil Badawi, setelah Zulkifli Hasan jadi Menteri, dia sudah pulang ke Magelang, Jawa Tengah. Waktu itu KH Cholil Badawi masih menjadi pengurus DDII, jadi dia kenal baik dengan Zulkifli Hasan. Sekarang KH Cholil Badawi menetap di kampung halamannya, faktor usia, membuatnya tidak bisa pergi jauh-jauh meninggalkan rumahnya. Jabatan terakhirnya di Masyumi adalah sebagai ketua Pimpinan Wilayah Jawa Tengah.

“Dari yang saya dengar, dia itu orangnya luwes, supel dalam pergaulan sehingga diterima oleh berbagai pihak,” begitu kesan Cholil pada Zulkifli Hasan.  

KH Cholil  tahu Zulkifli Hasan terpilih dari suratkabar. Sebagai seorang sahabat, dia turut mendoakan, mudah-mudahan Allah SWT memberi kemudahan dalam menjalankan tugas sebagai Ketua MPR.

“Saya sempat memberi ucapan selamat lewat sms, tapi kemudian dia telepon saya. Sudah terima smsnya dan mengucapkan terima kasih. Saya memberitahu bahwa saya sudah 2 tahun ini sakit, sehingga tidak bisa pergi jauh,” beber Cholil Badawi.

Tentang aksi Koalisi Merah Putih (KMP) di Parlemen menurut KH Cholil itu memang pengalaman baru di Indonesia. Ini akibat Pemilu Pemilihan Presiden (Pilpres) yang hanya dua calon. Kalau hanya dua kan satu menang dan yang satu kalah. Jadi seolah-olah jadi seperti ada 2 partai, hanya ini dalam bentuk koalisi. Yang satu menang, di Pilpres, yang satu lagi kalah di Pilpres tapi menang di Parlemen.

Itu terjadi seperti di Amerika sekarang, Partai Republik menguasai Majelis Rendah, sedangkan Demokrat menjadi Presiden menguasai Majelis Tinggi. Artinya, Presiden Amerika tidak mendapat dukungan mayotitas Parlemen di Majelis Rendah. Tokh hal itu biasa saja. Jadi kenapa sekarang Pers (di Indonesia) mengambil sikap, membuat penilaian Seolah-olah tindakan KMP itu pokoknya asal beda dengan Pemerintah Jokowi.

“Soal memborong kursi pimpinan di DPR, dipermasalahkan padahal itukan sesuatu yang biasa saja,” katanya.

Seperti sekarang Jokowi sebagai Presiden Terpilih, dia tidak terpikir untuk mengambil dari kelompok KMP, untuk diangkat menjadi Menteri di Kabinetnya. Jadi sebetulnya bukan sesuatu yang masalah bila KMP menguasai Parlemen. Karena Jokowi sendiri menguasai Eksekutif. Apa mungkin Jokowi mau berbagi kekuasaan?


“Sekarang tergantung dari Jokowi sendiri. Ya kalau dia sudah yakin, programnya itu Pro Rakyat, kenapa takut (dengan dominasi KMP di Parlemen)?” tukas Cholil Badawi.

Dalam kaca pandang KH Cholil, KMP itu tidak bisa bersikap seenaknya, asal beda dengan pemerintah. Sebab rakyat selama 5 tahun, akan terus menilai. Kalau sikapnya asal beda saja dengan pemerintah (Jokowi) maka Pemilu 5 tahun kedepan partai-partai di KMP akan jatuh.

“Akan dihukum oleh masyarakat dengan tidak memilihnya,” tegas Cholil Badawi.

Sebab yang perlu diketahui, masih kata KH Cholil Badawi, sekarang ini anak muda terdidik merupakan kelompok mayoritas. Jadi biasa kritis, tidak seperti kelompok di desa pada masa Orba yang manut saja. Masyarakat muda yang kritis di kota itu cepat bergeraknya.

“Jadi, kalau Jokowi berkoalisi dengan rakyat saja, wah itu bisa lebih kuat,” ungkapnya.

Jadi, kalau KMP asal beda saja, terus program Jokowi bisa diterima rakyat, maka rakyat akan berhadapan langsung dengan KMP.

KH Cholil juga belum berani mengatakan Jokowi akan mengambil kebijakan yang merugikan umat Islam. Sebab bagaimana pun juga, Jokowi memiliki pertimbangan politik yang kuat. Bahwa, dia (Jokowi) sendiri bukan berlatar belakang Islam, tapi kan ada Jusuf Kalla.

Menurutnya peranan JK bukan sekadar pendamping yang tidak ada artinya. Sebab kemenangan Jokowi di Indonesia Timur itu, karena pengaruh JK. Keberadaan JK sebagai Wapres Jokowi sangat signifikan. Kemenangannya cukup besar, punya pendukung sendiri. Jokowi, tidak akan menganggap ringan kepada JK.

“Keberadaan Wapres JK Tidak hanya sebagai ban serep saja,” kata Cholil Badawi.

Tapi sebagian elemen umat Islam khawatir karena PDIP berlatar belakang ideologi non Islam, apalagi  dukungan pihak non muslim begitu kuat. “Ya, jangan suudzhan (berburuk sangka) dulu. Kita sebaiknya husnuzhan (berbaik sangka) saja dulu, sebab kalau dalam kebijakan Jokowi akan mengecewakan umat Islam, tentunya umat Islam juga akan bergerak,” kata Cholil Badawi.

Jadi baik KMP maupun KIH tidak bisa macam-macam. Karena semua akan saling mengawasi. “Ya, kalau saya punya pikiran seperti itu,” simpul Cholil Badawi.


Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
Share this article :

Poskan Komentar