Kamis, 16 Oktober 2014

Home » » Jangankan SBY, Suami Pun Sulit Meluluhkan Megawati

Jangankan SBY, Suami Pun Sulit Meluluhkan Megawati

Penulis yang wartawan Koran Sindo dan kerap meliput Taufiq dan Mega menulis banyak sisi kehidupan personal Mega, Taufiq, dan keduanya sebagai suami-istri, orang tua, dan politikus

Oleh Kurator Kata | Newsroom Blog 


Silakan klik: Buku: Fiqih Demokrasi

   

Mafaza-Online.Com | MAKTABAH - Batalnya pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputeri meriuhkan kancah politik Indonesia.

Masing-masing menunjuk yang lain sebagai biang keladi gagalnya pertemuan sehingga Partai Demokrat tak jadi berkubu dengan koalisi  Jokowi.

Chemistry antara SBY dan Mega memang sudah buruk sejak 2004. Ketika itu SBY yang Menteri Koordinator Politik dan Kemanan menganggap Presiden Mega mengucilkan dia dengan tak mengajaknya dalam sidang kabinet. Sebaliknya Mega menganggap pembantunya itu mengkhianatinya karena diam-diam membentuk partai politik dan jadi rival dalam pemilihan presiden.

Selama sepuluh tahun Mega bergeming dan tak mau bertemu apalagi berkoalisi dengan SBY.

Kali ini SBY minta bertemu buat membahas koalisi, Mega mau memastikan dulu bersekutu baru bertemu.

Meski membutuhkan Demokrat buat memimpin DPR dan MPR, Mega tetap pada cara yang ia mau. Nampaknya jika Mega sudah berkehendak maka akan sulit diubah pendiriannya.

Bahkan, seperti diceritakan Rahmat Sahid dalam bukunya, Pak Taufiq & Bu Mega, suaminya sendiri, Taufiq Kiemas, tak mampu membujuk Mega berganti haluan sikap politik. Rahmat yang wartawan Koran Sindo dan kerap meliput Taufiq dan Mega menulis banyak sisi kehidupan personal Mega, Taufiq, dan keduanya sebagai suami-istri, orang tua, dan politikus.

Berikut ini nukilan buku  tersebut:

“Ma, ayo nanti kita makan,” kata Taufiq kepada Megawati. Tanpa diketahui Mega, suaminya itu memang sengaja mengajak keluar rumah demi membicarakan urusan politik.

Rupanya ada semacam kesepakatan bahwa di rumah, Mega dan Taufiq tak akan membahas politik. Di rumah, mereka jadi suami-istri biasa.

Kesepakatan tak tertulis itu pernah ditanyakan kepada Mega oleh putrinya, Puan Maharani. “Mama, kenapa aku enggak pernah mendengar Mama berdiskusi politik dengan Papa?” Mega menjawab, “Kalau bicara politik dengan Papamu, nanti pastinya berantem.”

Taufiq dikenal piawai bernegosiasi dan menjalin lobi, bahkan ke pihak yang secara ideologi dan tradisi adalah lawan politiknya. Mega pun beberapa kali terkena “jebakan” ini dan terpaksa meladeni lobi politik yang dilancarkan Taufiq lewat kencan makan itu.

Namun lama-kelamaan Mega hafal trik suaminya ini. Setiap diajak makan keluar, Ketua Umum PDIP akan menelpon pejabat teras partainya seperti Pramono Anung atau Tjahjo Kumolo.

Mega pun menggali info topik pembicaraan yang akan diangkat Taufiq. “Pram, bapakmu habis ngomong apa?” tanya Mega.

Bocoran-bocoran itu bikin Mega siap buat mematahkan permintaan sang suami yang tak sejalan dengan prinsipnya. Jika akhirnya mentok, Taufiq kadang ngambek dan menyebut istrinya itu keras kepala.

“Saya sama Mas Taufiq dibilang keras kepala,” kata Mega. “Katanya saya ini eksentrik.”
Salah satu permintaan Taufik yang ditolak Mega itu adalah urusan posisi PDI Perjuangan terhadap pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Taufiq disebut-sebut sempat membuka komunikasi koalisi dengan SBY, bahkan sempat dipertimbangkan sebagai koalisi baru menggeser Partai Golkar yang tengah memainkan isu Bank Century.

Meski yang membujuk suami, Mega tetap pada keputusannya. Ia ngotot partainya tetap beroposisi terhadap Presiden SBY.

Dalam sebuah pengarahan terhadap kader partainya di Jawa Timur, Mega menjelaskan betapa suami pun bisa dibuat tak berdaya dalam urusan politik. “Boleh melawan dan membantah Megawati Soekarnoputeri, tetapi tidak kepada Ketua Umum PDIP,” kata Mega.

Saat itu, Mega menyatakan dalam hubungan personal dia memakai pendekatan kekeluargaan, tapi dalam hal organisasi ia adalah Ketua Umum yang akan bertindak tegas. “Taufiq menyadari sepenuhnya bahwa Megawati sebagai Ketua Umum terikat kebijakan dan keputusan organisasi,” kata Rahmat Sahid.

Jadi jangan heran jika sebagai Ketua Umum, Mega hanya akan melangkah pada jalan yang sudah dipilihnya, tak bisa dibelokkan. Sebuah sikap yang tercermin dalam lagu andalannya: My Way. Tembang yang dipopulerkan Frank Sinatra itu biasa dibawakan Mega jika didaulat menyanyi.


I did what I have to do and saw it through without exemption.
I planned each charted course, each careful step alon the by way.
 And more, much more than this, I did it my way...


***

Selengkapnya bisa dibaca di buku:

Judul:
Pak Taufiq & Bu Mega
Catatan Ringan, Lucu dan Unik dari Keluarga Politik
Pengarang:
Rahmat Sahid
Penerbit:
Expose, Agustus 2013
Tebal:
xx + 206 halaman




Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah

Share this article :

Poskan Komentar