Minggu, 17 Agustus 2014

Home » » Misi Intelijen Perempuan Pejuang Indonesia

Misi Intelijen Perempuan Pejuang Indonesia

Mudjinah. Perempuan kelahiran Jombang ini menceritakan kisahnya menjadi intelijen di daerah yang dikuasai pasukan Sekutu di Surabaya



  
Upacara Bendera | (FOTO: Mafaza-Online.Com / Eman Mulyatman
Mafaza-Online.Com | MAKTABAH - Tugas yang dibayar mahal Mudjinah dengan siksaan dan hukuman kerja paksa
Seringkali penggambaran peran perempuan dalam perang kemerdekaan hanya sebagai perawat tentara yang terluka dan mengurus dapur umum. Padahal, banyak perempuan yang juga berjuang di garis depan, bahkan menjadi intelijen.

Salah satunya adalah Mudjinah. Perempuan kelahiran Jombang ini menceritakan kisahnya menjadi intelijen di daerah yang dikuasai pasukan Sekutu di Surabaya. Tugas yang dibayar mahal Mudjinah dengan siksaan dan hukuman kerja paksa.

Mudjinah menceritakan penggalan hidupnya ini dalam buku Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan. Buku terbitan Markas Besar Legiun Veteran RI ini memuat kisah pengalaman hidup para veteran perang kemerdekaan hingga perjuangan pengakuan kedaulatan RI.

Berikut ini nukilan kisah Mudjinah tersebut:
PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Mudjinah. Petugas penginterogasi tak segan-segan mengasari perempuan asal Jombang ini demi mendapat informasi yang dicari.

Jika jawabannya dianggap tak memuaskan, paha Mudjinah diinjak dengan sepatu lars. Kadang badannya juga disetrum.

Mudjinah ditangkap pasukan sekutu di daerah yang sekarang menjadi Jalan Ngaglik, Tambaksari, Surabaya. Rumah itu memang pos intelijen tempat dia bertugas. “Tuduhannya, saya membawa surat perintah dari Bung Tomo,” kata Mudjinah.

Tapi siksaan demi siksaan tak membuat dia bisa ditundukkan oleh pemeriksanya. Mudjinah memang bukan perempuan pejuang kemarin sore.

Saat masih pelajar, Mudjinah sudah membantu penyiapan pengibaran bendera merah-putih di depan sekolahnya. Dia harus hati-hati meski Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, karena Karesidenan Besuki tempatnya tinggal masih penuh tentara Nippon.

Pada September 1945, Mudjinah pindah ke Surabaya. Namun sekolahnya di kota itu terpaksa berhenti karena mulai datangnya pasukan sekutu yang didalamnya ada tentara Belanda.

Mendengar pidato Bung Tomo di Radio, Mudjinah memutuskan bergabung ke Palang Merah. Bersama relawan di Palang Merah lainnya, Mudjinah ikut menyerbu dan merebut rumah sakit yang dikuasai tentara Jepang di Karangmenjangan, Surabaya.

Awalnya ia ngeri melihat korban-korban penyerbuan itu. Namun akhirnya Mudjinah memberanikan diri merawat rekan-rekannya yang terluka parah bahkan ikut menguburkan mereka yang gugur.

Setelah pertempuran 10 November 1945, pertahanan Indonesia di Surabaya terpukul mundur. Mudjinah ikut mengawal barisan pengungsi ke Sidoarjo dan setelahnya dia pulang ke Jombang berjalan kaki.

Mudjinah menjadi petugas administrasi tawanan di kepolisian. Dia juga jadi pengurus Barisan Buruh Wanita dan sering mengurusi dapur tentara. Saat mengurusi dapur inilah dia mulai sering mengirim ke medan pertempuran buat mengantar logistik.

Keistimewaan Mudjinah mulai terlihat saat di Jombang. Dia satu dari dua perempuan perwakilan Barisan Buruh Wanita dalam rapat rahasia militer Indonesia yang menyiapkan diri menghadapi agresi militer Belanda.

Setelahnya, Mudjinah berkenalan dengan tugas lain barisan perempuan dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia selain urusan dapur dan kesehatan: misi intelijen. Ia menjadi telik sandi yang ditugasi menyusup ke Surabaya.

Awalnya misi yang membuatnya harus bekerja dengan banyak intelijen tentara lainnya ini berjalan lancar. Bahkan dalam tugasnya ia bertemu sang pujaan hati, Letnan Satu Harry Sutoyo.

Namun naas bagi Mudjinah, identitasnya terbongkar. Ternyata, kata dia, yang mengungkap adalah Irawan, sesama orang Indonesia yang diajak kerja sama, tapi ternyata dia mata-mata lawan.

Mudjinah mengingat, selain dia ada sekitar 115 orang yang ditawan dan dipaksa buka mulut soal siapa komandan pasukan Indonesia di Surabaya. Dari jumlah itu, Mudjinah satu-satunya perempuan.

Demi menyelamatkan kawan-kawan seperjuangan di luar penjara, Mudjinah dan kawan-kawan kompak menyebut atasan mereka adalah Irawan. Sang kolaborator itu akhirnya ikut dibekuk dan disiksa.

Selama masa penahanan itu Mudjinah dibui di penjara Kalisosok dan setelahnya dipindah ke penjara Bubutan Surabaya. “Saya diadili lima kali,” ujarnya.

Ia divonis penjara 15 tahun penjara disertai kerja paksa. Usai hukuman dijatuhkan, ia disatukan dengan narapidana perempuan lainya yang masuk kategori dihukum berat.

Sehari-hari dalam masa hukuman itu, Mudjinah harus mengaduk kotoran manusia dengan tanah untuk dijadikan pupuk. Ia menahan mual ketika mengambil air  buangan toilet buat menyiram tanaman. Mudjinah juga mesti mengangkut karung beras tak ubahnya kuli.

Kerja berat itu masih ditambah lagi siksaan dari sipir penjara dan ketua blok penjara. Semua itu membuat Mudjinah sakit.

Saat dirawat oleh dokter Abdul Manap yang sesama narapidana, Mudjinah mendapat kabar terbaru perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kabar lainnya yang ia terima, pengacara yang ditunjuk Republik Indonesia, Mr. Tohar, berhasil memotong hukuman Mudjinah menjadi sepuluh tahun.

Beruntung hukuman penjara itu tak perlu dijalaninya sampai selesai. Vonis itu gugur dengan sendirinya ketika Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949.

Mudjinah akhirnya kembali menghirup udara bebas di Indonesia yang benar-benar merdeka. Bahkan, setelah pengakuan kedaulatan itu, Letnan Satu Harry Sutoyo pun menyuntingnya.

***

Selengkapnya bisa dibaca di buku:

Judul:
Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan
Penerbit:
Markas Besar Legiun Veteran RI, 1982
Tebal:
785 halaman

Kurator Kata | Newsroom Blog | Yahooindonesia



Silakan klik: 
Share this article :

Poskan Komentar