Sabtu, 05 Juli 2014

Home » » Operasi Timor-Timur: Berkah Perwira, Tulah Prajurit

Operasi Timor-Timur: Berkah Perwira, Tulah Prajurit

Selain bercerita soal jatuh-bangun kariernya di spesialisasi yang dipandang sebelah mata, Padmo juga bercerita pengalamannya berdinas di rumah sakit angkatan darat, laut, udara, dan kepolisian



  
Mafaza-Online.Com | MAKTABAH -
Seiring para veteran menunjukkan taringnya di percaturan politik menjelang pemilihan presiden, operasi militer di Timor-Timur pun mencuat lagi. Sebagian besar dari mereka yang pensiunan jenderal itu meroket kariernya setelah mengikuti operasi tersebut.

Operasi di wilayah yang sekarang jadi Timor Leste itu memang mendatangkan berkah bagi para perwira muda karena bertabur Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Banyak dari penerimanya yang melesat kariernya di TNI dan pemerintahan.

Dari sekian banyak cerita heroisme yang dituangkan dalam memoar para petinggi militer dan ditulis media massa, terselip kisah para korban perang. Termasuk para tentara yang terluka dan prajurit berpangkat rendah yang jeri dengan pertempuran.

Ahli bedah saraf Profesor DR. R.M. Padmosantjojo, menceritakannya dalam buku Aku dan Bedah Saraf Indonesia. Selain bercerita soal jatuh-bangun kariernya di spesialisasi yang dipandang sebelah mata, Padmo juga bercerita pengalamannya berdinas di rumah sakit angkatan darat, laut, udara, dan kepolisian.

Padmo adalah spesialis bedah saraf legendaris yang terkenal hingga ke mancanegara setelah suksesnya dalam tim bedah kembar siam Yuliana-Yuliani pada 1987. Bayi asal Tanjung Pinang itu dilahirkan dengan posisi kepala menempel di ubun-ubun.

Berikut nukilan memoar Padmo itu:

Saat berjalan di koridor Rumah Sakit Tjiptomangunkusumo, Padmo bertemu teman seangkatannya, Kolonel Moch Isa yang sedang mendampingi Brigadir Jenderal dr. Suyoto, Direktur Kesehatan Angkatan Darat. Ketiganya lantas mengobrol dan pembicaraan berlanjut ke bidang spesialis Padmo, bedah saraf.

Suyoto ragu rumah sakit militer perlu spesialisasi itu.

“Apa memang kita perlu ahli bedah saraf?” kata Suyoto kepada Isa.

Diremehkan, Padmo tersinggung dan langsung meninggalkan keduanya. Padahal dulu pada 1965, tentaralah yang menjemputnya ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto buat menolong anak Jenderal Abdul Haris Nasution yang jadi korban G30S yang kala itu membutuhkan ahli bedah saraf.

Angkatan Udara pada 1970 juga pernah memakai jasa Padmo buat menolong seorang kolonel yang penyakit Parkinsonnya kambuh. Rumah Sakit Angkatan Laut pada 1971 juga memintanya mengoperasi pasien-pasien tumor otak yang perlu “dibuka kepalanya”.

Omongan Suyoto itu terbukti keliru, terutama saat Indonesia menggelar operasi militer di Timor-Timur, terutama pada 1975 hingga 1976. Saat itu Padmo bersama dokter Diwijo Sugondo bertugas menangani korban pertempuran.

Pasien-pasien itu datang setiap tiga hari sekali diangkut pesawat Hercules yang mendarat di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma. Setiap ada rombongan pasien yang datang, selalu saja ada tiga sampai empat kasus yang membutuhkan bedah saraf.

“Bisa dibilang hampir setiap hari kami berdua harus operasi,” kata Padmo. “Praktis tanpa pernah ada hari libur.”

Setelah kondisi di Timor-Timur lebih aman, Padmo dikirim langsung ke Bacau, Dili, dan Maliana. Melihat  sendiri medan pertempuran, Padmo jadi paham banyaknya korban itu antara lain diakibatkan beratnya medan pertempuran.

“Saya ingat beberapa prajurit dan bintara memohon-mohon agar tetap dinyatakan sakit,” kata Padmo. Permintaan seperti itu muncul karena mereka tak mau dikirim kembali ke medan pertempuran.

Anehnya, sikap yang berbeda ditunjukkan para perwira muda yang terluka. “Meskipun belum sembuh betul, mereka sudah memohon diizinkan kembali ke pertempuran,” ujarnya.

Selain membantu Operasoi Seroja, total Padmo 25 tahun lamanya membantu di rumah sakit tentara. Ia bahkan ikut mengembangkan pelayanan bedah saraf di RSPAD Gatot Soebroto.

Segala macam penugasan tambahan yang dijalaninya hingga direktur rumah sakit Angkatan Darat itu berganti 17 kali disebutnya program “terima kasih”. Acap kali operasi berjam-jam yang dilakoni dokter yang berkali-kali menolak tawaran praktek di Belanda ini hanya dibalas rumah sakit dengan ucapan terima kasih saja.

Toh ia melihat dari sisi positifnya saja. “Mimpi masa kecil menjadi dokter ahli untuk dapat menolong mereka yang memerlukan telah tercapai,” kata Padmo.

***

Selengkapnya dapat dibaca di buku:

Judul:
Aku dan Bedah Saraf Indonesia
Pengarang:
Prof. Dr. R.M. Padmosantjojo
Penerbit:
Bhuana Ilmu Populer, Februari 2008
Tebal:
xii + 528 halaman

Kurator Kata | Newsroom Blog




Silakan klik: 
 

Share this article :

Poskan Komentar