Senin, 28 Juli 2014

Home » » Khutbah Idul Fitri 1435 Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA

Khutbah Idul Fitri 1435 Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA

Kembali ke Fitrah, Menjadi Ummat yang Berkeunggulan dan Rahmatan Lil Alamin



  
Di sampaikan oleh :
Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA
Kampus Pusat Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia
1 Syawal 1435 H , Jakarta Selatan


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر.
الله أكبر عدد ما ذكر الله ذاكر وكبر.
الله أكبر عدد ما صام صائم وأفطر.
الله أكبر عدد ما فرح طائع واستبشر.
الله أكبر عدد ما استرجع مذنب وتذكر.
الله اكبر عدد ما تاب تائب واستغفر.
الله أكبر عدد ما تلا قارئ للقرآن وتدبر.
الله أكبر عدد ما فاح ذكر الله بالألسن وتعطر.
سبحان الله والحمد لله, و لا إله إلا الله الله أكبر.
الحمد لله الكريم المنان, المتفضل بالإحسان على الدوام, شرع الشرائع وأحكم الأحكام, أحمده من علينا بمنن لم يعطها قبلنا من الخلائق والأقوام, فكتابنا القرآن خير كتبه وأحسنها تفصيلا وإحكام, ونبينا سيد ولد آدم, ورسول الثقلين الأنس والجان, أتم علينا النعمة بالصيام وأباح لنا الفطر اليوم إيذاننا بعيدنا أهل الإسلام, وأصلي وأسلم على النبي المصطفى والرسول المجتبى سيد ولد عدنان, من صلى وصام وأحسن وقام صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أولي النهى والإقدام .
أما بعد فأوصيكم أيها الناس بتقوى الله فإن من اتقى الله وقاه, ومن توكل عليه كفاه.


اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah SWT,

Kembali kita bersyukur kepada Allah SWT, hari – hari ini kita menikmati karunia – Nya yang mempunyai makna yang sangat mendalam. Karena iya mengingatkan kepada kita semuanya akan hakikat kita sebagai hamba Allah yang bisa merasakan keagungan Allah SWT Zat Yang Maha Segala Kebaikan.

Hari – hari ini ummat Islam di seluruh dunia menegaskan kembali proklamasi fitrah mereka bahwa memang mereka adalah ciptaan Allah dengan segala makna dan konsekuensi dari kondisi ciptaan itu. Dan sekaligus proklamasi pengakuan bahwa memang Allah lah yang Maha Agung oleh karenanya layak untuk kita sembah, kita taati, dan kita laksanakan seluruh ketentuan - Nya yang hanya akan membawa kemashlatan bagi umat manusia dan menjauhkan mereka dari segala hal yang merugikan dan tidak memberi manfaat apapun bagi kehidupan mereka, baik di dunia apalagi di akhirat. Dengan Pendekatan inilah kita memaknai betapa agung dan syahdunya lantunan takbir yang berkumandang di hari – hari lebaran ini.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah SWT,

Kesyukuran kita juga bahwa dengan selesainya ibadah berpuasa selama 1 bulan Ramadhan dan terbayarkannya zakat, di hidupkannya kembali sunnah Rasulullah terkait dengan pemakmuran masjid dan tilawah Al – Quran, memberikan kepada kita modal yang sangat besar untuk mengisi kehidupan secara lebih berkualitas, hingga kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Itulah salah satu hikmah dari di syariahkannya berpuasa dan hadirnya bulan Ramadhan.

Sebab memang sudah sangat sepantasnyalah bila nilai – nilai keutamaan itu bisa di realisasikan oleh umat, apalagi tentunya Ramadhan kemarin itu bukanlah Ramadhan yang pertama kali, mungkin bahkan sudah untuk yang puluhan kalinya.

Sebab dengan berpuasa yang benar akan semakin kuatlah sikap moralitas kita dan juga keberanian kita untuk istiqomah dalam kebenaran dan kejujuran serta keikhlasan untuk melaksanakan beragam ajaran yang ma’ruf dan menjauhkan diri dari beragam rayuan kemungkaran.

Dengan ber – zakat kita meneguhkan komitmen untuk memperluas makna dan praktik keshalihan bukan hanya untuk individual tetapi juga untuk sosial. Zakat juga mengandung makna tentang pentingnya kita meningkatkan kualitas kerja dan produktivitas.

Dengan mentadaburi Al – Quran sesungguhnya kita sedang disegarkan oleh Allah SWT tentang prinsip dan keteladanan kehidupan yang membawa kepada sukses dunia dan akhirat. Dan terjauhkan dari godaan maupun kesalahan yang akan bisa merusak reputasi atau yang akan berdampak negatif baik untuk diri, keluarga, profesi bahkan bangsa dan negara.

Maka, sudah sangat semestinya bila umat Islam sungguh – sungguh mensyukuri beragam karunia yang Allah telah berikan di atas, agar karunia ini akan selalu bisa di jaga bahkan dilipat – gandakan oleh Allah SWT, ini pasti di tegaskan lagi karena memang masih banyak di antara kita yang berpandangan seolah – olah kehadiran Ramadhan dan segala kebaikan di dalamnya hanyalah sekedar ritual tahunan semata, yang bisa datang dan pergi tanpa bisa memberikan nilai tambah bagi dirinya, profesinya maupun Bangsanya.

Kesyukuran itu juga di perlukan karena masih banyak juga saudara – saudara kita umat Islam di berbagai penjuru dunia seperti di Myanmar, Sri Lanka, Irak, Syiria, Afrika Tengah dan apalagi Palestina khususnya Gaza yang masih sangat memerlukan peduli dan bantuan kita semua agar mereka juga dapat lebih maksimal lagi menikmati kehadiran Ramadhan seperti yang kita nikmati di Indonesia.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Di Rahmati Allah SWT,
Selesainya bulan Ramadhan memang bisa di sambut dengan duka nestapa, seperti yang dilakukan oleh banyak ulama salaf yang terdahulu, karena mereka tahu persis berbagai kesempatan emas yang bisa mereka maksimalkan dengan datangnya bulan Ramadhan tersebut, khususnya dalam hal yang terkait dengan masalah ubudiyah/ hablu minallah/spiritualitas. Karena mereka tidak yakin atau khawatir kalau – kalau mereka tidak lagi berjumpa dengan bulan Ramadhan di tahun yang akan datang. Suatu cara pandang yang manusiawi sekaligus inspiratif agar hari – hari setelah Ramadhan dapat kita isi dan maksimalkan untuk merealisasikan / mengamalkan beragam ajaran kebaikan yang ada di dalamnya.

Karena sesungguhnya minus melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan, maka segala kebajikan di bulan Ramadhan masih terus terbuka untuk masih bisa dikerjakan karena secara prinsip ajaran untuk beraqidah yang benar dan beribadah yang ikhlas dan bermuamalah yang hasanah memang berlaku sepanjang masa tidak hanya di bulan Ramadhan saja.

Allah SWT yang kita sembah dan kita taati pada selama bulan Ramadhan itu juga Allah yang kita taati dan kita sembah di sepanjang bulan selain Ramadhan.

Rasulullah saw yang sunnahnya kita ikuti dan akhlak mulianya kita teladani selama bulan Ramadhan adalah juga Rasullah Muhammad saw yang sunnah dan akhlaknya yang sama juga harus kita teladani selama bulan bukan bulan Ramadhan.

Al – Quran Al – Karim kitab suci yang kita imani dan kita tadaburi dan akrabi selama bulan Ramadhan adalah kitab yang sama yang harus kita imani dan kita tadaburi dan akrabi selama bulan selain bulan Ramadhan.

Dengan pendekatan ini maka di harapkan umat tidak bersedih negatif dengan telah berlalunya bulan Ramadhan. Tetapi justru menjadikannya sebagai faktor yang mensugesti dirinya untuk segera menutupi lubang – lubang yang masih terjadi akibat masih belum termaksimalkannya Ramadhan kemarin dengan segera melaksanakan beragam kegiatan yang akan membawanya menyakini bahwa Allah yang Maha Kasih dan Maha Sayang akan tetap memberikan kesempatan bagi umat untuk nanti bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang dengan semangat dan perasaan penuh harapan akan karunia Allah dan ke-Agungan puasanya.

Bahkan sebagian ulama mengingatkan, agar semangat kita beribadah dalam makna yang seluas – luasnya jangan hanya berhenti di bulan Ramadhan menjadi Ramadhaniyin, tetapi agar semangat beribadah itu selalu bisa dihadirkan sepanjang waktu seperti kehadiran Allah Rabbulalamin yang sepanjang waktu juga, agar kita menjadi rabbaniyin.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Di Rahmati Allah SWT …
Sekarang kita berada di hari – hari Idul Fitri satu dari dua Hari Raya Umat Islam. Hari raya ini Allah hadirkan sebagai spirit bagi umat bahwa mereka mempunyai Fitrah dan mereka bisa kembali kepada fitrahnya tersebut, sejauh apapun perjalanan kehidupan mereka dan sedinamis apapun pasang – surutnya kehidupan mereka Fitrah itu adalah Al – Islam, sebagaimana Rasulullah saw mengingatkan :

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw telah bersabda:
مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar (no. 2658).

Karena merayakan Hari Idul Fitri merayakan tentang kembalinya kita kepada fitrah dan jati diri kita sebagai seorang muslim. Yang oleh Allah SWT dengan hadirnya hari raya Idul Fitri ini menjadi seolah – olah Allah SWT tutup buku dan mengabaikan beragam kondisi yang sudah terjadi sepanjang kehidupan kita sebagai umat manusia.

Seolah – olah Allah SWT ingin menyampaikan kepada kita semua jangan pernah berputus asa untuk kembali kepada fitrah dan mengisi hidup istiqomah dalam fitrah itu, karena dia memang sesuatu yang bisa di kerjakan bahkan dengan semangat kegembiraan dan suka cita, itulah mengapa peristiwa ini di jadikan sebagai satu diantara hari raya umat Islam.

Kita hanya sering memaknai bab kepulangan kepada fitrah ini sekedar pulang kampung dan bertemu dengan sanak saudara. Sesuatu yang tetap menjadi penting di tengah semakin gersangnya kehidupan sosial dan tercerabutnya warga bangsa dari akar tradisi mereka. Tetapi pulang kampung itupun sesungguhnya bisa menjadi wasilah / sarana yang efektif untuk menguatkan kesadaran kita akan fitrah kita sebagai manusia muslim.

Karenanya dengan pulang kampung mestinya yang dilakukan adalah mengembang luaskan semangat hidup yang lebih berkualitas, tetap bisa di jaganya akhlakul karimah sambil tetap di kuatkan relasi antara kita yang di kampung maupun yang pulang kampung sebagai sesama umat maupun warga bangsa yang bisa saling belajar, memberi, menguatkan dan saling menjaga.
  


اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Di Rahmati Allah SWT
Idul Fitri tahun ini juga adalah momentum yang penting untuk dimaknai dalam konteks kita sebagai Bangsa dan Negara. Khususnya bulan Ramadhan ini dalam sejarah Bangsa kita telah terjadi 2 peristiwa yang sangat penting yang menjadi tonggak sejarah Bangsa dan Negara Indonesia.

Dulu pada 9 Ramadhan 1364 H. bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta mewakili Bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sengaja diambil momentum proklamasi di bulan Ramadhan karena keinginan agar kemerdekaan Bangsa Indonesia itu membawa berkah dan rahmat untuk Bangsa dan Negara Indonesia. Itulah yang dikodifikasikan dalam alenia ke 3 pembukaan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Ketika kita juga akan sebentar lagi memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, maka sudah sangat sepantasnya ingatan sejarah ini kita segarkan kembali, agar niatan, motivasi serta perjuangan menghadirkan proklamasi dan memperjuangkannya berhadapan konspirasi sekutu dan pihak manapun yang tidak rela Indonesia menjadi negara yang merdeka serta bangsanya menjadi bangsa yang maju sejahtera, dapat terus di pegangi sebagai spirit dan sekaligus acuan perjuangan dan aktivitas mengisi hari – hari kita sebagai bangsa, di saat – saat sekarang ini dan di waktu yang akan datang.

Apalagi tantangan – tantangan kita sebagai bangsa kedepan memang tidaklah mudah seperti akan segera di terapkannya kesepakatan tentang pemberlakuan ASEAN Community untuk seluruh warga bangsa di ASEAN tahun 2025.

Pada bulan Ramadhan tahun ini tepatnya pada tanggal 11 Ramadhan 1435 bertepatan dengan 9 Juli 2014 kita semua warga Bangsa Indonesia telah melaksanakan kedaulatan kita sebagai rakyat Indonesia dengan memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dengan demikian kita akan mempunyai Presiden dan Wakil Presiden yang baru yang tentu harus melaksanakan janji dan komitmennya untuk Indonesia yang lebih baik, lebih hebat dan lebih bermartabat dan apalagi janji – janji tersebut telah disampaikan secara terbuka kepada seluruh warga Bangsa Indonesia di bulan Ramadhan.

Islam pun sesungguhnya juga mengajarkan tentang Fitrahnya para pemimpin yang bisa diamalkan dengan sifat – sifat dasar para Nabi dan Rasul, yaitu sifat


  • Siddiq (jujur dan bersungguh – sungguh)
  • Amanah (konsisten dan komitmen melaksanakan dan menjaga tugas dan kewajiban)
  • Tabligh (menyampaikan secara baik dan benar segala peraturan kehidupan berbangsa dan bernegara) dan
  • Fathanah ( cerdas dan tanggap / empatik terhadap permasalahn dan potensi warga bangsa dan negara).

Al – Quran juga sering menyebut pemimpin sebagai “Imam“ ( ia harus selalu ada di depan menjadi teladan dan bertanggung jawab penuh untuk kesuksesan amanah yang sedang di emban).

Atau sebagai “Khalifah“ (yaitu pemimpin yang menyadari bahwa ia melanjutkan kepemimpinan selanjutnya, ia tidak akan langgeng dalam kepemimpinannya, dan karenanya dia mempersiapkan kondisi yang kondusif untuk hadirnya kaderisasi kepemimpinan bangsa untuk melanjutkan kepemimpinan yang ada).

Rasulullah saw juga menyebut pemimpin sebagai “Ro’i“ (figur yang penuh rasa tanggung jawab dan bersungguh – sungguh ber empati kepada warga yang di pimpinnya) atau sebagai “Amir“ (pemimpin yang selain bisa tegas / memerintah agar hukum di tegakan dan keadilan di laksanakan tapi dia juga figur yang siap untuk mendengar perintah rakyatnya maupun juga masukan – masukan positif dari lembaga yang berkewenangan.

Ia karena bukanlah seorang yang lemah tapi juga bukan juga seorang yang otoriter. Ia adalah pemimpin yang efektif dan konstruktif.

Sifat – sifat kepemimpinan tersebut diatas jelas sangat masih sesuai dengan sikap yang penting diambil oleh pemimpin baru Indonesia apalagi di tengah tantangan, peluang dan harapan baik di dalam negeri Indonesia maupun posisi Indonesia di tengah warga bangsa dunia. Di tengah suka cita umat Islam di Indonesia, mayoritas mutlak penduduk Indonesia, dengan toleransi yang telah diberikan oleh umat beragama yang lainnya, tentunya di harapkan hingga Idul Fitri (Hari raya kembali kepada Fitrah).

Juga akan menjadi inspirasi yang kuat bagi pemerintahan yang ada sekarang agar dapat mengakhiri masa tugasnya dengan nilai – nilai sesuai dengan Fitrah kepemimpinan yang diajarkan oleh Islam itu, sehingga ia dapat mengakhiri periode kepemimpinan ini dengan khusnul khatimah.

Dan bagi pemerintahan baru yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan yang sekarang, hendaknya juga dapat menginternalisasi pentingnya kembali kepada fitrah kepemimpinan yang diajarkan oleh Islam seperti tersebut diatas sehingga mereka dapat merealisasikan janji – janji dan program yang mereka canangkan serta sukses melaksanakan amanat rakyat yang telah mereka dapatkan dan yang telah sangat diharapkan oleh rakyat untuk dapat diwujudkan.

Dengan pendekatan ini maka antara kita warga Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam tersebut akan terus tersemangati untuk mengamalkan ajaran – ajaran agama sebagaimana sebagiannya disebutkan di dalam ciri – ciri kepemimpinan sebagaimana disebut diatas, juga tentang prinsip – prinsip sebagai rakyat yang oleh Al – Quran dan Al – Hadist juga diajarkan untuk di penuhi seperti prinsip tentang amar ma’ruf nahi mungkar, nasihat menasihati dalam kesabaran dan kebenaran serta prinsip meminta pertanggung jawaban dalam semangat untuk menghadirkan yang baik dan yang lebih baik (Islah).

Dengan di penuhinya hak dan kewajiban dari masing – masing pihak sesungguhnya kita semua sedang menuju kepada terealisir dan terjaganya Fitrah kita sebagai umat, bangsa dan negara.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Di Rahmati Allah SWT

Dan agar perjalanan kita menjaga dan merealisir Fitrah ini dapat kita mudah wujudkan tentunya sebagai Bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa, sudah sangat seharusnya bila kita semua para pemimpin dan rakyat selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT Dzat yang sangat mampu membolak balikan hati / kalbu manusia agar hati nurani kita agar selalu di istiqamahkan untuk selalu dapat kembali dan mengamalkan nilai – nilai fitrah itu.

Agar kita sebagai umat dan bangsa dapat kembali mengamalkan ajaran Al – Quran yang menegaskan bahwa kita adalah umat yang berkeunggulan dan bahwa kita adalah umat yang mempunyai risalah kehidupan yaitu menjadi Rahmatan lil ‘Alamin.

Maka marilah kita tutup Khutbah Idul Fitri ini dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT.

للَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zalim dan kafir.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.”

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 




Silakan klik:  

Assalamu'alaikum wr wb.


Kami segenap Kru Mafaza-Online.Com mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H


تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ


Minal 'Aidin Wal Faizin


Mohon maaf lahir batin; atas "Salah dan khilaf"


"Semoga amal ibadah Ramadhan (shaum, taraweh dll) kita diterima & kesalahan kita di ampuni Allah SWT". Aamiin.


Mafaza-Online.Com





Share this article :

Poskan Komentar