Kamis, 05 Juni 2014

Home » » Prostitusi di Dolly, Siapa yang Diuntungkan?

Prostitusi di Dolly, Siapa yang Diuntungkan?

Aliran uang dari bisnis di Gang Dolly juga dinikmati aparat pemerintah hingga level kelurahan


  
Mafaza-Online.Com | SURABAYA - Tidak semua pekerja seks komersial di Gang Dolly, Surabaya, merasa diuntungkan dengan bekerja sebagai pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Shinta (bukan nama sebenarnya), misalnya, meski sudah lima tahun jadi PSK, ia tak bisa keluar dari wisma karena diikat oleh muncikari yang mengasuhnya.

"Yang paling diuntungkan dari bisnis kenikmatan ini adalah muncikari dan pemilik wisma, Mas," kata salah seorang PSK penghuni wisma New Barbara, di Gang Dolly, kepada Tempo, Rabu, 9 Oktober 2013.

Menurut Sinta, setiap kali melayani tamu, dirinya hanya mendapatkan jatah 30 persen dari tarif yang ditetapkan oleh pengelola wisma. Sementara 60 persennya masuk ke kantong muncikari dan 10 persennya lagi dibagikan kepada calo atau makelar yang bertugas mencari pelanggan di depan wisma.

Dikatakan oleh Sinta, tarif untuk dirinya setiap jam Rp 200 ribu. Dari situ ia mengantongi uang cash dari setiap tamunya sebesar Rp 60 ribu. Tetapi uang itu juga harus ia keluarkan lagi untuk dibagikan kepada pembantu yang mencuci seprai dan baju-bajunya yang digunakan saat melayani tamu. "Jadi bersih untungku hanya Rp 40 ribuan," ujarnya.

Tak hanya itu, Sinta juga harus mengeluarkan uang untuk merawat kecantikan dan membeli jamu-jamuan agar dirinya tetap segar dan cantik. Setiap dua hari sekali minimal dirinya harus mengeluarkan uang Rp 20 ribu untuk membeli jamu tradisional guna merawat bagian vitalnya. "Kalau muncikari, kan, tinggal bayar sewa sama pemilik wisma saja, beres urusan," katanya.

Salah seorang calo di Dolly, Rian, mengatakan memang yang paling diuntungkan dari keberadaan Dolly adalah para muncikari dan pemilik wisma.

"Kalau PSK-nya, sih, sama seperti kita-kita ini," ujarnya.

Karena keuntungan besar itulah, menurut Rian, para muncikari mengikat para anak asuhnya agar tidak bisa lari dari wisma. Caranya dengan memperketat aturan para PSK-nya agar tidak berkomunikasi dengan orang di luar lingkungan.

Para germo juga mengikat PSK-nya dengan membebani mereka utang-utang yang banyak. "Mau gimana lagi, namanya orang cari untung, ya, itu sah-sah saja mereka lakukan," kata Rian.

Seorang kasir di Wisma Jaya Indah, Slamet, mengatakan aliran uang dari bisnisnya juga dinikmati aparat pemerintah hingga level kelurahan. Kepada Tempo, Slamet menunjukkan kupon iuran bulanan berwarna hijau yang disetorkan ke RT dan RW setempat.

Lewat RW, ujarnya, uang itu terciprat ke level kelurahan. Setiap PSK wajib membayar iuran level RT sebesar Rp 3.000 dan level RW sebanyak Rp 100 ribu per wisma. Belum lagi iuran tenaga keamanan setiap harinya sebanyak Rp 30 ribu per wisma.

Semakin banyak PSK dalam satu wisma, iuran yang dibayarkan semakin mahal. Bosnya juga harus menyewa wisma dengan tarif Rp 15 juta per bulan. Bagi hasil antara germo dan PSK sebesar 60:40. Wismanya membanderol PSK seharga Rp 90 ribu per satu jam. Dari hasil itu, Rp 34 ribu masuk kantong PSK, Rp 13 ribu ke calo, dan sisanya jatah muncikari atau germo. Germo-lah yang mengatur soal pembayaran ke RT, RW, dan kelurahan. "Ini sewa, rata-rata pemilik wisma sewa. Setiap hari penghasilan wisma sekitar Rp 1 juta," ucap Slamet.

TEMPO.CO



Silakan klik: 

Share this article :

Poskan Komentar