Selasa, 06 Mei 2014

Home » » PPNSI: Bongkar Konspirasi WTO Tentang Impor Pangan

PPNSI: Bongkar Konspirasi WTO Tentang Impor Pangan

Kampanye WTO yang mengatakan bahwa pangan harus tersedia lintas negara sama saja dengan mengatakan, perdagangan pangan lintas negara tidak boleh ada hambatan


  
Mafaza-Online.Com | AKTIVITAS-ORGANISASI - Kampanye World Trade Organization (WTO) agar pangan harus tersedia lintas negara dengan petani sebagai produsen hanya merupakan akal-akalan untuk menjajah pangan di negeri-negeri berkembang, “Kampanye itu hanya kamuflase,” hal ini di sampaikan Riyono Sekjen DPP Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) di akun twitternya.

Seolah-olah, jelas Riyono, mereka mendukung petani di negara berkembang, padahal tidak.

Riyono mengungkapkan, Kampanye WTO yang mengatakan bahwa pangan harus tersedia lintas negara sama saja dengan mengatakan, perdagangan pangan lintas negara tidak boleh ada hambatan. “Alias bebas sama sekali,” jelas pria yang baru saja lolos terpilih sebagai anggota legislatif DRPD Jawa Tengah ini.

Inilah, tambahnya, cara untuk menjajah negara berkembang di sektor pangan. Lahirnya AOA (Agreement on Agriculture) menjadi indikasi kuat. AOA akan mendorong Korporasi untuk meningkatkan hasil pangan dan petani hanya sebagai produsennya.

“Anehnya, AOA justru mengabaikan petani dengan mengkampanyekan pengurangan subsidi petani di negara berkembang,” ungkapnya.

Riyono menambahkan, Kampanye pengurangan subsidi di negara berkembang justru tidak diikuti oleh negara maju. Studi Cato Institute(2005) menyebutkan bahwa petani dinegara maju menerima subsidi 279 milyar dollar AS atau 30 persen dari pendapatan pertanian mereka.

Petani AS menerima 46,5 M dollar AS atau 18 persen pendapatan pertanian AS, bandingkan dengan petani Indonesia APBN saja tidak ada 2 persen.

“Itulah bukti bahwa negara maju terus mensubsidi petani mereka, padahal di WTO mereka minta subsidi petani di negara berkembang dipotong," ungkapnya.

Jadi, menurut Riyono, keberpihakan WTO kepada petani negara berkembang hanyalah omong kosong.  


PERHIMPUNAN PETANI & NELAYAN SEJAHTERA INDONESIA  



Share this article :

Poskan Komentar