Minggu, 20 April 2014

Home » » Selamat dari Longsor Gunung Everest Karena Berlindung di Balik Potongan Es

Selamat dari Longsor Gunung Everest Karena Berlindung di Balik Potongan Es

Musibah ini terjadi di masa sibuk pendakian gunung Everest. Para pendaki biasanya tiba pada April untuk bisa mencapai puncak gunung tertinggi di dunia itu


  
Gunung Everest di Pegunungan Himalaya, di Nepal | (FOTO: Reuters/Tim Chong).


Mafaza-Online.Com | NEPAL - Jumlah pendaki yang meninggal akibat longsor di Gunung Everest, Jumat (18/4/2014) lalu bertambah menjadi 13 orang. Musibah tersebut merupakan yang paling banyak menelan korban jiwa dalam delapan tahun terakhir.

“Tiga orang lainnya masih hilang dan enam orang mengalami luka-luka akibat longsor tersebut,” kata Madhu Burlakoti Pejabat dari Kementerian Pariwisata Nepal.

Longsor, masih kata Madhu Burlakoti, terjadi di ketinggian 50 ribu kaki dan dari 50 pendaki yang terjebak longsor itu sebagian besar adalah warga Sherpa. Sherpa adalah suku asli wilayah timur Nepal.

Salah satu pendaki yang selamat dari bencana longsor itu adalah Wangdi Sherpa (26 tahun) yang bekerja di perusahaan Summit Treks. Ketika longsor Wangdi tengah membawa 13 turis asal Inggris untuk mencapai puncak Gunung Everest.

“Ketika itu saya dan sejumlah pendaki tengah berupaya membangun basecamp di Camp II,” kata Wangdi.

Dia mengaku beruntung tidak menjadi korban akibat bencana longsor itu.

“Potongan es yang besar tiba-tiba jatuh dari puncak. Saya tidak berpikir bisa selamat. Saya bersyukur  selamat dari musibah itu,” kata Wangdi yang sudah tiga kali mencapai puncak Everest.

Dia dan asistennya terikat dengan tali pengaman, berlindung di belakang potongan es ketika longsor.

“Kami bisa melakukan itu karena kami berada di bagian paling depan. Sekitar 12 orang yang berada di belakang kami juga selamat, tetapi rombongan setelah mereka meninggal,” ungkap Wangdi.

Musibah ini terjadi di masa sibuk pendakian gunung Everest. Para pendaki biasanya tiba pada April untuk bisa mencapai puncak gunung tertinggi di dunia itu.

Suku Sherpa biasanya selalu menjadi pemandu untuk pendaki asing. Belum diputuskan apakah pendakian ke puncak Gunung Everest akan dilanjutkan pascamusibah Jumat lalu. (CNN)




Silakan klik: 

Share this article :

Poskan Komentar