Senin, 21 April 2014

Home » » Proses PKS Mengawal Suara dengan Real Count

Proses PKS Mengawal Suara dengan Real Count

Hanya PKS satu-satunya parpol yang melakukan rekap data real count secara nasional. Salah satu latar belakangnya ialah banyaknya kecurangan dan “pencurian kursi” dari hasil pemilu selama ini
Oleh: Toni Tegar Sahidi 



Mafaza-Online.Com | KOLOM - 2014 Ini adalah pemilu ke 4 yang bisa saya ingat. Pemilu pertama di Tahun 1997 saya masih SD kelas 5. Penulis baru mencoblos di tahun 2009 kemarin. Dari keseluruhan pemilu tersebut, Penulis sempat menjadi tim tabulasi di 2 pemilu diantaranya. Walaupun berbeda penyelenggaranya. Di 2004 Penulis menjadi tim tabulasi KPU, dan di 2009 Penulis jadi tim tabulasi dari PKS.

Tabulasi (Real Count) adalah proses merekap data-data dari form hasil pemilu, disalin kedalam bentuk data komputer, dan diupload ke server pusat. Berbeda dengan quick count yang hanya mengambil data sampling dari beberapa TPS saja, tabulasi melibatkan data seluruh TPS sebenarnya. Salah satu tujuan dari tabulasi real count ini adalah untuk mendapatkan gambaran data utuh “sebenarnya” secepat mungkin, sekaligus berfungsi untuk”mengawal” perolehan suara. Setidaknya, begitulah teorinya. Pada 2004 KPU melakukannya di setiap kecamatan dengan tim data entry padat karya. Di 2009 KPU melakukannya sambil “sesumbar” dengan “Intelligent Character Recognition” yang sayangnya banyak kegagalan. Di tahun 2014 ini Penulis kurang tahu bagaimana mereka (KPU) melakukannya.

Selain KPU, ternyata ada juga pihak lain yang melakukannya. Beberapa parpol melakukannya di 2014 ini secara lokal. Setahu saya, hanya PKS satu-satunya parpol yang melakukan rekap data real count secara nasional.

Perjalanan PKS untuk insiatif melakukan perekapan hasil ini pun mengalami sejarah tarik ulur panjang. Salah satu latar belakangnya ialah banyaknya kecurangan dan “pencurian kursi” dari hasil pemilu selama ini. Baik di 2004 ataupun di 2009.

Eh, “Pencurian Kursi”?

Jika Anda belum tahu, ada 2 metode umum dalam pencurian kursi. Salah satu modus adalah dengan mencuri suara sebuah partai. Menguranginya dari suara aslinya, menjadi beberapa saja, lalu memindahkannya ke partai yang dipilih. Namun itu metode yang rawan, terlebih jika ada saksi dari parpol yang dicuri, wah itu bisa tambah gawat lagi.

Namun pencuri suara tak akan kehilangan akal. Maka salah satu modus “pencurian kursi” ini adalah dengan “mentransfer” suara partai-partai yang perolehannya kecil, yang tidak akan dapat kursi di DPR, yang seringkali tak memiliki saksi, untuk kemudian ditransfer menggelembungkan suara-suara partai lain. Dua kejadian seperti ini umumnya mulai terjadi mulai tingkat kecamatan keatas.

PKS adalah salah satu partai yang pernah mengalami kerugian ini di tahun 2004 dan 2009. Menurut data dari mereka, pada 2009 saja, seharusnya mereka bisa mendapatkan 10 kursi lebih di DPR pusat andai tak ada proses pencurian kursi. Tak, heran, oleh karena itu, mereka pun memutuskan untuk melakukan proses tabulasi sendiri. Dan mereka mulai melakukannya di tahun 2009 lalu…. sayangnya waktu itu terkesan terburu-buru dan kurang persiapan.

Penulis berkesempatan menjadi salah satu data entry dari PKS di Pemilu 2009 lalu. Sebagai pihak yang ikut terlibat, Penulis mengakui bahwa waktu itu ada banyak kekurangan. Mulai dari para saksi yang belum terlatih sehingga hanya mengisi data suara PKS doang (padahal harusnya diisi semua)., data entry yang lama, kurangnya SDM IT di beberapa daerah, dlsb. Namun toh, bagaimanapun juga, hasil yang mereka lakukan dengan sumber dayanya sudah lebih baik dari KPU sendiri yang berkutat dengan kegagalan Intelligent Character Recognition yang disombongkan itu..

Namun, di tahun 2014 ini, Alhamdulillah PKS telah belajar amat banyak dari pengalaman sebelumnya. Tim Tabulasi Real Count nasional telah dipersiapkan jauh hari, dengan sangat matang. Demikian pula dengan saksi telah dilatih dengan sebaik mungkin. Seluruh kader dan simpatisan dilibatkan penuh. Pengisiannya pun tak lagi bergantung dengan entry komputer karena bisa mengunakan SMS. Intinya diharapkan bahwa dari H+3 PKS akan segera mengetahui hasil sebenarnya. Atau setidaknya se-mendekati mungkin.

Mereka benar-benar serius untuk target. Di detik penyelesaian tulisan ini, masih banyak kader dan simpatisan yang tak kenal lelah masih mengentry data-data. Anak-anak muda saling bergantian dengan teman mereka yang tak berhenti terus mengentry data-data rekap form C1 dari TPS. Termasuk di kota Penulis sekalipun. Ada teman Penulis bahkan siang hanya tidur selama 2 jam. Di pertemuan tadi sore ia bahkan sampai tertidur karena tak kuat menahan kantuknya. “Mengawal Suara”, begitu kata mereka.

Dari beberapa sumber terpercaya yang Penulis peroleh, diketahui bahwa hasil real count di PKS ternyata bisa berbeda dari kebanyakan hasil quick count. Jika di quick count berbagai media menunjukkan PKS di posisi ke 6 dengan kisaran suara 6,9%, hasil real count sementara di PKS menunjukkan bahwa mereka berada di posisi ke 4, dengan perolehan diatas 9%.

Hal ini menjadi menarik, terlebih ketika kita tarik ulur kebelakang, dimana sebelum pemilu berbagai lembaga survei tersebut (termasuk yang juga melakukan quick count) hampir semuanya menyampaikan bahwa PKS tidak akan lebih dari 3,5%. Berbagai survei yang diadakan oleh LSI, Kompas, SMRC, LSJ, IRC, dlsb menyatakan PKS berada di kisaran 2,5% saja, alias tidak akan lolos Ambang batas parlemen. Tapi nyatanya hasil “quick count” mereka justru menunjukkan PKS aman di 6,9%.

Terlebih kalau kita lihat betapa “tenang”-nya KPU tidak melakukan tabulasi nasional di tahun ini. Entah apa alasannya, padahal secara teknologi tentu mereka harusnya lebih belajar dari Pemilu sebelumnya yang “buang-buang” anggaran.

Bahkan anis matta, presiden PKS saat ditanya terkait hasil quick count,ia tidak banyak berkomentar, “tunggu hasil real count saja”, begitu ucapnya.

Ada apa diba lik semua ini? Jadi semakin menarik saja.

Terlebih di beberapa daerah, ada mobil PKS yang mengangkut form C1 tersebut dirampok ataupun dirusak.

Kita tunggu saja hasilnya. Setidaknya dalam beberapa waktu ini insya Allah katanya akan ada pengumuman dari DPP PKS terkait hasil tabulasi real count yang dilakukan oleh mereka. Kita tunggu saja hasilnya. Jika benar seperti itu, maka akan tambah menarik lagi pemilu 2014 ini dimana quick count tiba-tiba menjadi tidak reliable.

Wallahu alam bish shawab
<tonitegarsahidi@gmail.com>
Malang, 11/4/2014




Silakan klik:
 

Share this article :

Posting Komentar