Senin, 21 April 2014

Home » » Ketua DPP PPP Ir Aunur Rofiq, Sebaiknya SDA Membuka Komunikasi

Ketua DPP PPP Ir Aunur Rofiq, Sebaiknya SDA Membuka Komunikasi

Alangkah eloknya kalau sebelum ke Gerindra dibicarakan, karena ini partai bukan perusahaan. Kalau Partai Kedaulatan ada ditangan Anggota



Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPP PPP, Ir Aunur Rofiq
Mafaza-Online.Com | WAWANCARA - Jelang Pilpres masyarakat dikejutkan dengan kisruh di partai berlambang Kabah. “Jadi (kisruh) bermula dari Mukernas PPP di Bandung, Februari lalu dan Ketua OC-nya saya sendiri. Jadi insya Allah saya tahu persis tiap kejadian,” demikian kata Ketua DPP PPP, Aunur Rofiq,  menjawab Mafaza-Online.Com, di kantornya Gedung Mayapada, Jakarta, Kamis (17/04/2014) 

Jadi, masih kata Aunur,  di Mukernas Bandung itu ada sedikit perbedaan pendapat tentang deklarasi Capres. Ketum Surya Dharma Ali (SDA) menginginkan setelah Mukernas 7-8 dan 9-nya  itu deklarasi Capres. Sekalian (peringatan) Hari lahir Partai. Tapi, mayoritas DPW menghendaki deklarasi Capres setelah Pileg. “Jadi bukannya tidak setuju SDA mendeklarasikan setelah Pileg,” jelas Aunur.

Lebih lanjut  Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPP PPP ini menuturkan, Lalu SDA diberitahu, tapi dia ngotot seperti itu. Tapi, hasil Mukernas tetap, tidak menghendaki deklarasi (Capres) di Mukernas Bandung. “Pada 9 Februari itu hanya peringatan Harlah saja,” kata Aunur.

Keputusan Mukernas ada tiga, kata Aunur, Pertama, sebagai kader internal, SDA adalah Capres dan Cawapres dari PPP. Poin kedua, beberapa nama yang patut dijadikan Capres dan Cawapres ada 6 orang. Ada Jusuf Kalla, Jokowi, Din Syamsuddin, Isran Noor, Khofifah Indar Parawansa, Jimly Ashshidiqie. Jadi ada 6 orang calon,  Plus SDA jadi ada 7 capres. ”Jadi tidak  ada klausul bahwa SDA boleh menunjuk calonnya, tidak ada!” tegas Aunur.

Poin ketiga, masih kata Aunur, dalam Mukernas itu adalah penentuan Capres dan Cawapres akan dilakukan dalam forum Rapimnas dan akan dilaksanakan setelah Pemilu Legislatif (Pileg). Itu kejadian Februari dan Mukernas pun bubar. Kemudian tiba-tiba SDA hadir dalam kampanye terbuka Partai Gerindra tanggal 23 Maret 2014 di GBK. Padahal di Mukernas tidak ada poin mendekati Prabowo.

Dalam kacamata Aunur, mestinya kalau mau seperti itu, Ketum mengundang teman-teman kumpul dalam sebuah rapat. Semua menyadari perubahan bisa dilakukan setiap saat bisa dilakukan.


“Ini tanpa ba bi bu, tau-tau Pak Surya, Djan Farid dan KH Noor Iskandar SQ , hadir dan berorasi. Itulah yang membuat kebingungan para kader dan (Pengurus) wilayah. Banyak Pengurus Wilayah yang mengatakan saya sudah kerja keras, kok Ketum begini. Rame sekali,” sesal Aunur.

  

Suasana pun memanas, kader-kader DPW sudah ingin bergerak saat Maret itu juga, sebelum Pileg selesai. Mereka diredam, oleh  Koordinator DPW seperti Rahmat Yasin, juga DPP pun ikut meredam. “Apalagi situasinya sedang Kampanye sedang persiapan (pencoblosan) Pileg ndak elok kalau ribut saat itu,” kata Aunur. 

Aunur yang tidak menjadi caleg pun sibuk meredam agar tidak rame, Nah setelah pencoblosan baru meledak, apa boleh buat. Tapi, Aunur meyakinkan, meledaknya itu bukan untuk mencopot SDA. “Mereka (DPW) itu minta komunikasi, biar Pak Surya menjelaskan, maksudnya apa datang ke Gerindra? Kalau penjelasan bisa diterima, selesai. Kalau penjelasan (SDA) salah, sudah minta maaf saja. Simple!” kata Aunur.

Kehadiran SDA di panggung Gerindra memang membuat gamang.  Kehadiran SDA ke Gerindra tak sekadar datang, tapi berorasi, memuji dan mendukung. Apalagi suasana kampanye, datang dengan memakai Jas PPP sudah jadi masalah. “Jadi sebenarnya memang tidak patut. Tapi, SDA berkilah ini benar, ini hak saya, saya kan bukan caleg,” kata Aunur.

Menurut Aunur, sebaiknya SDA membuka komunikasi. Alangkah eloknya kalau sebelumnya itu dibicarakan, karena ini partai bukan perusahaan. Kalau ini perusahaan, terus saya punya 90% (saham) masa bodo dengan yang lain.
  

“Misalnya punya 2/3 persen saja sahamnya, sudah bisa jalan. Tapi ini Partai mas, siapa pemegang kedaulatan? Anggota!” tegas Aunur.

  

Suasana makin panas dengan manuver SDA yang mendatangi sesepuh PPP dan muncul juga surat pemecatan.

Menurut Aunur, biasanya kalau konflik itu kepalanya panas. Selalu dilandasi emosional bukan rasional. Memang kalau dalam ajaran Islam, saat emosi meledak, ambil wudlu shalat. “Sekarang teman-teman itu melakukan ajaran itu atau tidak? Kalau sedang emosi jangan mengambil keputusan,” kata Aunur.  

Aunur yakin keputusan ini (saling pecat memecat) diambil ketika tensi naik emosi.

Apa ada yang memanas-manasi. “Saya tidak tau itu. Tapi saya liat produknya emosional. Saya yakin ini masih masalah internal PPP,” pungkas Aunur. 



Silakan klik:  



Share this article :

Poskan Komentar