Kamis, 03 April 2014

Home » » Gempa 8,2 SR di Chile Tapi `Hanya` 6 yang Tewas, Mengapa?

Gempa 8,2 SR di Chile Tapi `Hanya` 6 yang Tewas, Mengapa?

Chile menerapkan standar bangunan yang ketat. Rumah-rumah, gedung, dan infrastruktur lain tak mudah ambrol akibat guncangan. Tak ada dana pembangunan yang dikorup!


 
PPNSI.Org|CHILE Santiago - Selasa 1 April 2014 malam lalu, rakyat Chile panik. Bumi yang mereka pijak berguncang hebat. Saat itu, gempa berkekuatan 8,2 skala Richter bergemuruh di lepas pantai dan memicu tsunami —meski tak sedahsyat yang terjadi di Aceh.

Namun, meski mengalami bencana sehebat itu, 'hanya' 6 orang yang tewas. Aparat menyebut, 4 dari mereka meninggal gara-gara longsor yang dipicu gempa, listrik yang mati, dan kena serangan jantung gara-gara mendengar soal tsunami. Dua lainnya akibat tertabrak.

Padahal, itu bukan bencana sembarangan. Lindu membuat lebih dari 2.500 rumah mengalami kerusakan struktural di kota pelabuhan Iquique dan sekitarnya. Hampir 928.000 orang diungsikan.

Ketika gempa susulan 7,8 SR melanda Chile Rabu malam. Tidak ada yang cedera apalagi tewas.

Mengapa korban jiwa di Chile relatif sedikit? Jawabannya, negara itu menerapkan standar bangunan yang ketat. Rumah-rumah, gedung, dan infrastruktur lain tak mudah ambrol akibat guncangan. Tak ada dana pembangunan yang dikorup!

Ribuan rumah yang rusak akibat gempa 8,2 SR, sebagian besar dibangun dengan dispensasi standar memakai biaya subsidi pemerintah.


"Chile berada di kawasan seismik aktif di dunia, namun menerapkan standarisasi bangunan yang baik dan ketat. Mirip California," kata John Bellini, ahli geofisika dari USGS seperti dimuat CNN, Kamis (3/4/2014).

"Karena itulah, kita semua menyaksikan kerusakan yang jauh lebih sedikit dari negara lain yang mengabaikan standar bangunan... itu mungkin salah satu alasan tak jatuh korban banyak meski terjadi gempa dengan kekuatan sebesar itu," sambungnya.

Rakyat Chile juga sudah biasa menghadapi bencana. Dan siap. "Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Menganggap bencana bagian dari hidup mereka. Ditambah aturan bangunan yang ketat diterapkan. Mitigasi bencana adalah bagian dari budaya mereka," ujar John

Sebelumnya, pada 27 Februari 2010, gempa dengan kekuatan 8,8 skala Richter mengguncang Chile. Korbannya relatif banyak, sekitar 500 orang.

Sebulan sebelumnya, pada 12 Januari 2010, gempa dengan kekuatan 7,0 skala Richter menggucang Port-au-Prince, Haiti. Akibatnya jauh lebih tragis. Sebanyak 70 persen struktur di ibukota itu rata dengan tanah, 230 ribu orang tewas. Gempa yang lebih kecil dari apa yang terjadi di Chile.

"Dua kejadian tersebut adalah contoh sempurna dari perbedaan aturan pembangunan dan penegakkannya di 2 lokasi berbeda," kata Bellini. "Aturan dalam membangun memainkan peran penting untuk menentukan sejauh mana kerusakan dan kehancuran akibat gempa, juga jumlah korban."

Ring of Fire

Dalam laporan 2011, Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana menyebut Chile sebagai negara dengan aturan pembangunan paling ketat. Pelaksanaannya yang sungguh-sungguh terbukti melindungi warga negaranya dari malapetaka.

Pemerintah Chile juga gencar menyiapkan warganya untuk menghadapi bencana. Sekitar 500.000 orang berpartisipasi dalam simulasi di bulan Mei 2012 di wilayah pesisir Valparaiso.

Laporan PBB juga menemukan bahwa gempa Haiti, yang melanda lebih dekat dari permukaan daripada di Chile, "tidak cocok untuk rumah dan bangunan".

"Di Haiti, selain kurang ketatnya aturan bangunan, rakyatnya tidak memiliki pengalaman sejarah menghadapi gempa besar," kata Bellini. Terakhir kali gempa dahsyat terjadi lebih dari 100 tahun lalu."

Chile terletak di busur gunung berapi dan garis patahan yang mengelilingi Samudera Pasifik --atau lebih dikenal sebagai "Ring of Fire " (Cincin Api Pasifik).

Mark Simons, ahli geofisika di Caltech, Pasadena, California mengatakan, Chile sering mengalami letusan gunung api dan gempa bumi. Sejak 1973, lebih dari 10 kejadian gempa yang kekuatannya di atas 7 skala Richter.

Gempa yang terjadi Selasa lalu berguncang di garis patahan sepanjang pantai Chile yang terus-menerus bergeser dalam 140 tahun terakhir.

Tanti Yulianingsih|Liputan6.com|PPNSI




Silakan diklik:  
 

Share this article :

Poskan Komentar